Braaaaaakkk….!!!!!

Braaaaakkkk…..!!!

Suara itulah yang pertama kudengar. Dua menit setelah kudengar suara mobil masuk ke pekarangan rumahku.

Ah, ibuku pulang… Ada sekitar 8 hari yang lalu aku bertemu dia. Waktu itupun dia meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!” sebagai tanda dia pergi.

Entah kenapa, dia senang sekali meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!” sebagai penanda dia datang ataupun pergi, bukan salam seperti kebanyakan orang. Dan entah sudah berapa kali pula aku mengganti engsel pintu depan rumahku yang rusak atau bobol. Akhirnya harus kukorbankan uang tabunganku lagi untuk membeli engsel baru.. Waduuhh…

“Daiii……!!“

Nah, itu dia suaranya. Aku bingung, masih mencari alasan untuk apa aku menghampiri Ibuku, karena kangen, karena hormat, karena wajib… Yang jelas aku harus segera keluar dari kamarku, sebelum…

“DAIIIIII… WOII LO DIMANA? GUE PULANG NIH…!!!”

Ya, sebelum teriakan itu keluar..

“Eh, ini dia anak Gue, udah makan Lo? Nih Gue bawain ayam panggang kesukaan Lo.”

Aku melirik box yang dipegangnya di tangan kiri. Ibuku sendiri sedang duduk bersilang kaki di kursi ruang tamu, di tangan kanannya terselip rokok berwarna coklat yang nampaknya masih belum lama dibakar.

“Belum Ma, tadinya Dai mau keluar beli makanan. Dai ga tau Mama mau pulang, Mama dari mana?” Tanyaku sambil mengambil box ayam yang disorongkan ibuku, aku buka sedikit dan harum ayam panggang pelit-pelit keluar dari sela box yang aku buka…lumayan…

“Ah, biasa. Gue seminggu ini ada di luar Jawa, gue kangen ma lo.” Ibuku berkata dan nada bicaranya tidak menyiratkan kebohongan.

“Oh.. Kapan Mama keluar lagi?”

“Tau..gue cape..gue mo tiduran dulu. Kalo besok ga cape, gue subuh udah cabut lagi. Udah lo makan sana, entar lo mati lagi….”

Akupun pergi menuju dapur untuk makan disana, rasa ayam panggang itu sudah duluan mampir ke otakku sehingga itu membuat limpahan air liur di mulutku semakin bertambah.

Ya, itulah Ibuku. Dia memang tipe orangtua yang jarang ada di rumah. Mungkin untuk sebagian orang dengan jenis Ibu yang sama, ceritanya tidak akan jauh dari kesedihan dan hati yang luka. Namun aku tidak. Aku tahu dia begitu untuk aku, dia berjuang sendirian hanya untuk terus menumbu nafas di ragaku ini. Aku tahu dia sangat sayang dan mencintaiku.

Aku memang tidak sekali dua kali merasa jenuh dengan kesendirianku di rumah. Meskipun aku lelaki, aku merasa belum mampu untuk hidup sendiri. Aku juga sebenarnya sangat membenci kegiatan Ibuku, sangat sangat membenci, namun aku bisa apa.

Ibuku sangat pemarah, dia pernah memaki seorang preman saat sang preman menjahili dia. Setelah dimaki, ditampar pulalah preman itu.. Saat ada di rumahpun, suara makiannya sering terdengar. Dia sering marah sendiri, atau juga marah ke orang lewat telepon. Pokoknya dengan sifat emosionalnya itu, Ibuku bisa menjadi manusia yang berbeda, sangat berbeda.

Namun, tidak pernah satu kalipun dia marah kepadaku, tidak pernah..!! Entah kenapa..aku sih santai-santai saja..aku tak pernah mau tahu.

“Dai.. Gue tidur duluan.. Besok kalo lo bangun gue udah ga ada, berarti gue cabut lagi, ok? Gue sayang ke lo.”

Sebuah pernyataan rasa sayang yang aneh. Tanpa ketemu muka, tanpa romantisme, tanpa pelukan atau ciuman di kening. Yang aku tahu, Ibuku tulus mengatakan itu.

“Braaaaakkkk…..!!!” Dan pintu kamarnyapun tertutup.

*****

Braaaaakkkk…..!!!

Aku terperanjat, nyawa belum sepenuhnya terkumpul, aku terbangun dari tidurku ketika suara khas itu terdengar. Kulirik jam, ia menunjukan pukul 04.36. Tiga menit kemudian deru mesin dinyalakan, dan suara gesekan antara aspal dengan ban terdengar menjauh….

*****

Braaaaakkkk…..!!!

12 hari setelah terakhir ibuku pergi kemarin. Terdengar suara dia membahana di ruang tamu dan semakin mendekat ke arahku.

“GUE GA MAU TAU. ITU LO YANG TANGGUNG JAWAB!! GUE YANG CAPE NYARI, GUE YANG KERINGATAN, KOQ DIA YANG AMBIL DUIT GUE…SEMUA GARA-GARA LO!! TAI KUCING LO…!!!!

hening……………….

