Belajar dari Bondi…

Bondi namanya. Singkat, padat, dan jelas. Tanpa ada nama panjang, cukup panggil saja “Bondi”. Kalau ditanya, “nama panjangnya apa, Pak?”. “Bondiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…” Katanya sambil tertawa ala Mbah Surip,”Ha ha ha…”.

Bondi adalah salah satu pekerja di kantorku. Jabatannya berlipat-lipat. Ya Driver, OB, Kurir, Kontraktor, IT, bahkan tukang masak kalau perlu.

Dari berbagai pekerjaannya. Bondi sudah cukup layak mendapat gelar “The most valuable asset in the office” hehe. Dia bisa melakukan kerjaan kita, namun kita belum tentu bisa dan mau mengerjakan pekerjaan dia.

Satu yang paling menonjol adalah peran dia sebagai Driver. Pengalamannya sebagai supir taksi dan kendaraan lainnya membuatnya menjadi GPS hidup buat kami semua. Jangan takut nyasar kalau jalan di Jakarta dengan dia. Ke ujung-ujung yang anehpun, dia tau (yang ini memang patut dicurigai asal muasalnya…haha).

Jalan bersama Bondi bisa menjadi tour Jakarta yang menyenangkan. Kita yang hidup lama di Jakartapun belum tentu pernah melihat semua di Jakata. Nah bila anda ingin tau seluk beluk Jakarta, just call Bondi, dia akan menunjukannya dalam minimal 3 route berbeda yang bisa jadi pilihan. Keren bukan?

Bondi tergolong masih muda, namun “keperkasaannya” sangat teruji. Anaknya ada 6 orang! Cocok katanya buat Klub Basket plus satu orang pelatih. Kalau kejar Klub Sepakbola katanya “Udah cape ah. 6 anak cukup.” Busyeeettt..

Bondi juga kreatif. Pokoknya untung lah bisa berteman dengan Mr. Bondi ini. Karya-karya Bondi banyak tersebar di beberapa penjuru kantor ini. Simple-simple namun banyak manfaatnya.

Tapi Bondi bukan selamanya menjadi orang yang menyenangkan. Tahan dulu persepsinya. Maksudnya adalah dia ga selamanya mau diajak kompak. Kalau udah keluar sensinya, ga perduli siapapun dia bisa lawan, bisa ga nurut, bisa kabur dan susah dicari padahal lagi butuhhhhhh banget. Disaat itulah kadang antara marah dan kesel, kita baru tahu kalau kita butuh sekali sekali sosok Bondi.

Menjadi pejuang di keluarga besarnya, membuat dia rajin banting tulang bekerja. Maklum untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang banyak ditambah dengan sebagian sudah bersekolah, tentu banyak sekali yang harus dia keluarkan.

Terlepas dari memang manusia terlahir dengan nasib-nasibnya sendiri yang kita memang kadang tak bisa lepas dari situ kecuali dengan berjuang keras. Bondi adalah salah satu contoh kesederhanaan yang bisa dicontoh.

Sikapnya yang kadang meledak-ledak, emosi, sensitive. Itu tak lebih dari suasana bagaimana saat itu dia sedang berjuang untuk keluarganya. Siapapun akan seperti itu. Apapun akan dilakukan, dibela, diperjuangkan kalau atas nama kebutuhan keluarga.

Disitulah justru ilmunya. Kita yang agak mudaan harus melihat, bahwa perjuangan atas nama keluarga, oleh siapapun juga. Tak perduli manusia terkaya di duniapun, pasti akan melakukan apa saja asalkan keluarganya terus hidup. Dan yakin bahwa Tuhan memberikan jalan untuk itu.

Kalau melihat logika. Penghasilan sosok Driver di Jakarta mungkin tidak sebanding dengan kebutuhan seorang Bondi dengan 6 orang anak. Tapi pada kenyataannya jalan itu selalu ada. Katanya sering dia dapat permintaan bantu ini bantu itu dan dapat penghasilan tambahan yang sebenarnya tidak seberapa tapi selalu pas waktunya. Hmmmm, Tuhan berahasia disini.

Bondi tidak pernah mengeluh. Ya, cerita sih sering tentang bagaimana perjuangannya menghidupi keluarga ya membuatku terus menerus mengucap syukur atas rezeki yang selama ini kuterima yang kadang dengan seenaknya kuhamburkan.

