Gelap bagimu, terang bagiku…

Ada hangat menerpa pipi. Membuat mimpiku bertemu sang bidadari terhenti sudah. Selaksa sinar mentari yang datang dari jendela yang telah terbuka menghangatkan badanku.

Aku perlahan membuka mataku. Dari sekerejap gelap, terbuka semuapun gelap. Pagi ini tak ada bedanya dengan pagi kemarin, kemarinnya lagi, kemarin tahun lalu, kemarin 23 tahun lalu saat aku lahir, masih saja sama. Semua untukku gelap.

Tangan kiriku bergerak. Kira2 selurusan bahu agak geser 20 derajat ke arah kiri. Aku mencari jam. Benda yang sejak kubeli tak pernah kutahu bentuknya itu memiliki tombol di tengahnya, kutekan, dan berbunyi: “Sembilan, dua puluh satu.” Kata sang jam. Hampir jam setengah sepuluh pagi. Canggih bukan. Ya, alat yang sangat berguna untuk orang buta sepertiku.

Dulu ada pengusaha dari Jakarta yang datang ke asrama kami, para tunadaksa. Dia membagi-bagikan alat-alat yang dapat mendukung kehidupan kami. Dari tangan dan kaki palsu, kursi roda, komputer Braille, dan ya jam tadi.

Ah, sudah siang. Tadi aku sudah bangun untuk Sholat Subuh namun tertidur lagi karena lelah. Ada 3 orang berbadan besar aku pijat tadi malam. Ya, aku berprofesi sebagai tukang pijat. Orang terakhir kupijat hingga jam 1 malam. Lumayan, ada total 7 orang kemarin yang aku pijat. Cukuplah untukku menabung.

Asramaku sendiri terletak di sebuah pedesaan maju di pinggiran Kota Sukabumi. Aku sudah 4 tahun disini. Karena disini sekalian Pesantren umum juga.

Orangtuaku berpikir bahwa aku akan lebih bermanfaat bagi orang banyak bila belajar dan bekerja disini. Mereka selalu memberiku semangat untuk tetap berguna walau aku buta. Aku dijemput setiap akhir pekan untuk pulang ke rumahku di kota.

Aku bangun dari ranjangku. Sepi. Tampaknya Gandi, teman sekamarku sudah keluar. Dia ahli elektronik. Tangan kirinya hilang, diamputasi ketika bekerja di salah satu perusahaan elektronik International.

Aku bangun di sebelah kanan ranjangku. Kakiku turun mencari sandal. Aku berdiri, berjalan 2 langkah ke muka, balik badan ke kiri, berjalan 8 langkah, balik kanan 4 langkah, dan kutemukan pintu kamar mandi. Aku hapal setiap jengkal kamar ini. Dan memang harus begitu. Kalau tidak bisa banyak tersandung aku.

Selepas mandi, aku berjalan ke ruang Admin. Sekali lagi, aku hapal jarak-jarak langkah kesana. Bahkan hampir seluruh bangunan di Pesantren ini aku hapal. Jarak langkah, berapa jari, sudut, semua diluar kepala. Semua tampak mudah untukku.

“Hai, Hadi. Assalamualaikum.” Satu suara perempuan menyapaku.
“Wa’alaikum salam, Ibu Fatma.” Jawabku.
“Hari ini lumayan padat nih, Di. Nanti kamu akan diantar ke 3 tempat berturut-turut ya. Lalu nanti malam ada 2 lagi yang pesan pijat. Kamu sudah sarapan?” Tanya Ibu Fatma.
“Belum, Bu. Baru saja bangun selepas subuh tadi saya tertidur lagi. Baik bu, nanti saya siap-siap jam berapa?” Tanyaku.
“Jam 11 saja berangkat. Kamu makan diluar ya, nanti uang makannya saya kasih.” Jawab Ibu Fatma.

Ya, begitulah disini. Kami semua, yang normal dan tunadaksa, diberikan pendidikan, ilmu agama, keahlian, dan pekerjaan. Uang pendapatan kami bagi sama rata. Biar bagaimanapun, Pesantren ini membutuhkan dana untuk menjalankan laju operasionalnya. Itulah timbal balik kami. Kami merasa berguna disini. Dan kami wajib memberikan jasa secara profesional dan menjaga nama baik.

Aku bergerak menuju dapur. Perutku minta diisi. Ada rekanku bagian dapur, lebih senior, Kang Atep namanya. Sudah 7 tahun disini.

“Pagi, Hadi. Baru datang kamu.” Nah, itu suaranya.
Aku tersenyum, “Ya, Kang. Kebablasan tidur.” Jawabku.
“Duduk sini, Di.” Ada suara lain. Aku coba ingat-ingat. Suaranya Kang Parta.
“Kang Parta, sarapan Kang?” Tanyaku.
“Ga, lagi iseng saja. Habis pengajian Subuh, kesini ketemu Kang Atep. Eh, malah keterusan ngobrol. Sini, Di.” Jelasnya sambil mengajakku duduk.
“Iya Kang.” Aku bergerak ke arahnya. Kang Atep membawakannku sarapan nasi goreng. Aku makan, kedua temanku diam. Kami memang diajarkan untuk diam ketika makan.

Selepas makan, aku bersiap-siap. Aku akan diantar motor Pesantren. Tujuanku adalah kawasan Bhayangkara, kawasan sekolah Perwira Polisi. Langgananku banyak disini.

