Second Chance…

Ahhh… Panas benar hari ini. Padahal jalan dimana kakiku melangkah saat ini terletak di Kota Bandung, kota yang terkenal karena kesejukannya. Aku bingung…

Aku hapus keringat di keningku yang terus muncul, dari berupa bulir-bulir sampai akhirnya mengalir begitu saja, terus menerus.

Dari daerah Setiabudi aku menuju ke pertigaan Cipaganti dengan tetap berjalan kaki. Lelah juga aku berjalan hampir 2 km dari simpang Gegerkalong. Tapi mau bagaimana lagi, uang di celana jeans bututku tinggal 1000 perak, mana cukup untuk ongkos angkot atau bis kota. Untung jalan yang kutempuh ini menurun jadi lumayan mengurangi beban di betisku.

Sudah 2 tahun aku tinggal di kota ini, meninggalkan kota asalku untuk sekedar menaikan statusku menjadi seorang mahasiswa. “Posisi” yang teramat sangat terhormat di kampung asalku. Setidaknya nanti bila aku lulus, orang akan beramai-ramai memanggilku “Pak Sarjana atau Dik Sarjana”. Dengan gelar itu, aku mungkin akan jauh lebih dikenal seantero kampung dan menjadi salah satu obrolan para ibu sebagai calon menantu idaman, atau juga akan langsung dicalonkan sebagai Kepala Desa! Hebat ya kampungku. Tapi andai saja mereka tahu…

Aku berhenti sejenak dibawah sebuah pohon yang lumayan rindang didepan sebuah restoran cepat saji yang terkenalnya sampai ke seantero jagat. Lumayan juga angin yang berhembus ini, walau tak sedingin AC tapi cukuplah untuk membantu mengeringkan peluh.

“Istirahat Kang?”

Sebuah suara mengagetkanku. Aku berpaling ke arah suara. Tampak seorang pemuda kurus kering. Akupun kurus, tapi tak sekurus dia. Mukanya putih agak pucat, usianya hampir sebayaku. Rambutnya gondrong sebahu. Di bawah bibir sebelah kiri dagunya ada tahi lalat sebesar kelereng. Dari pakaiannya, nampaknya dia juga seorang mahasiswa. Kaos tipis plus celana jeans belel yang ketat ke arah betis, dan sebuah tas yang lebih mirip kantong sayuran yang tergantung di bahu kanannya. Ada inisial huruf “J” di tas itu. Ah, sebuah penampakan yang semakin menjadi mitos saja.

Aku awalnya tak menyadari kapan ia ada di belakangku, tapi sudahlah, mungkin tadi aku terlalu letih untuk diriku hingga tak sadar akan sekelilingku.

“Iya, panas juga hari ini ya?” Jawabku.
“Yaa kalau tidak panas bukan Bandung Kang..hehe.”
“Hehe.. Iya juga. Aneh ya, Kota Kembang koq jadi begini. Katanya dulu sejuk bener.”
“Habisnya sudah banyak mobil plat B kesini, jadi hawa panas Metropolis ikut terbawa.. Hahaha.”
“Bisa jadi begitu.. Bandung sudah jadi milik semua. Saya Kamal..”
“Oh ya lupa, Jo..”
Dia mengulurkan tangan kanannya. Kurus sekali tangannya. Rawan juga mengepalnya, takut patah.
“Kuliah dimana Jo?”
“FIKOM Padjadjaran, angkatan 2003. Akang?”
“Saya di Keguruan Ekonomi UPI, angkatan 2002.”
“Wah, udah mulai nyusun dong?”
“Harusnya begitu. Haha.. Tapi gimana ya, saya agak rajin.”
“Agak rajin? Banyak malesnya dong?”
“Biasa…hehe.”

Dia tidak tertawa. Muka ramah itu mendadak hilang. Aku jadi sedikit bingung, takut salah bicara.
“Saya sebenarnya sudah mulai nyusun, usulan masalahnya sudah disetujui, tapi….”
“Dosennya rese?” Tanyaku memotong.
“Ah tidak, dosennya lumayan ngerti. Ga seperti di Universitas lain, kadang ada dosen yang bahkan kayaknya tidak mengerti Hak Azasi Manusia, bukan rese lagi, tapi kejam! Dia ga sadar kalau ada nasib manusia di tangannya. Ada harapan besar dari sepasang orangtua, saudara di kampung halaman. Tapi sang dosen bisa dengan mudahnya memutus itu.” Dia menjelaskan itu dengan tatapan kosong ke depan.
“Pengalaman pribadi nampaknya?” Tanyaku sambil tersenyum.
“Maaf…”
“Ah, ya itulah kondisinya. Tapi kasus saya lain. Saya bukan tipe mahasiswa baik-baik. Sama sekali tak pantas menyandang predikat “masa depan” bangsa.”