Bondi selalu percaya bahwa masing-masing anaknya membawa jalan rezeki masing-masing, dan darimanapun jalannya, itu adalah hak anak dan istrinya. Seru kalau dia cerita bagaimana keluarganya makan di piring super besar, dan semua makan bareng-bareng. Seru bagaimana dia tidak memotong ayam menjadi potongan-potongan seperti yang kita makan, namun justru disuwir agar semua keluarganya terbagi adil dan lebih menghemat tentunya. Seru dan lucu bagaimana triknya dulu menarik hati sang pujaan hati agar mau menjadi istrinya.

Bondi dan saya berbeda keyakinan, saya Muslim dan dia Nasrani. Namun pendapat kami soal rezeki dari Tuhan adalah sama. Buat kami, semakin banyak memberi kepada orang lain sesuai hak dan yang diluar hak seperti sedekah, akan membuat Tuhan juga baik dan banyak member kepada kita. Beberapa keajaiban rezeki membuktikan itu. Bayangkan, dengan banyak kekurangan saja, seorang Bondi masih mencoba berbagi, karena percaya keajaiban dari memberi itu.

Banyak kita lihat orang kehilangan rezeki, apakah itu ditipu, kecurian, atau hilang begitu saja. Lepas dari itu adalah musibah, bisa juga diartikan sebagai peringatan Tuhan agar senantiasa kita selalu memberi bukan hanya rajin dan mau menerima.

Belajar dari sosok Bondi, yang mungkin andai Tuhan memeberikannya nasib lain, dia akan jadi seorang sosok yang penuh talenta. Tapi dengan adanya dia seperti ini, membuat kita faham bahwa tak sepantasnya kita tak menghargai rezeki kita disaat orang lain sekeping demi sekeping mencarinya. Tak sepantasnya kita mengecilkan arti orang kecil, disaat kita bisa menjadi besar justru dengan bantuan tangan-tangan orang-orang kecil ini. Tak sepatutnya kita memperlakukan semena-mena orang kecil, dimana di hatinya hanya ada niat tulus untuk mencari rezeki demi keluarganya.

Kesederhaan, keikhlasan, usaha keras, dan tetap bersabar. Saya selalu senang belajar dari seorang Bondi… Untuk kekurangannya dan untuk kelebihannya…

(Sebagian fiksi, sebagian nyata…)

Advertisements

Djakarta 2061…

Alkisah, Jakarta 50 tahun di depan…
 
Jakarta…. Kota yang saat ini berstatus tunggal sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang saat ini carut marutnya terkenal sampai ke lubang belut di negara bagian North Carolina, Amerika, telah berubah rapih dan anggun. Jalanan terlihat sangat bersih. Pohon-pohon rindang menghiasi setiap sudut kota dan penggalan antar jalan. Sejuk sekali. Mengelilingi pohon-pohon itu, rumput hijau cantik rimbun tertata rapih dalam tinggi yang sama, sangat terawat dan berbau harum, tak berani seorangpun menginjak rumput-rumputan itu.
 
Taman-taman cantik menghiasi setiap sudut kota, rapi diisi rangkaian bunga-bunga warna-warni dan pohon-pohon rindang yang memberikan kesegaran tersendiri bagi mereka yang lewat dibawahnya.
 
Setiap senti kota bening kemilau bak pualam buatan Citatah, Padalarang, Bandung. Jalanan rapih bahkan serpih debupun sulit sekali dicari selain oleh Mikroskop Elektron.
 
Jalanan kota sudah serba otomotis dengan pemindai khusus yang bisa mendeteksi sampai ke jenis baut yang dipakai mobil yang bersangkutan yang sekarang sebagian bahkan sudah ada yang melayang tanpa roda.
 
Tidak ada istilah 3 in 1 lagi, karena saat itu kepemilikan mobil terbatasi, satu keluarga hanya satu mobil saja. Jalan tolnya sendiri jauh dari macet, karena volume kendaraan sangat terbatas. Kendaraan-kendaraan model lama, sudah ditarik dan dijadikan bahan baku pembuatan barang-barang kebutuhan keluarga seperti Kulkas, Rice Cooker, Tempat Sampah, dll. Dan setiap penarikan mobil diikuti oleh pemberian modal untuk pembelian kendaraan baru atau tiket gratis penggunaan MonoRail, Trem, UnderGroud Train, dan RiverWay (nanti diceritakan) selama seumur hidup yang waktu itu menjadi angkutan favorit di Jakarta.
 
