Djakarta 2061…

Alkisah, Jakarta 50 tahun di depan…
 
Jakarta…. Kota yang saat ini berstatus tunggal sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang saat ini carut marutnya terkenal sampai ke lubang belut di negara bagian North Carolina, Amerika, telah berubah rapih dan anggun. Jalanan terlihat sangat bersih. Pohon-pohon rindang menghiasi setiap sudut kota dan penggalan antar jalan. Sejuk sekali. Mengelilingi pohon-pohon itu, rumput hijau cantik rimbun tertata rapih dalam tinggi yang sama, sangat terawat dan berbau harum, tak berani seorangpun menginjak rumput-rumputan itu.
 
Taman-taman cantik menghiasi setiap sudut kota, rapi diisi rangkaian bunga-bunga warna-warni dan pohon-pohon rindang yang memberikan kesegaran tersendiri bagi mereka yang lewat dibawahnya.
 
Setiap senti kota bening kemilau bak pualam buatan Citatah, Padalarang, Bandung. Jalanan rapih bahkan serpih debupun sulit sekali dicari selain oleh Mikroskop Elektron.
 
Jalanan kota sudah serba otomotis dengan pemindai khusus yang bisa mendeteksi sampai ke jenis baut yang dipakai mobil yang bersangkutan yang sekarang sebagian bahkan sudah ada yang melayang tanpa roda.
 
Tidak ada istilah 3 in 1 lagi, karena saat itu kepemilikan mobil terbatasi, satu keluarga hanya satu mobil saja. Jalan tolnya sendiri jauh dari macet, karena volume kendaraan sangat terbatas. Kendaraan-kendaraan model lama, sudah ditarik dan dijadikan bahan baku pembuatan barang-barang kebutuhan keluarga seperti Kulkas, Rice Cooker, Tempat Sampah, dll. Dan setiap penarikan mobil diikuti oleh pemberian modal untuk pembelian kendaraan baru atau tiket gratis penggunaan MonoRail, Trem, UnderGroud Train, dan RiverWay (nanti diceritakan) selama seumur hidup yang waktu itu menjadi angkutan favorit di Jakarta.
 
Gedung DPR/MPR sudah tidak ada zaman ini, karena setelah dibakar masyarakat dalam demo raksasa pada 21 Desember 2015, yang berhasil menggulingkan para Wakil Partai alih-alih Wakil Rakyat dan anggota Dewan yang sudah tidak terhormat. Area di Gatot Subroto itu sudah menjadi areal mewah pemakaman umum sistem hidrolik, dimana lahan bisa terpakai efektif secara garis vertical, tumpuk menumpuk secara otomatis menggali lebih dalam tanpa mengurangi nilai Syariah dalam makna pemakaman. Areal mewah ini juga sangat tertata rapih dan modern dengan system pemindaian mata bagi siapa saja yang hendak berziarah.
 
Monas, sebagai tugu utama kota sekarang digantikan system pencitraan proyeksi 3 dimensi hologram dengan laser. berpendar-pendar dengan  cahaya yang bisa berubah-rubah mengikuti iklim dan cuaca. SementaraMonas yang aslinya dipindahkan ke Surabaya sebagai kenang-kenangan Bung Karno yang mencetuskan pertama kali. Monas dipindahkan secara terpisah-pisah dalam paket yang jumlahnya mencapai 100 kargo. Dan dipasang kembali menggunakan system laser yang sudah lama menggantikan semen sebagai perekat.
 
Patung Pancoran sudah tidak ada, bukan karena sang patung merasa pegal karena diam dalam posisi mengejar bulan seperti itu, namun karena adanya proyek Mono Rail membuatnya hilang meninggalkan kenangan mendalam bagi sebagian masyarakat Jakarta, khususnya bagi pemilik Sate Khas Pancoran.
 
Yang luar biasanya adalah Sungai Ciliwung yang saat itu sudah sangat bersih. Berair jernih dan tanpa satupun sampah yang berserakan. Ini terjadi karena dalam setiap 20 meter panjang sungai dipasang detektor laser yang akan menembakan lasernya ke arah sampah, dan akan menghancurkan sampah dalam bentuk partikel-partikel kecil yang pergi bersama udara, dan asyiknya dia menebarkan harum.
 
Pada saat yang bersamaan menembaknya laser, dia mengirimkan kode digital kepada kamera CCTV yang ada di atasnya untuk merekam langsung secara Real Time siapa yang membuang sampah sembaranga dan mendeteksi orang tersebut melalui gelang digital yang dimiliki masing-masing masyarakat sebagai pengganti KTP. Yang terdeteksi langsung dikirim email yang berisi warning dan pengurangan gaji langsung ke perusahaan dimana dia bekerja. Tapi inipun jarang terjadi sejak 20 tahun terakhir dimana tidak ada lagi orang yang berani buang sampah sembarangan.
 
Masih bicara Sungai Ciliwung. Yang keren, sungai ini membantu mengurai kemacetan karena sekarang ada angkutan RiverWay namanya dalam bentuk perahu mungil berpenumpang 20 orang dan serba otomatis. Memiliki puluhan Halte, dalam beberapa koridor angkutan, RiverWay menjadi sarana favorit untuk berangkat menuju lokasi tujuan. Dan RiverWay juga menjadi obyek wisata baru di Jakarta.
 
Para pengemudi angkutan umum semuanya rapih dan wangi. Dengan wajah-wajah ramah dan bahasa yang santun. Semua terjadi karena rajinnya konsultasi dengan psikolog yang wajib disediakan para vendor kendaraan umum di Jakarta. Hingga jiwanya yang mungkin bawaan lahir bisa sedikit demi sedikit menjadi lunak. Tidak ada istilah ugal-ugalan di angkutan umum. Semua lancar, tertib dan teratur.
 
Sudah tidak ada rakyat miskin di Jakarta. Semua merata. Memang ada yang kaya, tapi sama sekali tidak ada yang tidak mampu. Pada tahun 2016, karena anggaran MPR/DPR langsung hilang, anggaran itu dibagikan merata kepada masyarakat Urban yang tidak jelas pekerjaannya dan diminta kembali ke kota asal dan menjadikan uang itu sebagai modal membangun desa atau kampungnya. Dan saat itu pula, perumahan-perumanhan bantaran kali dirapihkan dan dibersihkan. Masyarakatpun pulang ke kampung dengan riang gembira. Dan pada 2020, desa-desa itu menjadi maju dan pendapatan ekonomi hampir merata di semua wilayah di Indonesia.
 
