Gelap bagimu, terang bagiku…

Ada hangat menerpa pipi. Membuat mimpiku bertemu sang bidadari terhenti sudah. Selaksa sinar mentari yang datang dari jendela yang telah terbuka menghangatkan badanku.

Aku perlahan membuka mataku. Dari sekerejap gelap, terbuka semuapun gelap. Pagi ini tak ada bedanya dengan pagi kemarin, kemarinnya lagi, kemarin tahun lalu, kemarin 23 tahun lalu saat aku lahir, masih saja sama. Semua untukku gelap.

Tangan kiriku bergerak. Kira2 selurusan bahu agak geser 20 derajat ke arah kiri. Aku mencari jam. Benda yang sejak kubeli tak pernah kutahu bentuknya itu memiliki tombol di tengahnya, kutekan, dan berbunyi: “Sembilan, dua puluh satu.” Kata sang jam. Hampir jam setengah sepuluh pagi. Canggih bukan. Ya, alat yang sangat berguna untuk orang buta sepertiku.

Dulu ada pengusaha dari Jakarta yang datang ke asrama kami, para tunadaksa. Dia membagi-bagikan alat-alat yang dapat mendukung kehidupan kami. Dari tangan dan kaki palsu, kursi roda, komputer Braille, dan ya jam tadi.

Ah, sudah siang. Tadi aku sudah bangun untuk Sholat Subuh namun tertidur lagi karena lelah. Ada 3 orang berbadan besar aku pijat tadi malam. Ya, aku berprofesi sebagai tukang pijat. Orang terakhir kupijat hingga jam 1 malam. Lumayan, ada total 7 orang kemarin yang aku pijat. Cukuplah untukku menabung.

Asramaku sendiri terletak di sebuah pedesaan maju di pinggiran Kota Sukabumi. Aku sudah 4 tahun disini. Karena disini sekalian Pesantren umum juga.

Orangtuaku berpikir bahwa aku akan lebih bermanfaat bagi orang banyak bila belajar dan bekerja disini. Mereka selalu memberiku semangat untuk tetap berguna walau aku buta. Aku dijemput setiap akhir pekan untuk pulang ke rumahku di kota.

Aku bangun dari ranjangku. Sepi. Tampaknya Gandi, teman sekamarku sudah keluar. Dia ahli elektronik. Tangan kirinya hilang, diamputasi ketika bekerja di salah satu perusahaan elektronik International.

Aku bangun di sebelah kanan ranjangku. Kakiku turun mencari sandal. Aku berdiri, berjalan 2 langkah ke muka, balik badan ke kiri, berjalan 8 langkah, balik kanan 4 langkah, dan kutemukan pintu kamar mandi. Aku hapal setiap jengkal kamar ini. Dan memang harus begitu. Kalau tidak bisa banyak tersandung aku.

Selepas mandi, aku berjalan ke ruang Admin. Sekali lagi, aku hapal jarak-jarak langkah kesana. Bahkan hampir seluruh bangunan di Pesantren ini aku hapal. Jarak langkah, berapa jari, sudut, semua diluar kepala. Semua tampak mudah untukku.

“Hai, Hadi. Assalamualaikum.” Satu suara perempuan menyapaku.
“Wa’alaikum salam, Ibu Fatma.” Jawabku.
“Hari ini lumayan padat nih, Di. Nanti kamu akan diantar ke 3 tempat berturut-turut ya. Lalu nanti malam ada 2 lagi yang pesan pijat. Kamu sudah sarapan?” Tanya Ibu Fatma.
“Belum, Bu. Baru saja bangun selepas subuh tadi saya tertidur lagi. Baik bu, nanti saya siap-siap jam berapa?” Tanyaku.
“Jam 11 saja berangkat. Kamu makan diluar ya, nanti uang makannya saya kasih.” Jawab Ibu Fatma.

Ya, begitulah disini. Kami semua, yang normal dan tunadaksa, diberikan pendidikan, ilmu agama, keahlian, dan pekerjaan. Uang pendapatan kami bagi sama rata. Biar bagaimanapun, Pesantren ini membutuhkan dana untuk menjalankan laju operasionalnya. Itulah timbal balik kami. Kami merasa berguna disini. Dan kami wajib memberikan jasa secara profesional dan menjaga nama baik.

Aku bergerak menuju dapur. Perutku minta diisi. Ada rekanku bagian dapur, lebih senior, Kang Atep namanya. Sudah 7 tahun disini.

“Pagi, Hadi. Baru datang kamu.” Nah, itu suaranya.
Aku tersenyum, “Ya, Kang. Kebablasan tidur.” Jawabku.
“Duduk sini, Di.” Ada suara lain. Aku coba ingat-ingat. Suaranya Kang Parta.
“Kang Parta, sarapan Kang?” Tanyaku.
“Ga, lagi iseng saja. Habis pengajian Subuh, kesini ketemu Kang Atep. Eh, malah keterusan ngobrol. Sini, Di.” Jelasnya sambil mengajakku duduk.
“Iya Kang.” Aku bergerak ke arahnya. Kang Atep membawakannku sarapan nasi goreng. Aku makan, kedua temanku diam. Kami memang diajarkan untuk diam ketika makan.

