Ridwan yang benar-benar pulang…

Bandung pagi ini seperti biasa dingin sekali. Dengan cuaca begini, pantas saja angka penjualan AC di Bandung selalu ada di level adem ayem.

Mataku sudah terbuka sejak 30 menit lalu. Badan yang memang sudah terbiasa bangun jam 5 pagi ini, telah menciptakan alarm tersendiri di rangkaian syaraf otak dengan status “Daily Activated”.

Padahal baru jam 3 subuh tadi aku baru bisa tertidur. Secangkir Single Espresso “Made in Saya” jam 10 malam kemarin telah membuat mata ini mahal sekali terpejam.

Aku bangun dari kasur busa yang tergelatak di lantai khas anak kostan. Menatap tumpukan kertas-kertas berisi draft Bab 4 skripsiku yang harus aku laporkan sore nanti ke Pembimbing Utama.

Aku keluar dari kamar kostku, kamar no.6, bergerak ke dapur untuk membuat secangkir kopi lagi. Sungguh, kopi memang sahabat yang sejati. Semakin pahit, semakin setia dia.

“Udah bangun, Poy?” Satu suara kejutkanku. Aku menoleh. Ah, Ridwan teman kostku sudah berdiri mematung dekat pintu dapur.
“Eittss, Wan. Tumben ente bangun subuh.” Kataku sambil tertawa.
Ridwan senyum kecil.
“Kopi?” Tawarku padanya.
Ridwan menggeleng.
“Kuliah pagi, Wan?” Tanyaku lagi.
“Ga, aku mau pulang.” Jawab dia.
“Wah, tumben. Pulang bukan di hari libur.”
“Iya, hari ini pulang.”
“Ada keperluan keluarga?” Tanyaku lagi.
“Kurang lebih begitu. Keluargaku akan kumpul.” Jawabnya.
Ridwan dingin-dingin saja menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Mungkin sedang dalam masalah dengan kelaurganya pikirku.

“Poy..” Ridwan memanggilku lagi yang sedang mengocek kopi untuk terkahir kalinya. Ritualku mengocek kopi harus 17 kali.. Hehe..

“Hmmmm.. Aya naon*?” Tanyaku.
“Aku titip surat nanti ya. Ada di mejaku. Untuk Pak Ade, dosen di kampusku. Kalau kamu tidak keberatan. Kamu akan lewat kantornya di lantai 2 kampus.” Kata dia. Memang kami satu kampus namun beda fakultas.
“Hmmm.. Ok. 86 komandan.” Jawabku.

Tapi tepat di ujung jawaban. Aku dikejutkan teriakan keras di dalam area kostanku. Aku kontan berlari, melewati Ridwan yang berdiri di pintu.

Sampai ke pusat teriakan, aku melihat Ivan, juga teman sekostanku, berdiri mematung, tegang. Matanya menatap ke arah pintu kamar no.4, kamar Ridwan.

Pintu kost lain menyusul terbuka, semua menuju arah teriakan. Aku penasaran dan mendekati Ivan lalu menatap ke dalam kamar no.4 yang kini terbuka lebar.

Ya Tuhan!!! Dalam kamar yang berantakan itu. Aku melihat Ridwan tergantung. Seutas tali plastik merah tergantung ke plafon atap, mengikat leher Ridwan yang kurus. Ridwan mati gantung diri.

“Aku ketuk-ketuk, dia tidak buka. Dia minta dibangunkan pagi2. Aku buka pintu kamarnya. Dia.. Dia.. Ya Tuhan..” Ivan terbata-bata menjelaskan apa yang kami lihat di dalam kamar no. 4 itu. Anak-anak kostan lain bergerombol di belakangku..

Aku terdiam, pucat, dingin, melihat itu semua. Aku bertemu Ridwan tadi dibawah. Namun tak kuasa aku mengucapkan itu.

Ridwannya sudah mati…

***

Ridwan meninggal bunuh diri. Dia benar-benar pulang dan mengumpulkan keluarganya hari itu dalam duka.

Ada surat tersimpan di mejanya. Ditujukan untuk Drs. Ade, M.Si. Ridwan protes, karena dosen yang jarang hadir mengajar itu, berkali-kali menolak skripsinya dengan alasan-alasan aneh yang membuatnya harus berkali-kali keluar uang untuk rental komputer, print, ongkos dan lain-lain. Dosen itu sudah 5 bulan menyulitkan Ridwan dan belasan mahasiswa dibawah bimbingannya. Ridwan malu karena tak lulus-lulus, dan terus minta biaya dari orangtuanya yang hanya petani…

Ridwan.. Temanku.. Suratmu akan kusampaikan..

*aya naon = ada apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s