Angka kejatahan pun hampir hilang, karena selain sekarang semua sudah berkecukupan, jajaran POLRI sudah bebas dari suap dan cari makan siang dengan menilang di perempatan. Gaji yang cukup membuat aparat Polisi malu untuk mencari-cari kesalahan orang walau hanya karena lampu spion motornya agak mencong 30 derajat.
 
Oh ya, motor tidak ada saat ini. Semua sudah bermobil, baik yang masih beroda maupun yang sudah melayang tadi. Motor dihilangkan pada 2024, karena angka pembeliannya yang hampir sama dengan jumlah total penduduk Indonesia usia 18 keatas, sangat banyak sekali motor.
 
Para pemilik motor sama dengan para pemilik mobil lama, motornya dibeli oleh Pemerintah dan pemiliknya diberikan modal dan tiket gratis angkutan RiverWay atau yang lainnya. Motor-motornya sendiri dikirim ke Amerika yang pada tahun 2021 sudah bangkrut total karena terlalu banyak membuang uang untuk berperang dan membuat senjata yang akhirnya hancur juga di Irak, Mesir, Suriah, Korea Selatan, dan Libya. Anggaplah motor-motor kiriman Indonesia itu sebagai sumbangan untuk Amerika yang sedang susah.
 
Indonesia menjadi salah satu Negara yang menguasai perekonomian dunia. Kebijakan moneter Luar Negeri dengan mengurangi angka pinjaman dan menambah Devisa melalui semua kekayaan daerah menjadi kekuatan utama. Indonesia menjadi pengekspor terbesar beras, emas, timah, minyak mentah tanpa ada saingan dan semuanya dikelola perusahaan local non Privatisasi. Dan pariwisata Indonesia berkembang pesat dari Sabang sampai Merauke. Angka kunjungan mencapai 55 juta pengunjung pertahun dengan paling banyak mengunjungi Jawa Barat untuk belajar Angklung, maen Wayang Golek dan Jaipongan.
 
Bali sendiri karena terlalu digembor-gemborkan sebagai pusat wisata Indonesia menjadi tidak menarik karena setiap sudutnya menjadi Hotel dan Restoran, semua membangun itu. Akhirnya jumlah kamar hunian di Bali lebih tinggi dari angka pengunjung yang semakin menurun karena bosan. Akhirnya Hotel dan Restoran itupun dibongkar dan dijadikan kantor-kantor pemerintahan. Ditambah lokasi-lokasi Bali menjadi kotor karena sudah tidak mampu menampung tamu.
Imbasnya menjadi menarik. Daerah lain secara merata kebagian pengunjung wisata. Dari Aceh sampai Papua. Angka pengunjung wisata yang meningkat membuat Indonesia kaya raya. Publik dunia pun dibuat terkesima oleh kayanya Indonesia memiliki adat, budaya dan obyek wisata yang indah.
 
Jakarta juga sudah anti banjir. Selain karena memang volume sampahnya berkurang dan semua sampah didaur ulang secara organic dan non organic. Kontur tanah dan jalan sudah mengadopsi skema pori-pori tanah yang biasa dipakai di lapangan sepakbola. Hingga air bisa terserap sempurna dan mengalir lancar ke lubang-lubang mini yang mengalirkannya ke kanal-kanal yang ad adi Barat dan Timur Jakarta. Alhasil banjir pun tidak ada.
 
Semua hidup makmur gemah ripah loh jinawi di Jakarta. Yang tua rajin membagi pengalaman kepada yang muda tanpa memaksakan teori lawasnya yang mungkin sudah tidak cocok. Yang muda pun menjadi total menghormati para senior yang membuka lebar-lebar pintu kreativitas. Adanya “ilmu api unggun” di skema ini membuat Jakarta secara khusus menjadi surge ide dan kreativitas. Ilmu api unggun adalah untuk tetap membuat api unggun menyala, maka harus terus ada kayu-kayu baru yang dibakar agar nyala tetap terjaga.
 
Pemerintah bersinergi dengan rakyat. Presiden yang dilantik tidak di Gedung MPR, karena selain memang gedung itu sudah hancur, sekarang skema pelantikan dilaksanakan di Lapangan Merdeka Jakarta yang sekarang adalah area Senayan. Rakyat diundang secara terbuka setiap ada pelantikan Presiden, dia bersumpah didepan rakyatknya langsung, dan rakyat bisa menagih janji-janjinya ketika dia mulai bertindak aneh.
 
Jakarta sudah menjadi Ibukota yang cantik, rapih, dan bermartabat. Semua daerah juga sama. Semua teratur secara anggun. Rakyat bahagia, pemerintah bahagia…
 
Ada apa lagi dengan Djakarta 2061 – Mari berkhayal… (To be continued…)

Braaaaaakkk….!!!!!

Braaaaakkkk…..!!!

Suara itulah yang pertama kudengar. Dua menit setelah kudengar suara mobil masuk ke pekarangan rumahku.

Ah, ibuku pulang… Ada sekitar 8 hari yang lalu aku bertemu dia. Waktu itupun dia meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!” sebagai tanda dia pergi.

Entah kenapa, dia senang sekali meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!” sebagai penanda dia datang ataupun pergi, bukan salam seperti kebanyakan orang. Dan entah sudah berapa kali pula aku mengganti engsel pintu depan rumahku yang rusak atau bobol. Akhirnya harus kukorbankan uang tabunganku lagi untuk membeli engsel baru.. Waduuhh…

“Daiii……!!“

Nah, itu dia suaranya. Aku bingung, masih mencari alasan untuk apa aku menghampiri Ibuku, karena kangen, karena hormat, karena wajib… Yang jelas aku harus segera keluar dari kamarku, sebelum…

“DAIIIIII… WOII LO DIMANA? GUE PULANG NIH…!!!”

Ya, sebelum teriakan itu keluar..

“Eh, ini dia anak Gue, udah makan Lo? Nih Gue bawain ayam panggang kesukaan Lo.”

Aku melirik box yang dipegangnya di tangan kiri. Ibuku sendiri sedang duduk bersilang kaki di kursi ruang tamu, di tangan kanannya terselip rokok berwarna coklat yang nampaknya masih belum lama dibakar.

“Belum Ma, tadinya Dai mau keluar beli makanan. Dai ga tau Mama mau pulang, Mama dari mana?” Tanyaku sambil mengambil box ayam yang disorongkan ibuku, aku buka sedikit dan harum ayam panggang pelit-pelit keluar dari sela box yang aku buka…lumayan…

“Ah, biasa. Gue seminggu ini ada di luar Jawa, gue kangen ma lo.” Ibuku berkata dan nada bicaranya tidak menyiratkan kebohongan.