Aku menikmati hembusan angin sejuk Sukabumi di wajahku. Menunggu tibanya aku di tempat yang dituju. Yang mengendarai motor adalah Rizal, santri juga. Dia adalah pasanganku dalam bekerja. Sabar dan sangat pendiam. Kami berbagi rezeki dari uang pijat ini.

Tibalah aku di lokasi. Yang akan dipijat bukanlah perwira polisi, namun karyawan admin. Aku dipersilahkan masuk kedalam rumahnya. Sementara Rizal diluar, selalu begitu, walaupun dia diajak masuk.

“Pijat saja atau refleksi juga, Pak?” Tanyaku.
“Pijat saja ya. Kita mulai?” Jawab bapak itu dan sekaligus bertanya.
“Baik, silahkan bapak tidur tengkurap.” Kataku.

Bapak itu nurut, aku keluarkan minyak urut, aku campur sedikit minyak kayu putih, dan mengoleskannya ke telapak tanganku.

“Bismillah…” Dan aku mulai memijat.

Mataku memang buta, semua gelap bagiku, tapi tanganku tidak, kulitku tidak. Bagiku merekalah mataku. Mungkin sedikit aneh bila kukatakan tanganku bisa melihat, bahkan bisa tembus pandang. Tanganku bisa mengirimkan sinyal electric ke dalam otakku yang mengirimkan balik perintah ke tanganku itu. Memang begitu. Kita buktikan sekarang.

Seketika telapak tanganku menyentuh betis Bapak tadi. Seketika ada aliran listrik pelan namun serabutan yang kurasakan. Seperti ribuan kabel listrik yang terpasang acak-acakan. Tugasku adalah merapikan kabel listrik itu. Sederhana bukan.

Sensor yang masuk ke jaringan syaraf otak, dirubah menjadi perintah untuk sedikit merapatkan jemariku. Ibu jari terlipat sedikit, begitupun jemari lain. Seperti mencengkram. Ujung-ujung jari itulah yang kugunakan untuk melakukan gerakan urut di bagian betis. Semua berdasarkan tanda dari si telapak tangan. Benar kan, tanganku bisa melihat.

Itu berlaku untuk semua area pijatan. Dalam hitungan detik, cengkraman bisa berubah jadi cubitan, remasan, atau sekedar dielus pelan. Kadang lima jari digunakan, kadang hanya ibu jari yang ditekan. Semua terang bagiku.

Mengurai urat-urat dan otot-otot yang sembrawut adalah seni bagiku. Rasa panas yang muncul di awal pijatan hingga berubah menjadi hangat adalah hasil karya besarku.

Aku pulang setelah hampir satu setengah jam berkreasi dengan urat dan otot. Dan setelah selesaikan 2 lagi, aku kembali ke Pesantren.

Aku kembali jelang Magrib. Dan setelah pengajian Magrib, aku kembali ke asramaku.

Tapi sebelum sampai, aku dipanggil Bu Fatma.

“Hadi, kamu harus segera ke rumah Kyai Mahfudz. Beliau sakit. Kamu dipanggil ke rumahnya. Kyai mau kamu memijatnya.” Jelas Bu Fatma.

Kyai Mahfudz adalah salah satu sesepuh Pesantren ini. Keluarganyalah yang menjalankan Pesantren ini. Kyai kharismatik yang disegani di seluruh Kota bahkan Provinsi.

“Baik, Bu. Insya Allah.” Aku menjawab dan segera minta dicarikan Rizal.

“Sakit apa ya Kyai.” Pikirku. Dan kenapa harus aku yang kesana.

Aku tiba di rumah Kyai Mahfudz dan disambut istrinya. Nyai Kyai juga sangat kami hormati.

“Kyai di dalam, kamu temui dia ya, Hadi.” Kata Nyai.
“Baik, Nyai.” Jawabku.

Aku berjalan, dipandu Rizal. Aku masuk ke ruangan yang beraroma harum minyak Kesturi.

“Hadi, masuklah.” Suara berat yang kusuka. Suara Kyai Mahfudz.

Aku duduk disebelah ranjangnya.

“Aku sepertinya terkilir. Tangan kiriku diam tak dapat bergerak seharian ini. Sakitnya dari belakang punggung terus menjalar ke seluruh tangan. Aku yakin kamu bisa membantu mengobatiku.” Kyai Mahfudz menerangkan.

Aku terdiam. “Izinkan saya memegang Kyai.” Kataku hormat.
“Silahkan.” Jawabnya.
“Silahkan Kyai duduk.” Kataku.
Kyai Mahfudz duduk.

Aku bergerak menyusuri ranjang, meraba mencari jemari Kyai. Aku mendapatkannya.

Seketika ada aliran aneh yang masuk ke tanganku. Aliran sejuk sekali. Aku termenung. Diam sesaat. Dan detik selanjutnya semua terang.

Mataku seakan diajak menjelajah setiap jengkal tubuh Kyai. Aku bahkan merasakan sakit yang sama di tubuhku. Setiap ada kurasakan masalah di tubuh Kyai. Di bagian yang sama tubuhkupun terasa sakit yang sama.

Terang sekali kulihat. Ada gumpalan aneh tepat di punggung atas kiri Kyai Mahfudz. Jaringan ototnya berkumpul aneh. Membentuk bulatan yang membuat jaringan lainnya tertarik dan mati rasa. Ini penyakitnya.