Selepas makan, aku bersiap-siap. Aku akan diantar motor Pesantren. Tujuanku adalah kawasan Bhayangkara, kawasan sekolah Perwira Polisi. Langgananku banyak disini.

Aku menikmati hembusan angin sejuk Sukabumi di wajahku. Menunggu tibanya aku di tempat yang dituju. Yang mengendarai motor adalah Rizal, santri juga. Dia adalah pasanganku dalam bekerja. Sabar dan sangat pendiam. Kami berbagi rezeki dari uang pijat ini.

Tibalah aku di lokasi. Yang akan dipijat bukanlah perwira polisi, namun karyawan admin. Aku dipersilahkan masuk kedalam rumahnya. Sementara Rizal diluar, selalu begitu, walaupun dia diajak masuk.

“Pijat saja atau refleksi juga, Pak?” Tanyaku.
“Pijat saja ya. Kita mulai?” Jawab bapak itu dan sekaligus bertanya.
“Baik, silahkan bapak tidur tengkurap.” Kataku.

Bapak itu nurut, aku keluarkan minyak urut, aku campur sedikit minyak kayu putih, dan mengoleskannya ke telapak tanganku.

“Bismillah…” Dan aku mulai memijat.

Mataku memang buta, semua gelap bagiku, tapi tanganku tidak, kulitku tidak. Bagiku merekalah mataku. Mungkin sedikit aneh bila kukatakan tanganku bisa melihat, bahkan bisa tembus pandang. Tanganku bisa mengirimkan sinyal electric ke dalam otakku yang mengirimkan balik perintah ke tanganku itu. Memang begitu. Kita buktikan sekarang.

Seketika telapak tanganku menyentuh betis Bapak tadi. Seketika ada aliran listrik pelan namun serabutan yang kurasakan. Seperti ribuan kabel listrik yang terpasang acak-acakan. Tugasku adalah merapikan kabel listrik itu. Sederhana bukan.

Sensor yang masuk ke jaringan syaraf otak, dirubah menjadi perintah untuk sedikit merapatkan jemariku. Ibu jari terlipat sedikit, begitupun jemari lain. Seperti mencengkram. Ujung-ujung jari itulah yang kugunakan untuk melakukan gerakan urut di bagian betis. Semua berdasarkan tanda dari si telapak tangan. Benar kan, tanganku bisa melihat.

Itu berlaku untuk semua area pijatan. Dalam hitungan detik, cengkraman bisa berubah jadi cubitan, remasan, atau sekedar dielus pelan. Kadang lima jari digunakan, kadang hanya ibu jari yang ditekan. Semua terang bagiku.

Mengurai urat-urat dan otot-otot yang sembrawut adalah seni bagiku. Rasa panas yang muncul di awal pijatan hingga berubah menjadi hangat adalah hasil karya besarku.

Aku pulang setelah hampir satu setengah jam berkreasi dengan urat dan otot. Dan setelah selesaikan 2 lagi, aku kembali ke Pesantren.

Aku kembali jelang Magrib. Dan setelah pengajian Magrib, aku kembali ke asramaku.

Tapi sebelum sampai, aku dipanggil Bu Fatma.

“Hadi, kamu harus segera ke rumah Kyai Mahfudz. Beliau sakit. Kamu dipanggil ke rumahnya. Kyai mau kamu memijatnya.” Jelas Bu Fatma.

Kyai Mahfudz adalah salah satu sesepuh Pesantren ini. Keluarganyalah yang menjalankan Pesantren ini. Kyai kharismatik yang disegani di seluruh Kota bahkan Provinsi.

“Baik, Bu. Insya Allah.” Aku menjawab dan segera minta dicarikan Rizal.

“Sakit apa ya Kyai.” Pikirku. Dan kenapa harus aku yang kesana.

Aku tiba di rumah Kyai Mahfudz dan disambut istrinya. Nyai Kyai juga sangat kami hormati.

“Kyai di dalam, kamu temui dia ya, Hadi.” Kata Nyai.
“Baik, Nyai.” Jawabku.

Aku berjalan, dipandu Rizal. Aku masuk ke ruangan yang beraroma harum minyak Kesturi.

“Hadi, masuklah.” Suara berat yang kusuka. Suara Kyai Mahfudz.

Aku duduk disebelah ranjangnya.

“Aku sepertinya terkilir. Tangan kiriku diam tak dapat bergerak seharian ini. Sakitnya dari belakang punggung terus menjalar ke seluruh tangan. Aku yakin kamu bisa membantu mengobatiku.” Kyai Mahfudz menerangkan.

Aku terdiam. “Izinkan saya memegang Kyai.” Kataku hormat.
“Silahkan.” Jawabnya.
“Silahkan Kyai duduk.” Kataku.
Kyai Mahfudz duduk.

Aku bergerak menyusuri ranjang, meraba mencari jemari Kyai. Aku mendapatkannya.