“Oh.. Kapan Mama keluar lagi?”

“Tau..gue cape..gue mo tiduran dulu. Kalo besok ga cape, gue subuh udah cabut lagi. Udah lo makan sana, entar lo mati lagi….”

Akupun pergi menuju dapur untuk makan disana, rasa ayam panggang itu sudah duluan mampir ke otakku sehingga itu membuat limpahan air liur di mulutku semakin bertambah.

Ya, itulah Ibuku. Dia memang tipe orangtua yang jarang ada di rumah. Mungkin untuk sebagian orang dengan jenis Ibu yang sama, ceritanya tidak akan jauh dari kesedihan dan hati yang luka. Namun aku tidak. Aku tahu dia begitu untuk aku, dia berjuang sendirian hanya untuk terus menumbu nafas di ragaku ini. Aku tahu dia sangat sayang dan mencintaiku.

Aku memang tidak sekali dua kali merasa jenuh dengan kesendirianku di rumah. Meskipun aku lelaki, aku merasa belum mampu untuk hidup sendiri. Aku juga sebenarnya sangat membenci kegiatan Ibuku, sangat sangat membenci, namun aku bisa apa.

Ibuku sangat pemarah, dia pernah memaki seorang preman saat sang preman menjahili dia. Setelah dimaki, ditampar pulalah preman itu.. Saat ada di rumahpun, suara makiannya sering terdengar. Dia sering marah sendiri, atau juga marah ke orang lewat telepon. Pokoknya dengan sifat emosionalnya itu, Ibuku bisa menjadi manusia yang berbeda, sangat berbeda.

Namun, tidak pernah satu kalipun dia marah kepadaku, tidak pernah..!! Entah kenapa..aku sih santai-santai saja..aku tak pernah mau tahu.

“Dai.. Gue tidur duluan.. Besok kalo lo bangun gue udah ga ada, berarti gue cabut lagi, ok? Gue sayang ke lo.”

Sebuah pernyataan rasa sayang yang aneh. Tanpa ketemu muka, tanpa romantisme, tanpa pelukan atau ciuman di kening. Yang aku tahu, Ibuku tulus mengatakan itu.

“Braaaaakkkk…..!!!” Dan pintu kamarnyapun tertutup.

*****

Braaaaakkkk…..!!!

Aku terperanjat, nyawa belum sepenuhnya terkumpul, aku terbangun dari tidurku ketika suara khas itu terdengar. Kulirik jam, ia menunjukan pukul 04.36. Tiga menit kemudian deru mesin dinyalakan, dan suara gesekan antara aspal dengan ban terdengar menjauh….

*****

Braaaaakkkk…..!!!

12 hari setelah terakhir ibuku pergi kemarin. Terdengar suara dia membahana di ruang tamu dan semakin mendekat ke arahku.

“GUE GA MAU TAU. ITU LO YANG TANGGUNG JAWAB!! GUE YANG CAPE NYARI, GUE YANG KERINGATAN, KOQ DIA YANG AMBIL DUIT GUE…SEMUA GARA-GARA LO!! TAI KUCING LO…!!!!

hening……………….

“KAGAK PERDULI!!!!! GUE MINTA DUIT GUE BALIK. EMANGNYA DIA YANG KASIH MAKAN GUE MA ANAK GUE? LO YANG TANGGUNG. GUE TUNGGU KABAR LO!! GUE OUT…!!”

hening……………….

“DAIIIIII….!!!!”

Ya…akhirnya aku dipanggil.

“Iya, Ma….”

“Hei, pa kabar lo? Gimana sekolah lo? Tabungan lo masih ada? Kalo ga ada entar Gue transferin pake ATM.”

Ucapnya tanpa satu sentimeterpun beranjak dari kursi singgasananya untuk memelukku atau menerima ciuman tanganku…biasa saja..

“Baik Ma, sekolah lancar-lancar aja. Kemarin ada undangan untuk Orangtua murid, Daiva kembali minta bantuan Mang Aswin untk ngaku sebagai Omnya Daiva. Tabungan masih cukup koq, Daiva ga ada keperluan yang berat-berat.”

“Aaah, gapapa, entar Gue tambahin aja, terserah lo mo pake buat apa. Uang listrik ma telepon udah Gue titip ke Aswin, biar dia yang bayar entar.”

“Ya sudah, gimana Mama saja. Mama dari mana?”

Aku kembali mengajukan pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya.

“Ah biasa, gue pergi jauh, sempet ke luar, tapi ga lama.”

Ibuku kembali menjawab dengan kembali tanpa nama yang jelas. Apa susahnya menyebut Jakarta, Bandung, Sukabumi, Singapura, Kutub Utara, atau apalah sebuah nama daerah di dunia ini. Aku tidak tahu apakah memang ibuku tidak tahu nama-nama daerah. Atau juga karena terlalu banyaknya tempat yang dia singgahi.

Ah Ibuku, banyak yang aku tidak tahu darinya. Yang aku tahu, ia sangat sayang padaku, seperti yang selama ini aku katakan, seperti yang selama ini aku rasakan.

“Ma…,” Aku memanggil Ibuku.

Dia menatapku dengan tatapan bermakna “apa?”..

“Daiva kangen Ma…Mama ga usahlah pergi-pergi lagi.”

Dia terpaku, menatapku hampa, lalu tersenyum.

“Lo ga tau, Gue ga bisa diam disini. Gue udah terlanjur masuk ke bisnis gue,”

“Tapi…..,”

“Gue ngerti, Gue ga kayak Ibu yang lain. Diam di rumah, masak buat anaknya, cium kening anaknya saat berjumpa, ngucap kata sayang plus pelukan. Cuma asal lo tahu, kasih sayang Gue ke lo ga bisa diukur dengan itu semua. Gue berani adu…”

Aku masih diam.

diam……

kami berdua………diam…..

“Daiva… Mama minta maaf. Dalam tiap detik Mama, yang ada hanya kamu…”

Haaa… Dia menyebut dirinya “Mama” dan memanggilku “kamu”. Bukan “Gue dan Lo” lagi. Jujur, ini yang pertama setelah kami ditinggal pergi Papa waktu aku masih berumur 11 tahun. Berarti sudah 6 tahun, sudah lama juga.

“Lebih dari apapun, lebih dari pembuktian apapun. Kamu adalah tujuan dari semua apa yang Mama lakukan.”