Jemari kiriku bergerak. Kuambil jari-jari Kyai Mahfudz dulu. Sementara tangan kananku menempel di pundaknya. Memijat satu titik rongga di sambungan bahu ke lengan. Aku tekan itu, lalu kutarik jari-jari Kyai.

“Trek.” Ada bunyi pelan sekali. Bahkan mungkin hanya aku yang mendengar. Satu jaringan berhasil aku rapihkan.

Jari kiriku bergerak naik. Menuju lekuk siku. Kutekan dua titik di siku. Sementara tangan kanan masih di posisi awal. Kedua tangan saling menekan.

“Trek.. Trek..” Jaringan lain selesai.

“Boleh Kyai membuka pakaian sebentar?” Tanyaku hormat.
“Baik.” Jawab Kyai sambil membuka pakaian atasnya.

Sekarang aku bergerak ke punggung. Jemariku bergerak diatas lapisan kulit Kyai, bergerak seperti radar ranjau. Cepat, dalam rangkaian seperti menotok namun tidak menekan, inilah metode pencarianku.

Tubuh Kyai seakan memantulkan aliran ke ujung jemariku. Seperti berkata: “Ini aman.”, “Ini sakit.”. Seperti itu, terang dan jelas sekali.

Di bagian belikatnya aku rasakan hawa panas. Ini pusat sakit Kyai Mahfudz.

“Pijat titik di kakinya.” Suara kecil di kepalaku.

Nah, itulah sensor balik di terangnya pikiranku.

Aku bergerak ke arah kaki Kyai. Meraba sela antara jari telunjuk dan tengah kakinya. Aku tekan bagian bawahnya, pelan saja. Kyai sedikit meronta. Aku teruskan pijat titik itu. Lalu beberapa titik di kaki Kyai.

Aku maju ke betisnya. Lalu memijit titik tengah betisnya. Aku minta Kyai tidur tengkurap.

Seraya ibu jari tangan kananku menekan titik tengah betis Kyai. Ibu jariku yang lain menekan punggung Kyai tepat di lipatan belikatnya. Aku berdoa agar pekerjaanku dilancarkan.

Ibu jari tangan kananku bergerak ke punggung bawah Kyai. Aku gabungkan kedua ibu jariku dari titik itu dan aku urutkan dari bawah keatas.

Sensor-sensor ajaibku bekerja. Seakan bekerja diatas rangkaian kabel yang acak, aku coba luruskan kabel-kabel itu ke arah punggung atas, sampai di lipatan belikat.

“Trektek…” Suara-suara pelan terdengar di telingaku.

Di titik belikat Kyai. Aku kembangkan tanganku. Memijat menyebar dengan gerakan cepat. Meluruhkan kabel-kabel kusut di tubuh Kyai. Sensor-sensor aliran bergerak cepat di pikiranku. Aku buta, tapi aku bisa melihat terang dengan tanganku.

Aku pegang tangan Kyai. Aku pijit titik tengah telapak tangannya. Aku angkat keatas seperti anak kecil mengacungkan tangan menjawab pertanyaan. Sambil aku gunakan jari tengahku menekan titik di belikat Kyai.

“Trek!” Aku goncangkan cepat tangan mengacung itu dalam tarikan cepat.

Kyai mengaduh pelan. Selesai.

“Kyai, boleh coba gerakan tangan Kyai?” Aku bertanya. Sambil menyentuh tangan Kyai pelan. Aku kan harus tahu juga apakah tangannya bergerak atau tidak.

Ada gerakan pelan, jemarinya. Lalu lengan bawahnya, dan lengan atasnya ikut bergerak pelan. Kyai mengangkat tangan kirinya.

“Bisa bergerak, Hadi. Alhamdulillah…” Kyai Mahfudz berkata riang.
“Alhamdulillah.” Kataku juga.

“Terimakasih, anakku. Berkah dunia akherat untukmu, digampangkan rezekimu, dimudahkan semua jalan keinginanmu.” Kyai mendoakan aku yang kujawab Amin berkali-kali.

Dunia ini gelap untukku. Aku tak tahu bentuk dunia ini sama sekali. Tapi dalam beberapa hal. Aku bisa melihat lebih terang dari siapapun di dunia ini.

Gelap bagimu, terang bagiku…

*****
(Bekasi, sambil nunggu tukang pijat)

Advertisements

Lari, Narto…!!!

“Lari, To!”
“Cepat lari!!!”

Teriakan demi teriakan membahana di siang membara itu. Sekelilingku hanya suara keras, berserabutan dengan debu-debu yang muncul di sekelilingku.

Sesak nafasku. Tiba-tiba satu tangan keras menarik kerah bajuku.
“Lari, Narto!!! Jangan bodoh begini!!” Serunya keras tertahan.
“Uhuk uhuk.. ” Aku terbatuk. Pusing kepala ini. Aku tertarik, mencari keseimbangan, dan mengikuti arah tarikan.
“Tunggu sebentar, Nar.” Kataku pada Danar, sosok yang menarikku.
“Tunggu artinya mati. Cepat!” Katanya.
Aku diam, mulai seimbang, dan berlari.

Siang itu, di ujung Pelabuhan di Utara Jakarta. Sekelompok kuli angkut diserang preman Pelabuhan. Para preman dendam karena salah satu anggota secara tidak sengaja tersenggol motor tua salah satu kuli ketika dia tengah lari sehabis mencopet. Preman itu mati setelah senggolan motor itu membuatnya jatuh dan tergilas truk.

