Tobat Satu Jiwa

Berteriak satu jiwa dalam kefatamorganaan akal pikiran.
Protes pada ketidakadilan penampilan kehidupan yang berbeda-beda.
Meratapi tampilannya di cermin yang compang-camping.
Dan mengutuki penampilan berkilauan yang lewat di depannya.

Dia buka kitab suci, mencari ayat-ayat kekayaan.
Tak dijumpainya…
Dia tiba di hadapan satu kenyataan bahwa dia tercipta memang berbeda.
Semua berbeda…

Inikah adil?
Inikah takdir?
Inikah yang harus diimani?

Compang-camping tak pernah dipilihnya.
Buruk rupa tak pernah diingininya.
Bukan ini yang diimpikannya…

Tersungkur dia dalam abu ketabuan…
Dia sadari adanya kesalahan…
Bukan dari siapa-sesiapa…
Tapi dari dirinya sendiri.

Dia kuliti sejarahnya, dibuka sekujur tubuhnya…
Diburaikannya seluruh isi pikiran dan kepalanya.
Dikelupasnya seluruh urat nadi awal kehidupannya.
Menjadi berlembar-lembar kata-kata…

Bukan Tuhan…
Bukan Tuhan yang mencompang-campingkannya.
Tapi dia sendiri…
Dia sendiri yang menyungkurkan seluruh bagian nafasnya dalam kenistaan.
Lupa akan nikmat, sombong akan mukjizat…

Menangislah ia.. Satu jiwa…

Advertisements