“Ma….” Panggilku lagi.

“Ahhh.. Udahlah.. Gue cape.. Pengen tidur.. Sori gue ga bawa makanan buat lo…”

Dia bilang begitu dengan satu sunggingan senyum manis di bibirnya. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa ingin sekali mengenang sunggingan senyum itu.

*****

Braaaaakkkk…..!!!

Ah, Ibuku pulang…Tapi jujur, ini rekor terbaru. Dia baru pergi 2 hari lalu, subuh, plus dengan tetap meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!-nya” lagi.

Tapi……. kenapa sepi…?

5 menit berlalu, tak ada teriakan memanggil namaku.

sepi…..

Aku penasaran, beranjak dari ranjangku menuju ruang tamu. Tapi tiada siapapun disana.. Mungkin Ibuku dikamar.

Aku menuju kamar Ibuku, tapi tetap sepi. Dimana dia..

Penuh penasaran, aku berkeliling rumah, mencari Ibuku..Tapi tetap, tidak ada siapapun di dalam rumah. Hanya aku…

Braaaaakkkk…..!!!

Suara pintu itu terdengar lagi. Aku kontan berlari ke depan, menuju arah suara yang sangat jelas terdengar. Kali ini kulihat hiasan yang menggantung di dinding pintu bergoyang-goyang, pertanda pintu memang telah dibuka.

Aku buka pintu, aku keluar. Namun kembali, tiada siapapun disana. Tidak mobil Ibuku, tidak juga sosok Ibuku.

Aku tertegun sebentar, mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. Dan teleponpun berdering..

10 menit kemudian aku baru mengetahui bahwa Ibuku telah meninggal kemarin dalam sebuah kecelakaan mobil.

“Ma…….”

*****

Udin.. Oh Udin..

“Si Udin masih ada, stress aku hari ini.”

Itu bunyi SMS yang kuterima dari Ibuku pagi ini. Aku hanya tersenyum membacanya.

Udin, oh Udin…

Udin adalah penghuni baru di rumahku. Keberadaannya tiba-tiba saja ada. Bapakku biasa saja menerimanya, ramai katanya. Sementara Ibuku sama sekali tidak. Aku sih setuju-setuju saja ketika mereka info bahwa rumah punya penghuni baru.

“Udin maen tidur saja di kasurku. Aku pikir ga ada dia. Terkejut sekali aku. Dasar kurang ajar.” SMS terbaru dari ibuku. Benci sekali dia sama si Udin.

Aku tak sabar ingin pulang. Aku mau kenalan sama si Udin ini. Biar bagaimana dia tinggal di di rumahku. Sebagai anak sulung, aku kan punya hak juga untuk membiarkannya tinggal atau pergi.

“Udin makin kurang ajar. Dia sekarang suka masuk kamar mandi tiba-tiba. Ingin kupukul dia dengan gayung.” SMS ibuku baru saja masuk. Kujawab bahwa aku segera pulang, karena ada cuti bersama.

Pulanglah aku. Tak sabar ketemu si Udin ini. Bagaimana rupanya, bagaimana bentuknya. Penasaran sekali.

Sampai dirumah, pikirannku hanya mencari si Udin.

“Mana dia?” Tanyaku pada Ibuku. Ibuku menggeleng.

“Nanti juga ada.” Katanya dengan mimik muka gemas.

Kutunggu… Terus kutunggu.. Mana ini si Udin. Hingga…

“Udin.. Itu dia.. Itu si Udin!” Ibuku berteriak kencang dari dapur. Aku berlari.

Nah, itu dia, penghuni baru di rumahku. Pengganti penghuni-penghuni lama yang berakhir di sapu lidi atau koran yang dipukulkan Bapakku.

Diam di sudut, memakan sisa-sisa makanan, buntut panjangnya diam melihatku. Aku bergerak cepat menyambar sapu lidi.

Ciaaaatttttt…. Bruk.. Bruk.. Bruukkk.. Aku hantam penghuni baru yang sering membuat Ibuku jantungan itu.

Dan demikian, matilah tikus kecil hitam itu ditanganku…

Udin.. Oh Udin.. Dasar tikus..

(Sukabumi, dalam panik mengepung tikus yang dinamakan Udin oleh Ibuku.. hehe.. )

Gelap bagimu, terang bagiku…

Ada hangat menerpa pipi. Membuat mimpiku bertemu sang bidadari terhenti sudah. Selaksa sinar mentari yang datang dari jendela yang telah terbuka menghangatkan badanku.

Aku perlahan membuka mataku. Dari sekerejap gelap, terbuka semuapun gelap. Pagi ini tak ada bedanya dengan pagi kemarin, kemarinnya lagi, kemarin tahun lalu, kemarin 23 tahun lalu saat aku lahir, masih saja sama. Semua untukku gelap.

Tangan kiriku bergerak. Kira2 selurusan bahu agak geser 20 derajat ke arah kiri. Aku mencari jam. Benda yang sejak kubeli tak pernah kutahu bentuknya itu memiliki tombol di tengahnya, kutekan, dan berbunyi: “Sembilan, dua puluh satu.” Kata sang jam. Hampir jam setengah sepuluh pagi. Canggih bukan. Ya, alat yang sangat berguna untuk orang buta sepertiku.

Dulu ada pengusaha dari Jakarta yang datang ke asrama kami, para tunadaksa. Dia membagi-bagikan alat-alat yang dapat mendukung kehidupan kami. Dari tangan dan kaki palsu, kursi roda, komputer Braille, dan ya jam tadi.

Ah, sudah siang. Tadi aku sudah bangun untuk Sholat Subuh namun tertidur lagi karena lelah. Ada 3 orang berbadan besar aku pijat tadi malam. Ya, aku berprofesi sebagai tukang pijat. Orang terakhir kupijat hingga jam 1 malam. Lumayan, ada total 7 orang kemarin yang aku pijat. Cukuplah untukku menabung.

Asramaku sendiri terletak di sebuah pedesaan maju di pinggiran Kota Sukabumi. Aku sudah 4 tahun disini. Karena disini sekalian Pesantren umum juga.

Orangtuaku berpikir bahwa aku akan lebih bermanfaat bagi orang banyak bila belajar dan bekerja disini. Mereka selalu memberiku semangat untuk tetap berguna walau aku buta. Aku dijemput setiap akhir pekan untuk pulang ke rumahku di kota.