“Akang pemakai ya?” Tanyanya tanpa tedeng aling-aling padaku. Tanpa melihatku. Aku kontan tersentak.
“Bagaimana… kamu tahu?”
“Senasib. Barang-barang setan itu sudah banyak menghapus mimpiku.” Katanya dengan memberikan pandangannya yang kosong ke depan. Mungkin itu gaya dia agar lebih mendramatisir suasana. Dan dia memang berhasil.
“Akang harus berhenti.” Tambahnya singkat. Aku semakin keheranan. Usulannya memang oke, aku bahkan hampir mendapat usulan yang sama 3x sehari dari pacarku, yang tetap setia walau cowok idamannya bukanlah “manusia” tapi kerangka berdaging yang tinggal menunggu mati.
“Maaf…” Kataku.
“Akang harus berhenti. Sebelum terlambat Kang. Saat kesempatan itu masih ada, Akang harus pakai kesempatan itu.”
“Iya..tapi…”
“Akang hidup ga sendiri, Akang bawa darah orangtua Akang, yang aku yakin selalu mendoakan Akang kapanpun, dimanapun, sedang apapun. Akang bawa sebuah harapan besar dari mereka. Akang juga punya hidup yang harus diurus di masa depan, tapi bukan dengan modal ini Kang. Akang punya kesempatan untuk menetukan masa depan Akang.”
Jo berbicara begitu dengan tetap memandang ke depan, benar-benar dramatis.
“Iya, saya tahu. Tapi kamupun juga pasti tahu bagaimana sulitnya menghentikan sakit ini. Saya sudah mencoba, namun tidak pernah berhasil. Yang saya tahu, badanku makin hancur. Ibarat nyawa yang dilembar-lembar, mungkin aku tinggal menyisakan beberapa lembaran tipis. Tapi… Kamu…”
“Kang, hidup itu cuma sekali. Benar kata orang kalau kita harus menikmati hidup. Tapi ga semua yang nikmat itu menambah usia dalam hidup Kang. Kadangkala yang nikmat itulah yang memperpendek langkah. Selagi ada kesempatan Kang, Akang harus segera berhenti.”

Dan di akhir kalimat itu, Jo menoleh. Seketika aku melihat raut yang nyaman untuk dilihat. Aku baru bertemu Jo, namun seakan-akan aku sudah mengenalnya lama sekali. Wajah itu sungguh menyejukan.

“Saya tahu, saya baru kenal Akang, kita belum 30 menit kenal. Mungkin Akang marah dengan sikap saya, atau bertanya-tanya apa maksud saya di balik ini. Hanya saja, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengingatkan Akang tentang kesempatan kedua. Karena saya tidak mendapatkannya.”

Aku terhenyak. Baru dalam hidupku, ada orang yang baru aku kenal, yang bahkan aku sendiri tidak tahu siapa, apa, bagaimana dia. Tapi jujur, baru kali ini nasehat tentang hidupku bisa aku terima. Kebanyakan aku mengacuhkan nasehat kolot seperti ini.

“Jo… Saya…”

Jo tersenyum. Mengulurkan tangannya kepadaku.

“Waktuku tak lama Kang, saya pulang dulu ya. Lama-lama makin panas disini, hanya nampaknya saya harus membiasakan diri dengan hawa panas. Hehe.”

Matanya mengerling sebentar kepadaku dengan sedikit senyum di bibirnya. Aku terdiam, mencoba mencerna maksud di balik kata-katanya yang terakhir.

“Jangan sia-siakan kesempatan ya Kang. Siapa tahu Akang ga punya itu kesempatan kedua.”

Dan Jo pun pergi. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang makin lama makin menghilang.

Aku menghela nafas, mencoba mencerna pengalaman barusan. Aku tersenyum, pikirku kemudian Jo adalah malaikat yang sedang menjelma sebagai manusia, atau manusia yang ingin seperti malaikat, atau juga setan yang menyamar sebagai malaikat. Ah, biarlah, toh kata-kata dia ga ada yang salah.

5 menit kemudian, setelah bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja. Aku beranjak untuk kembali berjalan ke arah Cihampelas.

10 menit kemudian aku sudah menyusuri jalanan yang terkenal ini. Kali ini dengan tambahan air mineral gelas di tangan kananku. Lumayan, aku masih menyisakan gope di saku celanaku. Hingga tiba-tiba aku melihat kerumunan di depan. Ah, mungkin copet pikirku. Tapi aku tergerak untuk mendekati.

Aku sibak kerumunan itu, orang-orang menambah bising suasana. Dari obrolan bising itu aku tahu bahwa ada orang pingsan atau tidur di pusat kerumunan itu.

Aya naon, Pa*?” Tanyaku ke salah seorang bapak-bapak di kerumunan itu.
Eta cenah aya nu pingsan, ngagoler we dina korsi kios roko. Cenah mah ti weungi tadi didinya. Mung teu aya nu wantun ngagugahkeun, da dianggap nuju kulem. Nembe bieu warantuneun nyaketan. Tapi siga nu teu pingsan nya. Da teu oyag kitu, jeung mani ngabudah bahamna . Ah, boa-boa nu Overdosis eta mah…*” Jawabnya.

“Dia mati… sudah mati… Panggil Ambulans…” Suara salah satu orang disitu. Malang benar nasib dari yang meninggal itu. Tergolek tak berdaya di pinggir jalan. Ditonton orang, diobrolin dengan jelek. Sebuah tempat dan kondisi yang tak pernah kuinginkan untuk meregang nyawa.

Aku makin menyeruak ke dalam kerumunan, semakin penasaran. Aku ingin melihat.
Hingga…

Sosok yang meninggal itu sangat kurus, rambutnya gondrong sebahu. Dibawah bibir sebelah kiri dagunya ada tahi lalat sebesar kelerang. Pakaiannya kaos tipis dengan celana jeans ketat. Dan di tangannya tergenggam tas yang lebih mirip dengan tas sayuran. Ada inisial huruf di atasnya. Hurufnya “J”.

“Jo…”

***********

*“Ada apa, Pak?”
*“Itu katanya ada yang pingsan, tergeletak begitu saja di kursi kios rokok. Dari tadi malam katanya disitu. Hanya ga ada yang berani membangunkan, karena dianggap tidur. Baru barusan pada berani mendekat. Tapi seperti yang tidak pingsan ya, tidak bergerak gitu. Mulutnya juga berbusa. Ah, jangan-jangan yang Overdosis itu…”

Advertisements

5 responses to “Second Chance…

  1. kang yopi…ceritanya bikin merinding bulu kuduk ah, hehehe….ayo kang posting lagi cerita lainnya….yang seru…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s