Gedung DPR/MPR sudah tidak ada zaman ini, karena setelah dibakar masyarakat dalam demo raksasa pada 21 Desember 2015, yang berhasil menggulingkan para Wakil Partai alih-alih Wakil Rakyat dan anggota Dewan yang sudah tidak terhormat. Area di Gatot Subroto itu sudah menjadi areal mewah pemakaman umum sistem hidrolik, dimana lahan bisa terpakai efektif secara garis vertical, tumpuk menumpuk secara otomatis menggali lebih dalam tanpa mengurangi nilai Syariah dalam makna pemakaman. Areal mewah ini juga sangat tertata rapih dan modern dengan system pemindaian mata bagi siapa saja yang hendak berziarah.
 
Monas, sebagai tugu utama kota sekarang digantikan system pencitraan proyeksi 3 dimensi hologram dengan laser. berpendar-pendar dengan  cahaya yang bisa berubah-rubah mengikuti iklim dan cuaca. SementaraMonas yang aslinya dipindahkan ke Surabaya sebagai kenang-kenangan Bung Karno yang mencetuskan pertama kali. Monas dipindahkan secara terpisah-pisah dalam paket yang jumlahnya mencapai 100 kargo. Dan dipasang kembali menggunakan system laser yang sudah lama menggantikan semen sebagai perekat.
 
Patung Pancoran sudah tidak ada, bukan karena sang patung merasa pegal karena diam dalam posisi mengejar bulan seperti itu, namun karena adanya proyek Mono Rail membuatnya hilang meninggalkan kenangan mendalam bagi sebagian masyarakat Jakarta, khususnya bagi pemilik Sate Khas Pancoran.
 
Yang luar biasanya adalah Sungai Ciliwung yang saat itu sudah sangat bersih. Berair jernih dan tanpa satupun sampah yang berserakan. Ini terjadi karena dalam setiap 20 meter panjang sungai dipasang detektor laser yang akan menembakan lasernya ke arah sampah, dan akan menghancurkan sampah dalam bentuk partikel-partikel kecil yang pergi bersama udara, dan asyiknya dia menebarkan harum.
 
Pada saat yang bersamaan menembaknya laser, dia mengirimkan kode digital kepada kamera CCTV yang ada di atasnya untuk merekam langsung secara Real Time siapa yang membuang sampah sembaranga dan mendeteksi orang tersebut melalui gelang digital yang dimiliki masing-masing masyarakat sebagai pengganti KTP. Yang terdeteksi langsung dikirim email yang berisi warning dan pengurangan gaji langsung ke perusahaan dimana dia bekerja. Tapi inipun jarang terjadi sejak 20 tahun terakhir dimana tidak ada lagi orang yang berani buang sampah sembarangan.
 
Masih bicara Sungai Ciliwung. Yang keren, sungai ini membantu mengurai kemacetan karena sekarang ada angkutan RiverWay namanya dalam bentuk perahu mungil berpenumpang 20 orang dan serba otomatis. Memiliki puluhan Halte, dalam beberapa koridor angkutan, RiverWay menjadi sarana favorit untuk berangkat menuju lokasi tujuan. Dan RiverWay juga menjadi obyek wisata baru di Jakarta.
 
Para pengemudi angkutan umum semuanya rapih dan wangi. Dengan wajah-wajah ramah dan bahasa yang santun. Semua terjadi karena rajinnya konsultasi dengan psikolog yang wajib disediakan para vendor kendaraan umum di Jakarta. Hingga jiwanya yang mungkin bawaan lahir bisa sedikit demi sedikit menjadi lunak. Tidak ada istilah ugal-ugalan di angkutan umum. Semua lancar, tertib dan teratur.
 
Sudah tidak ada rakyat miskin di Jakarta. Semua merata. Memang ada yang kaya, tapi sama sekali tidak ada yang tidak mampu. Pada tahun 2016, karena anggaran MPR/DPR langsung hilang, anggaran itu dibagikan merata kepada masyarakat Urban yang tidak jelas pekerjaannya dan diminta kembali ke kota asal dan menjadikan uang itu sebagai modal membangun desa atau kampungnya. Dan saat itu pula, perumahan-perumanhan bantaran kali dirapihkan dan dibersihkan. Masyarakatpun pulang ke kampung dengan riang gembira. Dan pada 2020, desa-desa itu menjadi maju dan pendapatan ekonomi hampir merata di semua wilayah di Indonesia.
 