Aku bangun dari ranjangku. Sepi. Tampaknya Gandi, teman sekamarku sudah keluar. Dia ahli elektronik. Tangan kirinya hilang, diamputasi ketika bekerja di salah satu perusahaan elektronik International.

Aku bangun di sebelah kanan ranjangku. Kakiku turun mencari sandal. Aku berdiri, berjalan 2 langkah ke muka, balik badan ke kiri, berjalan 8 langkah, balik kanan 4 langkah, dan kutemukan pintu kamar mandi. Aku hapal setiap jengkal kamar ini. Dan memang harus begitu. Kalau tidak bisa banyak tersandung aku.

Selepas mandi, aku berjalan ke ruang Admin. Sekali lagi, aku hapal jarak-jarak langkah kesana. Bahkan hampir seluruh bangunan di Pesantren ini aku hapal. Jarak langkah, berapa jari, sudut, semua diluar kepala. Semua tampak mudah untukku.

“Hai, Hadi. Assalamualaikum.” Satu suara perempuan menyapaku.
“Wa’alaikum salam, Ibu Fatma.” Jawabku.
“Hari ini lumayan padat nih, Di. Nanti kamu akan diantar ke 3 tempat berturut-turut ya. Lalu nanti malam ada 2 lagi yang pesan pijat. Kamu sudah sarapan?” Tanya Ibu Fatma.
“Belum, Bu. Baru saja bangun selepas subuh tadi saya tertidur lagi. Baik bu, nanti saya siap-siap jam berapa?” Tanyaku.
“Jam 11 saja berangkat. Kamu makan diluar ya, nanti uang makannya saya kasih.” Jawab Ibu Fatma.

Ya, begitulah disini. Kami semua, yang normal dan tunadaksa, diberikan pendidikan, ilmu agama, keahlian, dan pekerjaan. Uang pendapatan kami bagi sama rata. Biar bagaimanapun, Pesantren ini membutuhkan dana untuk menjalankan laju operasionalnya. Itulah timbal balik kami. Kami merasa berguna disini. Dan kami wajib memberikan jasa secara profesional dan menjaga nama baik.

Aku bergerak menuju dapur. Perutku minta diisi. Ada rekanku bagian dapur, lebih senior, Kang Atep namanya. Sudah 7 tahun disini.

“Pagi, Hadi. Baru datang kamu.” Nah, itu suaranya.
Aku tersenyum, “Ya, Kang. Kebablasan tidur.” Jawabku.
“Duduk sini, Di.” Ada suara lain. Aku coba ingat-ingat. Suaranya Kang Parta.
“Kang Parta, sarapan Kang?” Tanyaku.
“Ga, lagi iseng saja. Habis pengajian Subuh, kesini ketemu Kang Atep. Eh, malah keterusan ngobrol. Sini, Di.” Jelasnya sambil mengajakku duduk.
“Iya Kang.” Aku bergerak ke arahnya. Kang Atep membawakannku sarapan nasi goreng. Aku makan, kedua temanku diam. Kami memang diajarkan untuk diam ketika makan.

Selepas makan, aku bersiap-siap. Aku akan diantar motor Pesantren. Tujuanku adalah kawasan Bhayangkara, kawasan sekolah Perwira Polisi. Langgananku banyak disini.

Aku menikmati hembusan angin sejuk Sukabumi di wajahku. Menunggu tibanya aku di tempat yang dituju. Yang mengendarai motor adalah Rizal, santri juga. Dia adalah pasanganku dalam bekerja. Sabar dan sangat pendiam. Kami berbagi rezeki dari uang pijat ini.

Tibalah aku di lokasi. Yang akan dipijat bukanlah perwira polisi, namun karyawan admin. Aku dipersilahkan masuk kedalam rumahnya. Sementara Rizal diluar, selalu begitu, walaupun dia diajak masuk.

“Pijat saja atau refleksi juga, Pak?” Tanyaku.
“Pijat saja ya. Kita mulai?” Jawab bapak itu dan sekaligus bertanya.
“Baik, silahkan bapak tidur tengkurap.” Kataku.

Bapak itu nurut, aku keluarkan minyak urut, aku campur sedikit minyak kayu putih, dan mengoleskannya ke telapak tanganku.

“Bismillah…” Dan aku mulai memijat.

Mataku memang buta, semua gelap bagiku, tapi tanganku tidak, kulitku tidak. Bagiku merekalah mataku. Mungkin sedikit aneh bila kukatakan tanganku bisa melihat, bahkan bisa tembus pandang. Tanganku bisa mengirimkan sinyal electric ke dalam otakku yang mengirimkan balik perintah ke tanganku itu. Memang begitu. Kita buktikan sekarang.

Seketika telapak tanganku menyentuh betis Bapak tadi. Seketika ada aliran listrik pelan namun serabutan yang kurasakan. Seperti ribuan kabel listrik yang terpasang acak-acakan. Tugasku adalah merapikan kabel listrik itu. Sederhana bukan.

Sensor yang masuk ke jaringan syaraf otak, dirubah menjadi perintah untuk sedikit merapatkan jemariku. Ibu jari terlipat sedikit, begitupun jemari lain. Seperti mencengkram. Ujung-ujung jari itulah yang kugunakan untuk melakukan gerakan urut di bagian betis. Semua berdasarkan tanda dari si telapak tangan. Benar kan, tanganku bisa melihat.

Itu berlaku untuk semua area pijatan. Dalam hitungan detik, cengkraman bisa berubah jadi cubitan, remasan, atau sekedar dielus pelan. Kadang lima jari digunakan, kadang hanya ibu jari yang ditekan. Semua terang bagiku.

Mengurai urat-urat dan otot-otot yang sembrawut adalah seni bagiku. Rasa panas yang muncul di awal pijatan hingga berubah menjadi hangat adalah hasil karya besarku.

Aku pulang setelah hampir satu setengah jam berkreasi dengan urat dan otot. Dan setelah selesaikan 2 lagi, aku kembali ke Pesantren.

Aku kembali jelang Magrib. Dan setelah pengajian Magrib, aku kembali ke asramaku.

Tapi sebelum sampai, aku dipanggil Bu Fatma.

“Hadi, kamu harus segera ke rumah Kyai Mahfudz. Beliau sakit. Kamu dipanggil ke rumahnya. Kyai mau kamu memijatnya.” Jelas Bu Fatma.

Kyai Mahfudz adalah salah satu sesepuh Pesantren ini. Keluarganyalah yang menjalankan Pesantren ini. Kyai kharismatik yang disegani di seluruh Kota bahkan Provinsi.

