Lari, Narto…!!!

“Lari, To!”
“Cepat lari!!!”

Teriakan demi teriakan membahana di siang membara itu. Sekelilingku hanya suara keras, berserabutan dengan debu-debu yang muncul di sekelilingku.

Sesak nafasku. Tiba-tiba satu tangan keras menarik kerah bajuku.
“Lari, Narto!!! Jangan bodoh begini!!” Serunya keras tertahan.
“Uhuk uhuk.. ” Aku terbatuk. Pusing kepala ini. Aku tertarik, mencari keseimbangan, dan mengikuti arah tarikan.
“Tunggu sebentar, Nar.” Kataku pada Danar, sosok yang menarikku.
“Tunggu artinya mati. Cepat!” Katanya.
Aku diam, mulai seimbang, dan berlari.

Siang itu, di ujung Pelabuhan di Utara Jakarta. Sekelompok kuli angkut diserang preman Pelabuhan. Para preman dendam karena salah satu anggota secara tidak sengaja tersenggol motor tua salah satu kuli ketika dia tengah lari sehabis mencopet. Preman itu mati setelah senggolan motor itu membuatnya jatuh dan tergilas truk.

*****

Aku terengah-engah. Dadaku naik turun. Mulutku terbuka, dahaga. Disebelahku Danar tak kalah kusut. Dia tertunduk, menghela nafas-nafas berat.

“Mereka ma..masih meng..ngejar?” Tanyaku pada Danar tersenggal-senggal.
Danar diam, menghela nafas panjang, lalu menggeleng.
“Mana kutahu.” Jawabnya.
“Apa yang terjadi, Nar?” Tanyaku lagi.
“Diam!!! Bisakah kau simpan pertanyaanmu nanti, Narto.” Danar emosi. Mukanya merah padam. Tampak bingung sekali. Aku paham. Aku sekarang hanya bernafas.

Kami bersembunyi di salah satu sekat bekas rumah kardus. Atap kami langsung langit, panas sekali. Lari membuat dahaga semakin membara. Sekelilingku hanya sampah. Dimana mencari air?

“Cari terus!!! Habiskan!!!” Satu teriakan mengejutkan kami. Ya Tuhan, mereka datang.

Berpencar dalam jarak agak jauh. Kurang lebih 8 orang, para preman itu hanya 200m dari persembunyian kami. Gerakannya tangkas, semua memandang 8 arah berbeda. Berputar, mencari, garang sekali.

Aku memandang Danar yang juga memandangku. Persembunyian kami hanyalah sekat. Di depan kami lapang luas. Bila kami berlari, maka terlihatlah kami. Perkampungan ada didepan sana. Bila masuk perkampungan, amanlah kami. Pilihannya hanya lari.

Danar menggertakan giginya. Terlihat sudah pikirannya kalut. Akupun juga. Terjebak dalam pertanyaan: Ada apa? Kenapa?

“Kita harus lari, Nar. Mereka makin dekat.” Kataku pelan.
Danar diam. Matanya lurus menatap mataku. Dan tanpa ada komando, Danar bangkit dan berlari meninggalkanku.

“Itu!” Satu suara datang. “Kejar dia!” Suara yang lain.

Danar sudah 15m didepanku. Aku panik, sendirian. Detik-detik yang begitu lama. Aku bingung.

Suara-suara langkah kaki beradu hembusan angis panas dan debu jalanan mendekat.

Aku panik, dan tanpa pikir panjang, aku berdiri, bingung memutar arah, aku berlari. Hanya lari. Tak tahu kemana.

Arah tak lagi aku kenal. Danar kemana, aku tidak tahu. Aku panik sangat. Aku hanya berlari.

Mereka mengejar. Berteriak menyurutkan nyali. Aku yang paling dekat dengan mereka.

Aku lari dan terus berlari. Pikirannku kemana-mana. Pikiranku tiba-tiba tertuju pada satu titik…

“Pak, Bu. Narto takut.” Pikiranku kalut. Muka Bapak dan Ibu jauh disana memenuhi kepalaku.

Aku tak melihat jalan, aku hanya berlari. Lalu aku tersandung. Dan jatuh.

Badanku terbentur kerasnya jalan. Dan mereka semakin dekat. Jarak 70m dibelakangku.

“Bangun, Narto.” Ada suara di otakku.
“Bangun, larilah.” Suara lain yang sangat kukenal.

Aku cari arah suara, didepan sana. Ya didepan sana. Dalam putaran pening kepala, kulihat Bapak dan juga Ibu. Tangan Ibu merentang, sementara Bapak disebalahnya memanggilku.

“Pak, Bu.” Aku berseru pelan.

Aku bangkit, berdiri, dan lanjut berlari.

Aku berlari kearah mereka, tanganku tergapai. Mencoba segera menyentuh mereka.

Namun aku melambat. Ada lemas dikakiku. Ada rasa lain di kepalaku. Kenapa tiba-tiba begini. Aku melemah. Lariku semakin lambat, lambat, lambat, diam, berhenti, lalu tersungkur.

Badanku kembali menyentuh bumi. Coba mencerna apa yang terjadi. Pikiranku hanya berputar. Ada rasa panas menjalar dan lama-lama terasa perih, dan semakin perih.

Tanah membasah. Keringat? Bukan. Ini merah. Mataku yang mengintip melihat kebawah. Ada merah di perut kiriku. Basah. Aku berdarah. Perih sekali.

“Uhuk…” Aku terbatuk. Merah juga. Aku semakin lemah.

Darah itu semakin banyak, tak kuasa aku membendungnya. Rasa perih di perutku berubah rasa panas luar biasa. Jemariku kaku, memutih. Aku sekarat.

“Tidurlah, Narto.” Suara pelan terdengar di telingaku. Aku coba membuka mataku yang berat sekali. Dalam keremangan putih cahaya. Aku melihat Ibuku, aku melihat Bapakku. Dua orang yang sangat kucintai dan sangat kurindukan.

“Pak, Bu. Narto pulang.” Melemahku, seiring jalaran rasa dingin dari jemari kakiku dan bergerak ke arah perutku lalu tenggorokanku.

Aku berhenti berlari. Dan tak akan berlari lagi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s