Angka kejatahan pun hampir hilang, karena selain sekarang semua sudah berkecukupan, jajaran POLRI sudah bebas dari suap dan cari makan siang dengan menilang di perempatan. Gaji yang cukup membuat aparat Polisi malu untuk mencari-cari kesalahan orang walau hanya karena lampu spion motornya agak mencong 30 derajat.
 
Oh ya, motor tidak ada saat ini. Semua sudah bermobil, baik yang masih beroda maupun yang sudah melayang tadi. Motor dihilangkan pada 2024, karena angka pembeliannya yang hampir sama dengan jumlah total penduduk Indonesia usia 18 keatas, sangat banyak sekali motor.
 
Para pemilik motor sama dengan para pemilik mobil lama, motornya dibeli oleh Pemerintah dan pemiliknya diberikan modal dan tiket gratis angkutan RiverWay atau yang lainnya. Motor-motornya sendiri dikirim ke Amerika yang pada tahun 2021 sudah bangkrut total karena terlalu banyak membuang uang untuk berperang dan membuat senjata yang akhirnya hancur juga di Irak, Mesir, Suriah, Korea Selatan, dan Libya. Anggaplah motor-motor kiriman Indonesia itu sebagai sumbangan untuk Amerika yang sedang susah.
 
Indonesia menjadi salah satu Negara yang menguasai perekonomian dunia. Kebijakan moneter Luar Negeri dengan mengurangi angka pinjaman dan menambah Devisa melalui semua kekayaan daerah menjadi kekuatan utama. Indonesia menjadi pengekspor terbesar beras, emas, timah, minyak mentah tanpa ada saingan dan semuanya dikelola perusahaan local non Privatisasi. Dan pariwisata Indonesia berkembang pesat dari Sabang sampai Merauke. Angka kunjungan mencapai 55 juta pengunjung pertahun dengan paling banyak mengunjungi Jawa Barat untuk belajar Angklung, maen Wayang Golek dan Jaipongan.
 
Bali sendiri karena terlalu digembor-gemborkan sebagai pusat wisata Indonesia menjadi tidak menarik karena setiap sudutnya menjadi Hotel dan Restoran, semua membangun itu. Akhirnya jumlah kamar hunian di Bali lebih tinggi dari angka pengunjung yang semakin menurun karena bosan. Akhirnya Hotel dan Restoran itupun dibongkar dan dijadikan kantor-kantor pemerintahan. Ditambah lokasi-lokasi Bali menjadi kotor karena sudah tidak mampu menampung tamu.
Imbasnya menjadi menarik. Daerah lain secara merata kebagian pengunjung wisata. Dari Aceh sampai Papua. Angka pengunjung wisata yang meningkat membuat Indonesia kaya raya. Publik dunia pun dibuat terkesima oleh kayanya Indonesia memiliki adat, budaya dan obyek wisata yang indah.
 
Jakarta juga sudah anti banjir. Selain karena memang volume sampahnya berkurang dan semua sampah didaur ulang secara organic dan non organic. Kontur tanah dan jalan sudah mengadopsi skema pori-pori tanah yang biasa dipakai di lapangan sepakbola. Hingga air bisa terserap sempurna dan mengalir lancar ke lubang-lubang mini yang mengalirkannya ke kanal-kanal yang ad adi Barat dan Timur Jakarta. Alhasil banjir pun tidak ada.
 
Semua hidup makmur gemah ripah loh jinawi di Jakarta. Yang tua rajin membagi pengalaman kepada yang muda tanpa memaksakan teori lawasnya yang mungkin sudah tidak cocok. Yang muda pun menjadi total menghormati para senior yang membuka lebar-lebar pintu kreativitas. Adanya “ilmu api unggun” di skema ini membuat Jakarta secara khusus menjadi surge ide dan kreativitas. Ilmu api unggun adalah untuk tetap membuat api unggun menyala, maka harus terus ada kayu-kayu baru yang dibakar agar nyala tetap terjaga.
 
Pemerintah bersinergi dengan rakyat. Presiden yang dilantik tidak di Gedung MPR, karena selain memang gedung itu sudah hancur, sekarang skema pelantikan dilaksanakan di Lapangan Merdeka Jakarta yang sekarang adalah area Senayan. Rakyat diundang secara terbuka setiap ada pelantikan Presiden, dia bersumpah didepan rakyatknya langsung, dan rakyat bisa menagih janji-janjinya ketika dia mulai bertindak aneh.
 