“Baik, Bu. Insya Allah.” Aku menjawab dan segera minta dicarikan Rizal.

“Sakit apa ya Kyai.” Pikirku. Dan kenapa harus aku yang kesana.

Aku tiba di rumah Kyai Mahfudz dan disambut istrinya. Nyai Kyai juga sangat kami hormati.

“Kyai di dalam, kamu temui dia ya, Hadi.” Kata Nyai.
“Baik, Nyai.” Jawabku.

Aku berjalan, dipandu Rizal. Aku masuk ke ruangan yang beraroma harum minyak Kesturi.

“Hadi, masuklah.” Suara berat yang kusuka. Suara Kyai Mahfudz.

Aku duduk disebelah ranjangnya.

“Aku sepertinya terkilir. Tangan kiriku diam tak dapat bergerak seharian ini. Sakitnya dari belakang punggung terus menjalar ke seluruh tangan. Aku yakin kamu bisa membantu mengobatiku.” Kyai Mahfudz menerangkan.

Aku terdiam. “Izinkan saya memegang Kyai.” Kataku hormat.
“Silahkan.” Jawabnya.
“Silahkan Kyai duduk.” Kataku.
Kyai Mahfudz duduk.

Aku bergerak menyusuri ranjang, meraba mencari jemari Kyai. Aku mendapatkannya.

Seketika ada aliran aneh yang masuk ke tanganku. Aliran sejuk sekali. Aku termenung. Diam sesaat. Dan detik selanjutnya semua terang.

Mataku seakan diajak menjelajah setiap jengkal tubuh Kyai. Aku bahkan merasakan sakit yang sama di tubuhku. Setiap ada kurasakan masalah di tubuh Kyai. Di bagian yang sama tubuhkupun terasa sakit yang sama.

Terang sekali kulihat. Ada gumpalan aneh tepat di punggung atas kiri Kyai Mahfudz. Jaringan ototnya berkumpul aneh. Membentuk bulatan yang membuat jaringan lainnya tertarik dan mati rasa. Ini penyakitnya.

Jemari kiriku bergerak. Kuambil jari-jari Kyai Mahfudz dulu. Sementara tangan kananku menempel di pundaknya. Memijat satu titik rongga di sambungan bahu ke lengan. Aku tekan itu, lalu kutarik jari-jari Kyai.

“Trek.” Ada bunyi pelan sekali. Bahkan mungkin hanya aku yang mendengar. Satu jaringan berhasil aku rapihkan.

Jari kiriku bergerak naik. Menuju lekuk siku. Kutekan dua titik di siku. Sementara tangan kanan masih di posisi awal. Kedua tangan saling menekan.

“Trek.. Trek..” Jaringan lain selesai.

“Boleh Kyai membuka pakaian sebentar?” Tanyaku hormat.
“Baik.” Jawab Kyai sambil membuka pakaian atasnya.

Sekarang aku bergerak ke punggung. Jemariku bergerak diatas lapisan kulit Kyai, bergerak seperti radar ranjau. Cepat, dalam rangkaian seperti menotok namun tidak menekan, inilah metode pencarianku.

Tubuh Kyai seakan memantulkan aliran ke ujung jemariku. Seperti berkata: “Ini aman.”, “Ini sakit.”. Seperti itu, terang dan jelas sekali.

Di bagian belikatnya aku rasakan hawa panas. Ini pusat sakit Kyai Mahfudz.

“Pijat titik di kakinya.” Suara kecil di kepalaku.

Nah, itulah sensor balik di terangnya pikiranku.

Aku bergerak ke arah kaki Kyai. Meraba sela antara jari telunjuk dan tengah kakinya. Aku tekan bagian bawahnya, pelan saja. Kyai sedikit meronta. Aku teruskan pijat titik itu. Lalu beberapa titik di kaki Kyai.

Aku maju ke betisnya. Lalu memijit titik tengah betisnya. Aku minta Kyai tidur tengkurap.

Seraya ibu jari tangan kananku menekan titik tengah betis Kyai. Ibu jariku yang lain menekan punggung Kyai tepat di lipatan belikatnya. Aku berdoa agar pekerjaanku dilancarkan.

Ibu jari tangan kananku bergerak ke punggung bawah Kyai. Aku gabungkan kedua ibu jariku dari titik itu dan aku urutkan dari bawah keatas.

Sensor-sensor ajaibku bekerja. Seakan bekerja diatas rangkaian kabel yang acak, aku coba luruskan kabel-kabel itu ke arah punggung atas, sampai di lipatan belikat.

“Trektek…” Suara-suara pelan terdengar di telingaku.

Di titik belikat Kyai. Aku kembangkan tanganku. Memijat menyebar dengan gerakan cepat. Meluruhkan kabel-kabel kusut di tubuh Kyai. Sensor-sensor aliran bergerak cepat di pikiranku. Aku buta, tapi aku bisa melihat terang dengan tanganku.

Aku pegang tangan Kyai. Aku pijit titik tengah telapak tangannya. Aku angkat keatas seperti anak kecil mengacungkan tangan menjawab pertanyaan. Sambil aku gunakan jari tengahku menekan titik di belikat Kyai.

“Trek!” Aku goncangkan cepat tangan mengacung itu dalam tarikan cepat.

Kyai mengaduh pelan. Selesai.

“Kyai, boleh coba gerakan tangan Kyai?” Aku bertanya. Sambil menyentuh tangan Kyai pelan. Aku kan harus tahu juga apakah tangannya bergerak atau tidak.

Ada gerakan pelan, jemarinya. Lalu lengan bawahnya, dan lengan atasnya ikut bergerak pelan. Kyai mengangkat tangan kirinya.

“Bisa bergerak, Hadi. Alhamdulillah…” Kyai Mahfudz berkata riang.
“Alhamdulillah.” Kataku juga.

“Terimakasih, anakku. Berkah dunia akherat untukmu, digampangkan rezekimu, dimudahkan semua jalan keinginanmu.” Kyai mendoakan aku yang kujawab Amin berkali-kali.

Dunia ini gelap untukku. Aku tak tahu bentuk dunia ini sama sekali. Tapi dalam beberapa hal. Aku bisa melihat lebih terang dari siapapun di dunia ini.

Gelap bagimu, terang bagiku…

*****
(Bekasi, sambil nunggu tukang pijat)

Lari, Narto…!!!

“Lari, To!”
“Cepat lari!!!”

Teriakan demi teriakan membahana di siang membara itu. Sekelilingku hanya suara keras, berserabutan dengan debu-debu yang muncul di sekelilingku.