Seketika ada aliran aneh yang masuk ke tanganku. Aliran sejuk sekali. Aku termenung. Diam sesaat. Dan detik selanjutnya semua terang.

Mataku seakan diajak menjelajah setiap jengkal tubuh Kyai. Aku bahkan merasakan sakit yang sama di tubuhku. Setiap ada kurasakan masalah di tubuh Kyai. Di bagian yang sama tubuhkupun terasa sakit yang sama.

Terang sekali kulihat. Ada gumpalan aneh tepat di punggung atas kiri Kyai Mahfudz. Jaringan ototnya berkumpul aneh. Membentuk bulatan yang membuat jaringan lainnya tertarik dan mati rasa. Ini penyakitnya.

Jemari kiriku bergerak. Kuambil jari-jari Kyai Mahfudz dulu. Sementara tangan kananku menempel di pundaknya. Memijat satu titik rongga di sambungan bahu ke lengan. Aku tekan itu, lalu kutarik jari-jari Kyai.

“Trek.” Ada bunyi pelan sekali. Bahkan mungkin hanya aku yang mendengar. Satu jaringan berhasil aku rapihkan.

Jari kiriku bergerak naik. Menuju lekuk siku. Kutekan dua titik di siku. Sementara tangan kanan masih di posisi awal. Kedua tangan saling menekan.

“Trek.. Trek..” Jaringan lain selesai.

“Boleh Kyai membuka pakaian sebentar?” Tanyaku hormat.
“Baik.” Jawab Kyai sambil membuka pakaian atasnya.

Sekarang aku bergerak ke punggung. Jemariku bergerak diatas lapisan kulit Kyai, bergerak seperti radar ranjau. Cepat, dalam rangkaian seperti menotok namun tidak menekan, inilah metode pencarianku.

Tubuh Kyai seakan memantulkan aliran ke ujung jemariku. Seperti berkata: “Ini aman.”, “Ini sakit.”. Seperti itu, terang dan jelas sekali.

Di bagian belikatnya aku rasakan hawa panas. Ini pusat sakit Kyai Mahfudz.

“Pijat titik di kakinya.” Suara kecil di kepalaku.

Nah, itulah sensor balik di terangnya pikiranku.

Aku bergerak ke arah kaki Kyai. Meraba sela antara jari telunjuk dan tengah kakinya. Aku tekan bagian bawahnya, pelan saja. Kyai sedikit meronta. Aku teruskan pijat titik itu. Lalu beberapa titik di kaki Kyai.

Aku maju ke betisnya. Lalu memijit titik tengah betisnya. Aku minta Kyai tidur tengkurap.

Seraya ibu jari tangan kananku menekan titik tengah betis Kyai. Ibu jariku yang lain menekan punggung Kyai tepat di lipatan belikatnya. Aku berdoa agar pekerjaanku dilancarkan.

Ibu jari tangan kananku bergerak ke punggung bawah Kyai. Aku gabungkan kedua ibu jariku dari titik itu dan aku urutkan dari bawah keatas.

Sensor-sensor ajaibku bekerja. Seakan bekerja diatas rangkaian kabel yang acak, aku coba luruskan kabel-kabel itu ke arah punggung atas, sampai di lipatan belikat.

“Trektek…” Suara-suara pelan terdengar di telingaku.

Di titik belikat Kyai. Aku kembangkan tanganku. Memijat menyebar dengan gerakan cepat. Meluruhkan kabel-kabel kusut di tubuh Kyai. Sensor-sensor aliran bergerak cepat di pikiranku. Aku buta, tapi aku bisa melihat terang dengan tanganku.

Aku pegang tangan Kyai. Aku pijit titik tengah telapak tangannya. Aku angkat keatas seperti anak kecil mengacungkan tangan menjawab pertanyaan. Sambil aku gunakan jari tengahku menekan titik di belikat Kyai.

“Trek!” Aku goncangkan cepat tangan mengacung itu dalam tarikan cepat.

Kyai mengaduh pelan. Selesai.

“Kyai, boleh coba gerakan tangan Kyai?” Aku bertanya. Sambil menyentuh tangan Kyai pelan. Aku kan harus tahu juga apakah tangannya bergerak atau tidak.

Ada gerakan pelan, jemarinya. Lalu lengan bawahnya, dan lengan atasnya ikut bergerak pelan. Kyai mengangkat tangan kirinya.

“Bisa bergerak, Hadi. Alhamdulillah…” Kyai Mahfudz berkata riang.
“Alhamdulillah.” Kataku juga.

“Terimakasih, anakku. Berkah dunia akherat untukmu, digampangkan rezekimu, dimudahkan semua jalan keinginanmu.” Kyai mendoakan aku yang kujawab Amin berkali-kali.

Dunia ini gelap untukku. Aku tak tahu bentuk dunia ini sama sekali. Tapi dalam beberapa hal. Aku bisa melihat lebih terang dari siapapun di dunia ini.

Gelap bagimu, terang bagiku…

*****
(Bekasi, sambil nunggu tukang pijat)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s