Jakarta sudah menjadi Ibukota yang cantik, rapih, dan bermartabat. Semua daerah juga sama. Semua teratur secara anggun. Rakyat bahagia, pemerintah bahagia…
 
Ada apa lagi dengan Djakarta 2061 – Mari berkhayal… (To be continued…)

Braaaaaakkk….!!!!!

Braaaaakkkk…..!!!

Suara itulah yang pertama kudengar. Dua menit setelah kudengar suara mobil masuk ke pekarangan rumahku.

Ah, ibuku pulang… Ada sekitar 8 hari yang lalu aku bertemu dia. Waktu itupun dia meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!” sebagai tanda dia pergi.

Entah kenapa, dia senang sekali meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!” sebagai penanda dia datang ataupun pergi, bukan salam seperti kebanyakan orang. Dan entah sudah berapa kali pula aku mengganti engsel pintu depan rumahku yang rusak atau bobol. Akhirnya harus kukorbankan uang tabunganku lagi untuk membeli engsel baru.. Waduuhh…

“Daiii……!!“

Nah, itu dia suaranya. Aku bingung, masih mencari alasan untuk apa aku menghampiri Ibuku, karena kangen, karena hormat, karena wajib… Yang jelas aku harus segera keluar dari kamarku, sebelum…

“DAIIIIII… WOII LO DIMANA? GUE PULANG NIH…!!!”

Ya, sebelum teriakan itu keluar..

“Eh, ini dia anak Gue, udah makan Lo? Nih Gue bawain ayam panggang kesukaan Lo.”

Aku melirik box yang dipegangnya di tangan kiri. Ibuku sendiri sedang duduk bersilang kaki di kursi ruang tamu, di tangan kanannya terselip rokok berwarna coklat yang nampaknya masih belum lama dibakar.

“Belum Ma, tadinya Dai mau keluar beli makanan. Dai ga tau Mama mau pulang, Mama dari mana?” Tanyaku sambil mengambil box ayam yang disorongkan ibuku, aku buka sedikit dan harum ayam panggang pelit-pelit keluar dari sela box yang aku buka…lumayan…

“Ah, biasa. Gue seminggu ini ada di luar Jawa, gue kangen ma lo.” Ibuku berkata dan nada bicaranya tidak menyiratkan kebohongan.

“Oh.. Kapan Mama keluar lagi?”

“Tau..gue cape..gue mo tiduran dulu. Kalo besok ga cape, gue subuh udah cabut lagi. Udah lo makan sana, entar lo mati lagi….”

Akupun pergi menuju dapur untuk makan disana, rasa ayam panggang itu sudah duluan mampir ke otakku sehingga itu membuat limpahan air liur di mulutku semakin bertambah.

Ya, itulah Ibuku. Dia memang tipe orangtua yang jarang ada di rumah. Mungkin untuk sebagian orang dengan jenis Ibu yang sama, ceritanya tidak akan jauh dari kesedihan dan hati yang luka. Namun aku tidak. Aku tahu dia begitu untuk aku, dia berjuang sendirian hanya untuk terus menumbu nafas di ragaku ini. Aku tahu dia sangat sayang dan mencintaiku.

Aku memang tidak sekali dua kali merasa jenuh dengan kesendirianku di rumah. Meskipun aku lelaki, aku merasa belum mampu untuk hidup sendiri. Aku juga sebenarnya sangat membenci kegiatan Ibuku, sangat sangat membenci, namun aku bisa apa.

Ibuku sangat pemarah, dia pernah memaki seorang preman saat sang preman menjahili dia. Setelah dimaki, ditampar pulalah preman itu.. Saat ada di rumahpun, suara makiannya sering terdengar. Dia sering marah sendiri, atau juga marah ke orang lewat telepon. Pokoknya dengan sifat emosionalnya itu, Ibuku bisa menjadi manusia yang berbeda, sangat berbeda.

Namun, tidak pernah satu kalipun dia marah kepadaku, tidak pernah..!! Entah kenapa..aku sih santai-santai saja..aku tak pernah mau tahu.

“Dai.. Gue tidur duluan.. Besok kalo lo bangun gue udah ga ada, berarti gue cabut lagi, ok? Gue sayang ke lo.”