Sesak nafasku. Tiba-tiba satu tangan keras menarik kerah bajuku.
“Lari, Narto!!! Jangan bodoh begini!!” Serunya keras tertahan.
“Uhuk uhuk.. ” Aku terbatuk. Pusing kepala ini. Aku tertarik, mencari keseimbangan, dan mengikuti arah tarikan.
“Tunggu sebentar, Nar.” Kataku pada Danar, sosok yang menarikku.
“Tunggu artinya mati. Cepat!” Katanya.
Aku diam, mulai seimbang, dan berlari.

Siang itu, di ujung Pelabuhan di Utara Jakarta. Sekelompok kuli angkut diserang preman Pelabuhan. Para preman dendam karena salah satu anggota secara tidak sengaja tersenggol motor tua salah satu kuli ketika dia tengah lari sehabis mencopet. Preman itu mati setelah senggolan motor itu membuatnya jatuh dan tergilas truk.

*****

Aku terengah-engah. Dadaku naik turun. Mulutku terbuka, dahaga. Disebelahku Danar tak kalah kusut. Dia tertunduk, menghela nafas-nafas berat.

“Mereka ma..masih meng..ngejar?” Tanyaku pada Danar tersenggal-senggal.
Danar diam, menghela nafas panjang, lalu menggeleng.
“Mana kutahu.” Jawabnya.
“Apa yang terjadi, Nar?” Tanyaku lagi.
“Diam!!! Bisakah kau simpan pertanyaanmu nanti, Narto.” Danar emosi. Mukanya merah padam. Tampak bingung sekali. Aku paham. Aku sekarang hanya bernafas.

Kami bersembunyi di salah satu sekat bekas rumah kardus. Atap kami langsung langit, panas sekali. Lari membuat dahaga semakin membara. Sekelilingku hanya sampah. Dimana mencari air?

“Cari terus!!! Habiskan!!!” Satu teriakan mengejutkan kami. Ya Tuhan, mereka datang.

Berpencar dalam jarak agak jauh. Kurang lebih 8 orang, para preman itu hanya 200m dari persembunyian kami. Gerakannya tangkas, semua memandang 8 arah berbeda. Berputar, mencari, garang sekali.

Aku memandang Danar yang juga memandangku. Persembunyian kami hanyalah sekat. Di depan kami lapang luas. Bila kami berlari, maka terlihatlah kami. Perkampungan ada didepan sana. Bila masuk perkampungan, amanlah kami. Pilihannya hanya lari.

Danar menggertakan giginya. Terlihat sudah pikirannya kalut. Akupun juga. Terjebak dalam pertanyaan: Ada apa? Kenapa?

“Kita harus lari, Nar. Mereka makin dekat.” Kataku pelan.
Danar diam. Matanya lurus menatap mataku. Dan tanpa ada komando, Danar bangkit dan berlari meninggalkanku.

“Itu!” Satu suara datang. “Kejar dia!” Suara yang lain.

Danar sudah 15m didepanku. Aku panik, sendirian. Detik-detik yang begitu lama. Aku bingung.

Suara-suara langkah kaki beradu hembusan angis panas dan debu jalanan mendekat.

Aku panik, dan tanpa pikir panjang, aku berdiri, bingung memutar arah, aku berlari. Hanya lari. Tak tahu kemana.

Arah tak lagi aku kenal. Danar kemana, aku tidak tahu. Aku panik sangat. Aku hanya berlari.

Mereka mengejar. Berteriak menyurutkan nyali. Aku yang paling dekat dengan mereka.

Aku lari dan terus berlari. Pikirannku kemana-mana. Pikiranku tiba-tiba tertuju pada satu titik…

“Pak, Bu. Narto takut.” Pikiranku kalut. Muka Bapak dan Ibu jauh disana memenuhi kepalaku.

Aku tak melihat jalan, aku hanya berlari. Lalu aku tersandung. Dan jatuh.

Badanku terbentur kerasnya jalan. Dan mereka semakin dekat. Jarak 70m dibelakangku.

“Bangun, Narto.” Ada suara di otakku.
“Bangun, larilah.” Suara lain yang sangat kukenal.

Aku cari arah suara, didepan sana. Ya didepan sana. Dalam putaran pening kepala, kulihat Bapak dan juga Ibu. Tangan Ibu merentang, sementara Bapak disebalahnya memanggilku.

“Pak, Bu.” Aku berseru pelan.

Aku bangkit, berdiri, dan lanjut berlari.

Aku berlari kearah mereka, tanganku tergapai. Mencoba segera menyentuh mereka.

Namun aku melambat. Ada lemas dikakiku. Ada rasa lain di kepalaku. Kenapa tiba-tiba begini. Aku melemah. Lariku semakin lambat, lambat, lambat, diam, berhenti, lalu tersungkur.

Badanku kembali menyentuh bumi. Coba mencerna apa yang terjadi. Pikiranku hanya berputar. Ada rasa panas menjalar dan lama-lama terasa perih, dan semakin perih.

Tanah membasah. Keringat? Bukan. Ini merah. Mataku yang mengintip melihat kebawah. Ada merah di perut kiriku. Basah. Aku berdarah. Perih sekali.

“Uhuk…” Aku terbatuk. Merah juga. Aku semakin lemah.

Darah itu semakin banyak, tak kuasa aku membendungnya. Rasa perih di perutku berubah rasa panas luar biasa. Jemariku kaku, memutih. Aku sekarat.

“Tidurlah, Narto.” Suara pelan terdengar di telingaku. Aku coba membuka mataku yang berat sekali. Dalam keremangan putih cahaya. Aku melihat Ibuku, aku melihat Bapakku. Dua orang yang sangat kucintai dan sangat kurindukan.

“Pak, Bu. Narto pulang.” Melemahku, seiring jalaran rasa dingin dari jemari kakiku dan bergerak ke arah perutku lalu tenggorokanku.