*****

Aku terengah-engah. Dadaku naik turun. Mulutku terbuka, dahaga. Disebelahku Danar tak kalah kusut. Dia tertunduk, menghela nafas-nafas berat.

“Mereka ma..masih meng..ngejar?” Tanyaku pada Danar tersenggal-senggal.
Danar diam, menghela nafas panjang, lalu menggeleng.
“Mana kutahu.” Jawabnya.
“Apa yang terjadi, Nar?” Tanyaku lagi.
“Diam!!! Bisakah kau simpan pertanyaanmu nanti, Narto.” Danar emosi. Mukanya merah padam. Tampak bingung sekali. Aku paham. Aku sekarang hanya bernafas.

Kami bersembunyi di salah satu sekat bekas rumah kardus. Atap kami langsung langit, panas sekali. Lari membuat dahaga semakin membara. Sekelilingku hanya sampah. Dimana mencari air?

“Cari terus!!! Habiskan!!!” Satu teriakan mengejutkan kami. Ya Tuhan, mereka datang.

Berpencar dalam jarak agak jauh. Kurang lebih 8 orang, para preman itu hanya 200m dari persembunyian kami. Gerakannya tangkas, semua memandang 8 arah berbeda. Berputar, mencari, garang sekali.

Aku memandang Danar yang juga memandangku. Persembunyian kami hanyalah sekat. Di depan kami lapang luas. Bila kami berlari, maka terlihatlah kami. Perkampungan ada didepan sana. Bila masuk perkampungan, amanlah kami. Pilihannya hanya lari.

Danar menggertakan giginya. Terlihat sudah pikirannya kalut. Akupun juga. Terjebak dalam pertanyaan: Ada apa? Kenapa?

“Kita harus lari, Nar. Mereka makin dekat.” Kataku pelan.
Danar diam. Matanya lurus menatap mataku. Dan tanpa ada komando, Danar bangkit dan berlari meninggalkanku.

“Itu!” Satu suara datang. “Kejar dia!” Suara yang lain.

Danar sudah 15m didepanku. Aku panik, sendirian. Detik-detik yang begitu lama. Aku bingung.

Suara-suara langkah kaki beradu hembusan angis panas dan debu jalanan mendekat.

Aku panik, dan tanpa pikir panjang, aku berdiri, bingung memutar arah, aku berlari. Hanya lari. Tak tahu kemana.

Arah tak lagi aku kenal. Danar kemana, aku tidak tahu. Aku panik sangat. Aku hanya berlari.

Mereka mengejar. Berteriak menyurutkan nyali. Aku yang paling dekat dengan mereka.

Aku lari dan terus berlari. Pikirannku kemana-mana. Pikiranku tiba-tiba tertuju pada satu titik…

“Pak, Bu. Narto takut.” Pikiranku kalut. Muka Bapak dan Ibu jauh disana memenuhi kepalaku.

Aku tak melihat jalan, aku hanya berlari. Lalu aku tersandung. Dan jatuh.

Badanku terbentur kerasnya jalan. Dan mereka semakin dekat. Jarak 70m dibelakangku.

“Bangun, Narto.” Ada suara di otakku.
“Bangun, larilah.” Suara lain yang sangat kukenal.

Aku cari arah suara, didepan sana. Ya didepan sana. Dalam putaran pening kepala, kulihat Bapak dan juga Ibu. Tangan Ibu merentang, sementara Bapak disebalahnya memanggilku.

“Pak, Bu.” Aku berseru pelan.

Aku bangkit, berdiri, dan lanjut berlari.

Aku berlari kearah mereka, tanganku tergapai. Mencoba segera menyentuh mereka.

Namun aku melambat. Ada lemas dikakiku. Ada rasa lain di kepalaku. Kenapa tiba-tiba begini. Aku melemah. Lariku semakin lambat, lambat, lambat, diam, berhenti, lalu tersungkur.

Badanku kembali menyentuh bumi. Coba mencerna apa yang terjadi. Pikiranku hanya berputar. Ada rasa panas menjalar dan lama-lama terasa perih, dan semakin perih.

Tanah membasah. Keringat? Bukan. Ini merah. Mataku yang mengintip melihat kebawah. Ada merah di perut kiriku. Basah. Aku berdarah. Perih sekali.

“Uhuk…” Aku terbatuk. Merah juga. Aku semakin lemah.

Darah itu semakin banyak, tak kuasa aku membendungnya. Rasa perih di perutku berubah rasa panas luar biasa. Jemariku kaku, memutih. Aku sekarat.

“Tidurlah, Narto.” Suara pelan terdengar di telingaku. Aku coba membuka mataku yang berat sekali. Dalam keremangan putih cahaya. Aku melihat Ibuku, aku melihat Bapakku. Dua orang yang sangat kucintai dan sangat kurindukan.

“Pak, Bu. Narto pulang.” Melemahku, seiring jalaran rasa dingin dari jemari kakiku dan bergerak ke arah perutku lalu tenggorokanku.