Sebuah pernyataan rasa sayang yang aneh. Tanpa ketemu muka, tanpa romantisme, tanpa pelukan atau ciuman di kening. Yang aku tahu, Ibuku tulus mengatakan itu.

“Braaaaakkkk…..!!!” Dan pintu kamarnyapun tertutup.

*****

Braaaaakkkk…..!!!

Aku terperanjat, nyawa belum sepenuhnya terkumpul, aku terbangun dari tidurku ketika suara khas itu terdengar. Kulirik jam, ia menunjukan pukul 04.36. Tiga menit kemudian deru mesin dinyalakan, dan suara gesekan antara aspal dengan ban terdengar menjauh….

*****

Braaaaakkkk…..!!!

12 hari setelah terakhir ibuku pergi kemarin. Terdengar suara dia membahana di ruang tamu dan semakin mendekat ke arahku.

“GUE GA MAU TAU. ITU LO YANG TANGGUNG JAWAB!! GUE YANG CAPE NYARI, GUE YANG KERINGATAN, KOQ DIA YANG AMBIL DUIT GUE…SEMUA GARA-GARA LO!! TAI KUCING LO…!!!!

hening……………….

“KAGAK PERDULI!!!!! GUE MINTA DUIT GUE BALIK. EMANGNYA DIA YANG KASIH MAKAN GUE MA ANAK GUE? LO YANG TANGGUNG. GUE TUNGGU KABAR LO!! GUE OUT…!!”

hening……………….

“DAIIIIII….!!!!”

Ya…akhirnya aku dipanggil.

“Iya, Ma….”

“Hei, pa kabar lo? Gimana sekolah lo? Tabungan lo masih ada? Kalo ga ada entar Gue transferin pake ATM.”

Ucapnya tanpa satu sentimeterpun beranjak dari kursi singgasananya untuk memelukku atau menerima ciuman tanganku…biasa saja..

“Baik Ma, sekolah lancar-lancar aja. Kemarin ada undangan untuk Orangtua murid, Daiva kembali minta bantuan Mang Aswin untk ngaku sebagai Omnya Daiva. Tabungan masih cukup koq, Daiva ga ada keperluan yang berat-berat.”

“Aaah, gapapa, entar Gue tambahin aja, terserah lo mo pake buat apa. Uang listrik ma telepon udah Gue titip ke Aswin, biar dia yang bayar entar.”

“Ya sudah, gimana Mama saja. Mama dari mana?”

Aku kembali mengajukan pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya.

“Ah biasa, gue pergi jauh, sempet ke luar, tapi ga lama.”

Ibuku kembali menjawab dengan kembali tanpa nama yang jelas. Apa susahnya menyebut Jakarta, Bandung, Sukabumi, Singapura, Kutub Utara, atau apalah sebuah nama daerah di dunia ini. Aku tidak tahu apakah memang ibuku tidak tahu nama-nama daerah. Atau juga karena terlalu banyaknya tempat yang dia singgahi.

Ah Ibuku, banyak yang aku tidak tahu darinya. Yang aku tahu, ia sangat sayang padaku, seperti yang selama ini aku katakan, seperti yang selama ini aku rasakan.

“Ma…,” Aku memanggil Ibuku.

Dia menatapku dengan tatapan bermakna “apa?”..

“Daiva kangen Ma…Mama ga usahlah pergi-pergi lagi.”

Dia terpaku, menatapku hampa, lalu tersenyum.

“Lo ga tau, Gue ga bisa diam disini. Gue udah terlanjur masuk ke bisnis gue,”

“Tapi…..,”

“Gue ngerti, Gue ga kayak Ibu yang lain. Diam di rumah, masak buat anaknya, cium kening anaknya saat berjumpa, ngucap kata sayang plus pelukan. Cuma asal lo tahu, kasih sayang Gue ke lo ga bisa diukur dengan itu semua. Gue berani adu…”

Aku masih diam.

diam……

kami berdua………diam…..

“Daiva… Mama minta maaf. Dalam tiap detik Mama, yang ada hanya kamu…”

Haaa… Dia menyebut dirinya “Mama” dan memanggilku “kamu”. Bukan “Gue dan Lo” lagi. Jujur, ini yang pertama setelah kami ditinggal pergi Papa waktu aku masih berumur 11 tahun. Berarti sudah 6 tahun, sudah lama juga.