Aku berhenti berlari. Dan tak akan berlari lagi…

Rumah…

Jumat Malam..
Dua pasang tangan tua itu menyambutku dengan haru, ada getir dan getar yang kuat yang tersekat di tenggorokan saat melihat mereka tersenyum melihat kedatanganku dengan istri tercintaku..Serasa ingin kutumpahkan tangis di pelukan mereka.
Ka, uih oge..(Ka, pulang juga..)” begitu kalimat mereka. Mereka sambut aku dan istriku penuh rasa bahagia, padahal waktu sudah sangat malam. Aku rindu mereka, rindu orangtuaku, rindu rumah…sangat…

Sabtu seharian…
Kuhirup seharian wangi rumah. Kuraba setiap jengkal tempat yang membesarkan aku ini. Kurasakan getaran-getaran magis yang diberikan oleh tempat ini..
Tidak ada tempat terbaik di dunia ini selain disini..Di rumah ini..
Dari fajar hingga menjelang senja kuhabiskan waktu untuk menikmati sensasi rindu akan tempat ini. Aku rindu…Sangat..sangat rindu…

Dan kenapa waktu terasa begitu cepat..Kenapa tega benar..Aku masih rindu…
Masih sangat rindu..

Sabtu malam..
Enggan kupenjamkan mata..Enggan kuakhiri hari dalam haru ini. Besok aku harus tinggalkan lagi tempat ini..Mau kuapakan rasa rinduku..Dia masih terasa kuat di setiap sendi badanku.. Mau kuapakan..Aku masih rindu..

Minggu…
Segera kukuatkan hati. Mencoba jadi lelaki sejati. Kembali akan berjalan di kehidupan nyata..
Semua terasa berat. Sekat di tenggorokan kembali terasa kuat. Bahkan terasa lebih berat 10x lipat. Aku coba kuatkan diri. Menahan haru melihat bagaimana orangtuaku masih mencoba menahan kami agar jangan pergi.
Mereka memasak masakan kesukaan kami. Mereka menahan kami dengan berbagai cara. “Besok saja..” Pinta mereka dengan sangat dalam lirih.

Ya Tuhan.. Betapa berat haru yang kutahan. Tapi asa, cita-cita, istri, dan kehidupan nyata harus tetap kutempuh.. Aku harus pergi..
Mereka melepasku dengan haru, ada cekat luar biasa di tenggorokan..
Pintu rumah seakan gerbang sempit yang harus aku masuki, sangat berat.. Mereka melambai, menahan haru, masih mencoba menahan kami pulang…

Rumah..Aku pergi lagi..

Tangis itu keluar dalam langkahku membelakangi rumah untuk pergi.. Terus menangis.. Aku masih terlau sangat rindu..

Aku pergi bukan untuk menghilang.. Tapi untuk hidup.. Aku pergi bukan untuk pulang.. Karena pulang buatku adalah hanya satu, yaitu ke rumah ini…

Aku akan sangat rindu..
Rumah..
Tunggu aku pulang lagi…

Ayahku berbicara…

Ada kalanya kita harus belajar dari diamnya seseorang. Ada kalanya juga kita harus faham makna dibalik diamnya seseorang… Seorang gadis yang dilamar oleh seorang pemuda, lalu ketika ditanya mau atau tidak dia malah diam sambil mesem-mesem, kadang langsung diartikan “Iya”.. Sedangkan kalau dia diam, sambil mata sedikit berkaca-kaca, lalu kemudian terisak-isak, bisa berarti “demi lunasnya hutang ayahku kulakukan ini”…

Ayahku seorang yang periang sekaligus pendiam. Gabungan yang unik dan jarang. Sekali dia cerita lucu, kita bisa terpingkal-pingkal. Dan dia apabila akan melucu sama sekali tanpa pembukaan, langsung saja cerita.. itu juga yang membuat ceritanya makin lucu..

Tapi dia juga pendiam, bicara hanya yang penting saja, yang efektif, tidak suka basa-basi… Ketika emosipun dia tidak bicara, dia hanya diam. Dia tidak pernah marah, sesalah apapun anaknya. Ketika dia tau anaknya salah, dia hanya diam sambil mengusap kepala. Sungguh, itu lebih membuatku malu akan kesalahanku dibanding mungkin kalau dia marah-marah.

Dan sekarang ayahku semakin pendiam. Sakit di mulutnya yang akut, syaraf mukanya yang rusak gara2 dicabut ketika sakit oleh dokter gigi terkenal di kotaku namun bodohnya minta ampun itu, membuat Ayahku menderita sakit, yang membuatnya jarang bicara.

Aku rindu ayahku…

Di dalam rinduku, kukumpulkan lagi ilmu2 darinya ketika dulu dia sanggup bicara. Ilmu2 yang senantiasa akan kupegang sebagai panduanku hidup dan akan kembali kuajarkan pada anakku kelak. Ayahku pernah berbicara:

1. “Hidup itu sederhana saja, cukup. Jangan berlebih apalagi kekurangan. Karena apa yang kamu punya akan kamu pertanggung jawabkan kelak di Akherat… Saya bisa belikan kamu barang2 mahal setiap hari seperti yang teman2 PNS saya lakukan kepada keluarganya. Namun saya tidak akan mendidik kamu begitu. Dan harta yang saya berikan kepadamu adalah halal. Sederhana saja dalam hidup…”

2. “Jangan takut kamu tidak mendapatkan rumah kelak. Keong saja Allah berikan rumah, masa manusia tidak…”

3. “Hidup itu harus punya dua saku.. Saku berisi Tauhid, masukan tangan kamu kesitu, dan jangan dilepaskan. Sedangkan saku kiri isinya kehidupan sosial, sesekali saja tanganmu dimasukan ke saku, sisanya biarkan bergerak mencari kehidupan…”

4. “Kalau ingin mengetahui harga dari seseorang -andai sekali waktu kamu menjadi pengusaha- Kerjakan dulu apa yang dia kerjakan untukmu. Maka kau akan tahu berapa harus membayarnya…”

5. “Bila kamu ingin menjadi pemimpin yang mau agar semua orang menurutimu juga mematuhimu dengan ikhlas.. Contohkan dahulu dan lakukan sendiri dahulu.. Karena apa yang dilakukan orang2 dibawahmu, bisa jadi karena apa yang kamu lakukan dan contohkan juga. Jadilah disegani, jangan mau ditakuti…”

6. “Jangan bicara tentang suatu masalah, apabila kau tidak mengetahui masalah itu benar2 atau hanya mendengar dari salah satu pihak. Anggap saja kau jadi orang yang dibicarakan, apa perasaanmu…”

7. “Sabar…sabar…sabar… Jangan pernah punya batasan untuk kesabaran…”

Ini baru 7 poin dari ilmu2 yang dibicarakan oleh ayahku, dari ribuan bahkan jutaan yang semua sudah jadi memori dan aktualisasi dalam hidupku…

Setiap kata-katanya, indah, simple, efektif…

Salah satu keajaiban terbesar dalam hidupku… Rd. H. Andy Ruswandy