Aku berhenti berlari. Dan tak akan berlari lagi…

Rumah…

Jumat Malam..
Dua pasang tangan tua itu menyambutku dengan haru, ada getir dan getar yang kuat yang tersekat di tenggorokan saat melihat mereka tersenyum melihat kedatanganku dengan istri tercintaku..Serasa ingin kutumpahkan tangis di pelukan mereka.
Ka, uih oge..(Ka, pulang juga..)” begitu kalimat mereka. Mereka sambut aku dan istriku penuh rasa bahagia, padahal waktu sudah sangat malam. Aku rindu mereka, rindu orangtuaku, rindu rumah…sangat…

Sabtu seharian…
Kuhirup seharian wangi rumah. Kuraba setiap jengkal tempat yang membesarkan aku ini. Kurasakan getaran-getaran magis yang diberikan oleh tempat ini..
Tidak ada tempat terbaik di dunia ini selain disini..Di rumah ini..
Dari fajar hingga menjelang senja kuhabiskan waktu untuk menikmati sensasi rindu akan tempat ini. Aku rindu…Sangat..sangat rindu…

Dan kenapa waktu terasa begitu cepat..Kenapa tega benar..Aku masih rindu…
Masih sangat rindu..

Sabtu malam..
Enggan kupenjamkan mata..Enggan kuakhiri hari dalam haru ini. Besok aku harus tinggalkan lagi tempat ini..Mau kuapakan rasa rinduku..Dia masih terasa kuat di setiap sendi badanku.. Mau kuapakan..Aku masih rindu..

Minggu…
Segera kukuatkan hati. Mencoba jadi lelaki sejati. Kembali akan berjalan di kehidupan nyata..
Semua terasa berat. Sekat di tenggorokan kembali terasa kuat. Bahkan terasa lebih berat 10x lipat. Aku coba kuatkan diri. Menahan haru melihat bagaimana orangtuaku masih mencoba menahan kami agar jangan pergi.
Mereka memasak masakan kesukaan kami. Mereka menahan kami dengan berbagai cara. “Besok saja..” Pinta mereka dengan sangat dalam lirih.

Ya Tuhan.. Betapa berat haru yang kutahan. Tapi asa, cita-cita, istri, dan kehidupan nyata harus tetap kutempuh.. Aku harus pergi..
Mereka melepasku dengan haru, ada cekat luar biasa di tenggorokan..
Pintu rumah seakan gerbang sempit yang harus aku masuki, sangat berat.. Mereka melambai, menahan haru, masih mencoba menahan kami pulang…

Rumah..Aku pergi lagi..

Tangis itu keluar dalam langkahku membelakangi rumah untuk pergi.. Terus menangis.. Aku masih terlau sangat rindu..

Aku pergi bukan untuk menghilang.. Tapi untuk hidup.. Aku pergi bukan untuk pulang.. Karena pulang buatku adalah hanya satu, yaitu ke rumah ini…

Aku akan sangat rindu..
Rumah..
Tunggu aku pulang lagi…

Ayahku berbicara…

Ada kalanya kita harus belajar dari diamnya seseorang. Ada kalanya juga kita harus faham makna dibalik diamnya seseorang… Seorang gadis yang dilamar oleh seorang pemuda, lalu ketika ditanya mau atau tidak dia malah diam sambil mesem-mesem, kadang langsung diartikan “Iya”.. Sedangkan kalau dia diam, sambil mata sedikit berkaca-kaca, lalu kemudian terisak-isak, bisa berarti “demi lunasnya hutang ayahku kulakukan ini”…

Ayahku seorang yang periang sekaligus pendiam. Gabungan yang unik dan jarang. Sekali dia cerita lucu, kita bisa terpingkal-pingkal. Dan dia apabila akan melucu sama sekali tanpa pembukaan, langsung saja cerita.. itu juga yang membuat ceritanya makin lucu..

Tapi dia juga pendiam, bicara hanya yang penting saja, yang efektif, tidak suka basa-basi… Ketika emosipun dia tidak bicara, dia hanya diam. Dia tidak pernah marah, sesalah apapun anaknya. Ketika dia tau anaknya salah, dia hanya diam sambil mengusap kepala. Sungguh, itu lebih membuatku malu akan kesalahanku dibanding mungkin kalau dia marah-marah.

Dan sekarang ayahku semakin pendiam. Sakit di mulutnya yang akut, syaraf mukanya yang rusak gara2 dicabut ketika sakit oleh dokter gigi terkenal di kotaku namun bodohnya minta ampun itu, membuat Ayahku menderita sakit, yang membuatnya jarang bicara.

Aku rindu ayahku…

Di dalam rinduku, kukumpulkan lagi ilmu2 darinya ketika dulu dia sanggup bicara. Ilmu2 yang senantiasa akan kupegang sebagai panduanku hidup dan akan kembali kuajarkan pada anakku kelak. Ayahku pernah berbicara:

1. “Hidup itu sederhana saja, cukup. Jangan berlebih apalagi kekurangan. Karena apa yang kamu punya akan kamu pertanggung jawabkan kelak di Akherat… Saya bisa belikan kamu barang2 mahal setiap hari seperti yang teman2 PNS saya lakukan kepada keluarganya. Namun saya tidak akan mendidik kamu begitu. Dan harta yang saya berikan kepadamu adalah halal. Sederhana saja dalam hidup…”

2. “Jangan takut kamu tidak mendapatkan rumah kelak. Keong saja Allah berikan rumah, masa manusia tidak…”

3. “Hidup itu harus punya dua saku.. Saku berisi Tauhid, masukan tangan kamu kesitu, dan jangan dilepaskan. Sedangkan saku kiri isinya kehidupan sosial, sesekali saja tanganmu dimasukan ke saku, sisanya biarkan bergerak mencari kehidupan…”