“Lebih dari apapun, lebih dari pembuktian apapun. Kamu adalah tujuan dari semua apa yang Mama lakukan.”

“Ma….” Panggilku lagi.

“Ahhh.. Udahlah.. Gue cape.. Pengen tidur.. Sori gue ga bawa makanan buat lo…”

Dia bilang begitu dengan satu sunggingan senyum manis di bibirnya. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa ingin sekali mengenang sunggingan senyum itu.

*****

Braaaaakkkk…..!!!

Ah, Ibuku pulang…Tapi jujur, ini rekor terbaru. Dia baru pergi 2 hari lalu, subuh, plus dengan tetap meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!-nya” lagi.

Tapi……. kenapa sepi…?

5 menit berlalu, tak ada teriakan memanggil namaku.

sepi…..

Aku penasaran, beranjak dari ranjangku menuju ruang tamu. Tapi tiada siapapun disana.. Mungkin Ibuku dikamar.

Aku menuju kamar Ibuku, tapi tetap sepi. Dimana dia..

Penuh penasaran, aku berkeliling rumah, mencari Ibuku..Tapi tetap, tidak ada siapapun di dalam rumah. Hanya aku…

Braaaaakkkk…..!!!

Suara pintu itu terdengar lagi. Aku kontan berlari ke depan, menuju arah suara yang sangat jelas terdengar. Kali ini kulihat hiasan yang menggantung di dinding pintu bergoyang-goyang, pertanda pintu memang telah dibuka.

Aku buka pintu, aku keluar. Namun kembali, tiada siapapun disana. Tidak mobil Ibuku, tidak juga sosok Ibuku.

Aku tertegun sebentar, mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. Dan teleponpun berdering..

10 menit kemudian aku baru mengetahui bahwa Ibuku telah meninggal kemarin dalam sebuah kecelakaan mobil.

“Ma…….”

*****

Udin.. Oh Udin..

“Si Udin masih ada, stress aku hari ini.”

Itu bunyi SMS yang kuterima dari Ibuku pagi ini. Aku hanya tersenyum membacanya.

Udin, oh Udin…

Udin adalah penghuni baru di rumahku. Keberadaannya tiba-tiba saja ada. Bapakku biasa saja menerimanya, ramai katanya. Sementara Ibuku sama sekali tidak. Aku sih setuju-setuju saja ketika mereka info bahwa rumah punya penghuni baru.

“Udin maen tidur saja di kasurku. Aku pikir ga ada dia. Terkejut sekali aku. Dasar kurang ajar.” SMS terbaru dari ibuku. Benci sekali dia sama si Udin.

Aku tak sabar ingin pulang. Aku mau kenalan sama si Udin ini. Biar bagaimana dia tinggal di di rumahku. Sebagai anak sulung, aku kan punya hak juga untuk membiarkannya tinggal atau pergi.

“Udin makin kurang ajar. Dia sekarang suka masuk kamar mandi tiba-tiba. Ingin kupukul dia dengan gayung.” SMS ibuku baru saja masuk. Kujawab bahwa aku segera pulang, karena ada cuti bersama.

Pulanglah aku. Tak sabar ketemu si Udin ini. Bagaimana rupanya, bagaimana bentuknya. Penasaran sekali.

Sampai dirumah, pikirannku hanya mencari si Udin.

“Mana dia?” Tanyaku pada Ibuku. Ibuku menggeleng.

“Nanti juga ada.” Katanya dengan mimik muka gemas.

Kutunggu… Terus kutunggu.. Mana ini si Udin. Hingga…

“Udin.. Itu dia.. Itu si Udin!” Ibuku berteriak kencang dari dapur. Aku berlari.

Nah, itu dia, penghuni baru di rumahku. Pengganti penghuni-penghuni lama yang berakhir di sapu lidi atau koran yang dipukulkan Bapakku.

Diam di sudut, memakan sisa-sisa makanan, buntut panjangnya diam melihatku. Aku bergerak cepat menyambar sapu lidi.

Ciaaaatttttt…. Bruk.. Bruk.. Bruukkk.. Aku hantam penghuni baru yang sering membuat Ibuku jantungan itu.

Dan demikian, matilah tikus kecil hitam itu ditanganku…

Udin.. Oh Udin.. Dasar tikus..

(Sukabumi, dalam panik mengepung tikus yang dinamakan Udin oleh Ibuku.. hehe.. )