“KAGAK PERDULI!!!!! GUE MINTA DUIT GUE BALIK. EMANGNYA DIA YANG KASIH MAKAN GUE MA ANAK GUE? LO YANG TANGGUNG. GUE TUNGGU KABAR LO!! GUE OUT…!!”

hening……………….

“DAIIIIII….!!!!”

Ya…akhirnya aku dipanggil.

“Iya, Ma….”

“Hei, pa kabar lo? Gimana sekolah lo? Tabungan lo masih ada? Kalo ga ada entar Gue transferin pake ATM.”

Ucapnya tanpa satu sentimeterpun beranjak dari kursi singgasananya untuk memelukku atau menerima ciuman tanganku…biasa saja..

“Baik Ma, sekolah lancar-lancar aja. Kemarin ada undangan untuk Orangtua murid, Daiva kembali minta bantuan Mang Aswin untk ngaku sebagai Omnya Daiva. Tabungan masih cukup koq, Daiva ga ada keperluan yang berat-berat.”

“Aaah, gapapa, entar Gue tambahin aja, terserah lo mo pake buat apa. Uang listrik ma telepon udah Gue titip ke Aswin, biar dia yang bayar entar.”

“Ya sudah, gimana Mama saja. Mama dari mana?”

Aku kembali mengajukan pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya.

“Ah biasa, gue pergi jauh, sempet ke luar, tapi ga lama.”

Ibuku kembali menjawab dengan kembali tanpa nama yang jelas. Apa susahnya menyebut Jakarta, Bandung, Sukabumi, Singapura, Kutub Utara, atau apalah sebuah nama daerah di dunia ini. Aku tidak tahu apakah memang ibuku tidak tahu nama-nama daerah. Atau juga karena terlalu banyaknya tempat yang dia singgahi.

Ah Ibuku, banyak yang aku tidak tahu darinya. Yang aku tahu, ia sangat sayang padaku, seperti yang selama ini aku katakan, seperti yang selama ini aku rasakan.

“Ma…,” Aku memanggil Ibuku.

Dia menatapku dengan tatapan bermakna “apa?”..

“Daiva kangen Ma…Mama ga usahlah pergi-pergi lagi.”

Dia terpaku, menatapku hampa, lalu tersenyum.

“Lo ga tau, Gue ga bisa diam disini. Gue udah terlanjur masuk ke bisnis gue,”

“Tapi…..,”

“Gue ngerti, Gue ga kayak Ibu yang lain. Diam di rumah, masak buat anaknya, cium kening anaknya saat berjumpa, ngucap kata sayang plus pelukan. Cuma asal lo tahu, kasih sayang Gue ke lo ga bisa diukur dengan itu semua. Gue berani adu…”

Aku masih diam.

diam……

kami berdua………diam…..

“Daiva… Mama minta maaf. Dalam tiap detik Mama, yang ada hanya kamu…”

Haaa… Dia menyebut dirinya “Mama” dan memanggilku “kamu”. Bukan “Gue dan Lo” lagi. Jujur, ini yang pertama setelah kami ditinggal pergi Papa waktu aku masih berumur 11 tahun. Berarti sudah 6 tahun, sudah lama juga.

“Lebih dari apapun, lebih dari pembuktian apapun. Kamu adalah tujuan dari semua apa yang Mama lakukan.”

“Ma….” Panggilku lagi.

“Ahhh.. Udahlah.. Gue cape.. Pengen tidur.. Sori gue ga bawa makanan buat lo…”

Dia bilang begitu dengan satu sunggingan senyum manis di bibirnya. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa ingin sekali mengenang sunggingan senyum itu.

*****

Braaaaakkkk…..!!!

Ah, Ibuku pulang…Tapi jujur, ini rekor terbaru. Dia baru pergi 2 hari lalu, subuh, plus dengan tetap meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!-nya” lagi.

Tapi……. kenapa sepi…?

5 menit berlalu, tak ada teriakan memanggil namaku.

sepi…..

Aku penasaran, beranjak dari ranjangku menuju ruang tamu. Tapi tiada siapapun disana.. Mungkin Ibuku dikamar.

Aku menuju kamar Ibuku, tapi tetap sepi. Dimana dia..

Penuh penasaran, aku berkeliling rumah, mencari Ibuku..Tapi tetap, tidak ada siapapun di dalam rumah. Hanya aku…

Braaaaakkkk…..!!!

Suara pintu itu terdengar lagi. Aku kontan berlari ke depan, menuju arah suara yang sangat jelas terdengar. Kali ini kulihat hiasan yang menggantung di dinding pintu bergoyang-goyang, pertanda pintu memang telah dibuka.

Aku buka pintu, aku keluar. Namun kembali, tiada siapapun disana. Tidak mobil Ibuku, tidak juga sosok Ibuku.

Aku tertegun sebentar, mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. Dan teleponpun berdering..

10 menit kemudian aku baru mengetahui bahwa Ibuku telah meninggal kemarin dalam sebuah kecelakaan mobil.

“Ma…….”

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s