4. “Kalau ingin mengetahui harga dari seseorang -andai sekali waktu kamu menjadi pengusaha- Kerjakan dulu apa yang dia kerjakan untukmu. Maka kau akan tahu berapa harus membayarnya…”

5. “Bila kamu ingin menjadi pemimpin yang mau agar semua orang menurutimu juga mematuhimu dengan ikhlas.. Contohkan dahulu dan lakukan sendiri dahulu.. Karena apa yang dilakukan orang2 dibawahmu, bisa jadi karena apa yang kamu lakukan dan contohkan juga. Jadilah disegani, jangan mau ditakuti…”

6. “Jangan bicara tentang suatu masalah, apabila kau tidak mengetahui masalah itu benar2 atau hanya mendengar dari salah satu pihak. Anggap saja kau jadi orang yang dibicarakan, apa perasaanmu…”

7. “Sabar…sabar…sabar… Jangan pernah punya batasan untuk kesabaran…”

Ini baru 7 poin dari ilmu2 yang dibicarakan oleh ayahku, dari ribuan bahkan jutaan yang semua sudah jadi memori dan aktualisasi dalam hidupku…

Setiap kata-katanya, indah, simple, efektif…

Salah satu keajaiban terbesar dalam hidupku… Rd. H. Andy Ruswandy

Tobat Satu Jiwa

Berteriak satu jiwa dalam kefatamorganaan akal pikiran.
Protes pada ketidakadilan penampilan kehidupan yang berbeda-beda.
Meratapi tampilannya di cermin yang compang-camping.
Dan mengutuki penampilan berkilauan yang lewat di depannya.

Dia buka kitab suci, mencari ayat-ayat kekayaan.
Tak dijumpainya…
Dia tiba di hadapan satu kenyataan bahwa dia tercipta memang berbeda.
Semua berbeda…

Inikah adil?
Inikah takdir?
Inikah yang harus diimani?

Compang-camping tak pernah dipilihnya.
Buruk rupa tak pernah diingininya.
Bukan ini yang diimpikannya…

Tersungkur dia dalam abu ketabuan…
Dia sadari adanya kesalahan…
Bukan dari siapa-sesiapa…
Tapi dari dirinya sendiri.

Dia kuliti sejarahnya, dibuka sekujur tubuhnya…
Diburaikannya seluruh isi pikiran dan kepalanya.
Dikelupasnya seluruh urat nadi awal kehidupannya.
Menjadi berlembar-lembar kata-kata…

Bukan Tuhan…
Bukan Tuhan yang mencompang-campingkannya.
Tapi dia sendiri…
Dia sendiri yang menyungkurkan seluruh bagian nafasnya dalam kenistaan.
Lupa akan nikmat, sombong akan mukjizat…

Menangislah ia.. Satu jiwa…

Second Chance…

Ahhh… Panas benar hari ini. Padahal jalan dimana kakiku melangkah saat ini terletak di Kota Bandung, kota yang terkenal karena kesejukannya. Aku bingung…

Aku hapus keringat di keningku yang terus muncul, dari berupa bulir-bulir sampai akhirnya mengalir begitu saja, terus menerus.

Dari daerah Setiabudi aku menuju ke pertigaan Cipaganti dengan tetap berjalan kaki. Lelah juga aku berjalan hampir 2 km dari simpang Gegerkalong. Tapi mau bagaimana lagi, uang di celana jeans bututku tinggal 1000 perak, mana cukup untuk ongkos angkot atau bis kota. Untung jalan yang kutempuh ini menurun jadi lumayan mengurangi beban di betisku.

Sudah 2 tahun aku tinggal di kota ini, meninggalkan kota asalku untuk sekedar menaikan statusku menjadi seorang mahasiswa. “Posisi” yang teramat sangat terhormat di kampung asalku. Setidaknya nanti bila aku lulus, orang akan beramai-ramai memanggilku “Pak Sarjana atau Dik Sarjana”. Dengan gelar itu, aku mungkin akan jauh lebih dikenal seantero kampung dan menjadi salah satu obrolan para ibu sebagai calon menantu idaman, atau juga akan langsung dicalonkan sebagai Kepala Desa! Hebat ya kampungku. Tapi andai saja mereka tahu…

Aku berhenti sejenak dibawah sebuah pohon yang lumayan rindang didepan sebuah restoran cepat saji yang terkenalnya sampai ke seantero jagat. Lumayan juga angin yang berhembus ini, walau tak sedingin AC tapi cukuplah untuk membantu mengeringkan peluh.

“Istirahat Kang?”

Sebuah suara mengagetkanku. Aku berpaling ke arah suara. Tampak seorang pemuda kurus kering. Akupun kurus, tapi tak sekurus dia. Mukanya putih agak pucat, usianya hampir sebayaku. Rambutnya gondrong sebahu. Di bawah bibir sebelah kiri dagunya ada tahi lalat sebesar kelereng. Dari pakaiannya, nampaknya dia juga seorang mahasiswa. Kaos tipis plus celana jeans belel yang ketat ke arah betis, dan sebuah tas yang lebih mirip kantong sayuran yang tergantung di bahu kanannya. Ada inisial huruf “J” di tas itu. Ah, sebuah penampakan yang semakin menjadi mitos saja.

Aku awalnya tak menyadari kapan ia ada di belakangku, tapi sudahlah, mungkin tadi aku terlalu letih untuk diriku hingga tak sadar akan sekelilingku.

“Iya, panas juga hari ini ya?” Jawabku.
“Yaa kalau tidak panas bukan Bandung Kang..hehe.”
“Hehe.. Iya juga. Aneh ya, Kota Kembang koq jadi begini. Katanya dulu sejuk bener.”
“Habisnya sudah banyak mobil plat B kesini, jadi hawa panas Metropolis ikut terbawa.. Hahaha.”
“Bisa jadi begitu.. Bandung sudah jadi milik semua. Saya Kamal..”
“Oh ya lupa, Jo..”
Dia mengulurkan tangan kanannya. Kurus sekali tangannya. Rawan juga mengepalnya, takut patah.
“Kuliah dimana Jo?”
“FIKOM Padjadjaran, angkatan 2003. Akang?”
“Saya di Keguruan Ekonomi UPI, angkatan 2002.”
“Wah, udah mulai nyusun dong?”
“Harusnya begitu. Haha.. Tapi gimana ya, saya agak rajin.”
“Agak rajin? Banyak malesnya dong?”
“Biasa…hehe.”

Dia tidak tertawa. Muka ramah itu mendadak hilang. Aku jadi sedikit bingung, takut salah bicara.
“Saya sebenarnya sudah mulai nyusun, usulan masalahnya sudah disetujui, tapi….”
“Dosennya rese?” Tanyaku memotong.
“Ah tidak, dosennya lumayan ngerti. Ga seperti di Universitas lain, kadang ada dosen yang bahkan kayaknya tidak mengerti Hak Azasi Manusia, bukan rese lagi, tapi kejam! Dia ga sadar kalau ada nasib manusia di tangannya. Ada harapan besar dari sepasang orangtua, saudara di kampung halaman. Tapi sang dosen bisa dengan mudahnya memutus itu.” Dia menjelaskan itu dengan tatapan kosong ke depan.
“Pengalaman pribadi nampaknya?” Tanyaku sambil tersenyum.
“Maaf…”
“Ah, ya itulah kondisinya. Tapi kasus saya lain. Saya bukan tipe mahasiswa baik-baik. Sama sekali tak pantas menyandang predikat “masa depan” bangsa.”

“Akang pemakai ya?” Tanyanya tanpa tedeng aling-aling padaku. Tanpa melihatku. Aku kontan tersentak.
“Bagaimana… kamu tahu?”
“Senasib. Barang-barang setan itu sudah banyak menghapus mimpiku.” Katanya dengan memberikan pandangannya yang kosong ke depan. Mungkin itu gaya dia agar lebih mendramatisir suasana. Dan dia memang berhasil.
“Akang harus berhenti.” Tambahnya singkat. Aku semakin keheranan. Usulannya memang oke, aku bahkan hampir mendapat usulan yang sama 3x sehari dari pacarku, yang tetap setia walau cowok idamannya bukanlah “manusia” tapi kerangka berdaging yang tinggal menunggu mati.
“Maaf…” Kataku.
“Akang harus berhenti. Sebelum terlambat Kang. Saat kesempatan itu masih ada, Akang harus pakai kesempatan itu.”
“Iya..tapi…”
“Akang hidup ga sendiri, Akang bawa darah orangtua Akang, yang aku yakin selalu mendoakan Akang kapanpun, dimanapun, sedang apapun. Akang bawa sebuah harapan besar dari mereka. Akang juga punya hidup yang harus diurus di masa depan, tapi bukan dengan modal ini Kang. Akang punya kesempatan untuk menetukan masa depan Akang.”
Jo berbicara begitu dengan tetap memandang ke depan, benar-benar dramatis.
“Iya, saya tahu. Tapi kamupun juga pasti tahu bagaimana sulitnya menghentikan sakit ini. Saya sudah mencoba, namun tidak pernah berhasil. Yang saya tahu, badanku makin hancur. Ibarat nyawa yang dilembar-lembar, mungkin aku tinggal menyisakan beberapa lembaran tipis. Tapi… Kamu…”
“Kang, hidup itu cuma sekali. Benar kata orang kalau kita harus menikmati hidup. Tapi ga semua yang nikmat itu menambah usia dalam hidup Kang. Kadangkala yang nikmat itulah yang memperpendek langkah. Selagi ada kesempatan Kang, Akang harus segera berhenti.”

Dan di akhir kalimat itu, Jo menoleh. Seketika aku melihat raut yang nyaman untuk dilihat. Aku baru bertemu Jo, namun seakan-akan aku sudah mengenalnya lama sekali. Wajah itu sungguh menyejukan.

“Saya tahu, saya baru kenal Akang, kita belum 30 menit kenal. Mungkin Akang marah dengan sikap saya, atau bertanya-tanya apa maksud saya di balik ini. Hanya saja, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengingatkan Akang tentang kesempatan kedua. Karena saya tidak mendapatkannya.”

Aku terhenyak. Baru dalam hidupku, ada orang yang baru aku kenal, yang bahkan aku sendiri tidak tahu siapa, apa, bagaimana dia. Tapi jujur, baru kali ini nasehat tentang hidupku bisa aku terima. Kebanyakan aku mengacuhkan nasehat kolot seperti ini.

“Jo… Saya…”

Jo tersenyum. Mengulurkan tangannya kepadaku.

“Waktuku tak lama Kang, saya pulang dulu ya. Lama-lama makin panas disini, hanya nampaknya saya harus membiasakan diri dengan hawa panas. Hehe.”

Matanya mengerling sebentar kepadaku dengan sedikit senyum di bibirnya. Aku terdiam, mencoba mencerna maksud di balik kata-katanya yang terakhir.

“Jangan sia-siakan kesempatan ya Kang. Siapa tahu Akang ga punya itu kesempatan kedua.”

Dan Jo pun pergi. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang makin lama makin menghilang.

Aku menghela nafas, mencoba mencerna pengalaman barusan. Aku tersenyum, pikirku kemudian Jo adalah malaikat yang sedang menjelma sebagai manusia, atau manusia yang ingin seperti malaikat, atau juga setan yang menyamar sebagai malaikat. Ah, biarlah, toh kata-kata dia ga ada yang salah.

5 menit kemudian, setelah bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja. Aku beranjak untuk kembali berjalan ke arah Cihampelas.

10 menit kemudian aku sudah menyusuri jalanan yang terkenal ini. Kali ini dengan tambahan air mineral gelas di tangan kananku. Lumayan, aku masih menyisakan gope di saku celanaku. Hingga tiba-tiba aku melihat kerumunan di depan. Ah, mungkin copet pikirku. Tapi aku tergerak untuk mendekati.

Aku sibak kerumunan itu, orang-orang menambah bising suasana. Dari obrolan bising itu aku tahu bahwa ada orang pingsan atau tidur di pusat kerumunan itu.

Aya naon, Pa*?” Tanyaku ke salah seorang bapak-bapak di kerumunan itu.
Eta cenah aya nu pingsan, ngagoler we dina korsi kios roko. Cenah mah ti weungi tadi didinya. Mung teu aya nu wantun ngagugahkeun, da dianggap nuju kulem. Nembe bieu warantuneun nyaketan. Tapi siga nu teu pingsan nya. Da teu oyag kitu, jeung mani ngabudah bahamna . Ah, boa-boa nu Overdosis eta mah…*” Jawabnya.

“Dia mati… sudah mati… Panggil Ambulans…” Suara salah satu orang disitu. Malang benar nasib dari yang meninggal itu. Tergolek tak berdaya di pinggir jalan. Ditonton orang, diobrolin dengan jelek. Sebuah tempat dan kondisi yang tak pernah kuinginkan untuk meregang nyawa.

Aku makin menyeruak ke dalam kerumunan, semakin penasaran. Aku ingin melihat.
Hingga…

Sosok yang meninggal itu sangat kurus, rambutnya gondrong sebahu. Dibawah bibir sebelah kiri dagunya ada tahi lalat sebesar kelerang. Pakaiannya kaos tipis dengan celana jeans ketat. Dan di tangannya tergenggam tas yang lebih mirip dengan tas sayuran. Ada inisial huruf di atasnya. Hurufnya “J”.

“Jo…”

***********

*“Ada apa, Pak?”
*“Itu katanya ada yang pingsan, tergeletak begitu saja di kursi kios rokok. Dari tadi malam katanya disitu. Hanya ga ada yang berani membangunkan, karena dianggap tidur. Baru barusan pada berani mendekat. Tapi seperti yang tidak pingsan ya, tidak bergerak gitu. Mulutnya juga berbusa. Ah, jangan-jangan yang Overdosis itu…”

Pap…

Pap…
Darahmu yang mengalir di darahku berdesir panas malam ini.
Ini yang ke milyaran kali…
Aku tahu, kau tengah merindu. Seperti akupun merindumu..

Pap…
Aku melemah setiap waktu lama menjauhkanku darimu..
Aku terjatuh setiap masa menerbangkanku jauh dari pelukmu.

Aku tengah teringat padamu… Pap..

Aku pernah melihatmu berdiri kokoh diatas. Dan kau tetap bersahaja..
Aku pernah melihatmu jatuh tersungkur. Dan kau tetap beryukur.

Kau tak memberiku dunia berlebih ketika kau tengah menguasai dunia.
Itu membuatku belajar untuk tetap menunduk.
Kaupun tak mengajarkanku menangis ketika kau tak memiliki apa-apa.
Itu membuatku belajar untuk tetap tegar.

Tak pernah kau mengatakan “Tak ada” ketika aku meminta, walau kau tengah tak berdaya.
Kau berjalan, berlari, mencarinya agar itu ada untukku, walau mungkin itu tak cukup.
Tapi kau berusaha…

Dan tak pernah pula kau mengatakan “Ada” ketika aku jumawa.
Kau tahan, kau bentengi akau ketika aku merasa bahwa dunia ini seakan aku telah taklukan..
Kau selalu mengingatkan…

Pap..
Tak pernah kau mengumbar murka…
Kau diam, ketika aku salah, kau hanya Kau diam, ketika aku salah, kau hanya pandangiku.
Aku selalu malu ketika kau lakukan itu.
Malu itu yang membuatku selalu menahan diri melakukan salah dihadapanmu.
Malu itu yang membuatku sangat menghormatimu..

Pap…
Kau ajariku menahan sakit..
Kau ajariku menahan perih..
Kau ajariku memberi..
Kau ajariku menerima..
Kau ajariku senyum..
Kau ajariku bersabar..
Kau ajariku bersyukur..
Kau ajariku hidup..

Dalam setiap langkahku, kuminta doamu.
Dalam setiap nafasku, kuminta berkahmu…

Dalam doaku malam ini untukmu, kesehatanmu, panjang umurmu…

Pap..
Darahmu yang mengalir di darahku berdesir semakin deras.
Aku sangat merindumu…

*Special for my father (Rd. H. Andy Ruswandy)