Si Kabayan dan Petinggi Negara

 Siapa tak kenal Si Kabayan? Tokoh lugu asli tatar Sunda ini seakan sudah menjadi ikon cerita Sunda yang selalu berisi tentang kelucuan, kekonyolan namun terkadang penuh dengan amanat-amanat kebaikan.

Ada satu kisah Kabayan yang selalu saya suka. Yaitu saat kampung si Kabayan akan kedatangan petinggi-petinggi negara. Kira-kira begini ceritanya…

Sekali waktu kampung Si Kabayan akan kedatangan petinggi-petinggi negara. Alhasil semua penduduk kampung sibuk luar biasa. Mereka ingin menyambut petinggi negara ini dengan cara terbaik dan terhebat.

Setiap jengkal kampung dihias warna-warni. Ayam kampung, kambing, sapi disembelih untuk dijadikan santapan special para petinggi itu. Anak-anak dan pemuda pemudi berlatih tari dan menyanyi untuk menyambut mereka. Semua disiapkan dengan sempurna.
Namun Si Kabayan sendiri terlihat cuek-cuek saja. Seperti tidak terpengaruh, dia hanya terlihat tidur-tiduran di pos kamling atau hanya diam di sawah sambil mengorek kuping sampai terpejam-pejam saking enaknya.

Singkat cerita hari yang ditunggu itupun tiba. Semua persiapan benar-benar dimatangkan. Dan ketika para petinggi itu datang, suasana kampungpun menjadi gegap gempita. Melihat sambutan luar biasa itu para petinggipun senang. Tak henti-henti mereka menyalami dan memberikan pujian untuk kampung itu. Hingga tibalah saat mereka diajak berkeliling kampung.

Para petinggi itu diarak dan berjalan didepan. Sementara warga mengikuti mereka dibelakang hingga panjang mengular. Mereka berjalan berkeliling kampung dan melihat-lihat seluruh kampung yang sudah dihias warna-warni meriah.

Sampai tiba-tiba, munculah Si Kabayan. Kedatangannya mengejutkan semuanya. Tampangnya yang lugu dan penampilannya yang sangat biasa berbeda sekali dengan semua warga yang tampil rapih dengan busana terbaik.

Si Kabayan tidak hanya mengejutkan karena datang tiba-tiba. Perilakunya juga membuat semua orang terheran-heran. Selain karena dia datang di depan rombongan para petinggi dan bukan ikut rombongan pengiring. Juga tindak tanduknya juga aneh. Kadang dia melompat ke depan, kanan, kiri sambil menggoyangkan pantat. Kadang jongkok. Kadang terlihat menendang sesuatu. Kadang terlihat memicingkan mata seakan melihat sesuatu di kejauhan. Kadang hanya berlari-lari kecil berputar-putar. Seakan-akan tidak ada siapapun selain dia disitu.

Kelakuannya membuat malu kepala kampung. Mukanya memerah. Apalagi setelah petinggi bertanya padanya, “Siapa dia? Kurang ajar sekali kelakuannya!”. “Namanya Kabayan, Pak. Dia salah satu warga saya. Akan saya marahi dia.” Dan dipanggilah Kabayan.

Kabayan mendekat dan diam menunduk. “Kabayan! Apa yang kamu lakukan? Bikin malu kampung! Kamu tahu tidak beliau ini adalah petinggi-petinggi negara? Kelakuan kamu tidak sopan!”

“Memangnya apa salah saya, Pak?” Tanya Kabayan lagi. “Itu kelakukan kamu, loncat sana loncat sini. Ga karuan. Apa maksud kamu?”

Kabayan diam sejenak. Lalu dia bicara. “Apa yang saya lakukan sesungguhnya karena cinta dan hormat saya pada para petinggi negara ini. Saya ingin mereka berjalan dengan aman tanpa terganggu apa-apa. Bagaimana mungkin saya bisa melindungi kalau saya berjalan di belakang mereka? Saya berlompatan untuk menunjukan jalan-jalan mana saja yang nyaman dan tidak berlubang. Saya menggoyangkan pantat untuk bilang bahwa jalan tersebut rusak dan jangan dilewati. Saya menendang batu kerikil dan duri yang menghalangi agar kaki para petinggu tidak terluka. Saya melihat ke kejauhan hanya ingin memastikan kalau cuaca masih bagus dan apabila tidak akan saya persiapkan payung agar para petinggi tidak kehujanan. Sesungguhnya itulah cara saya mencintai dan menghormati para petinggi negara. Dengan melindungi mereka dari depan. Bukan hanya mengikuti dari belakang. Ketika ada sesuatu yang mengancam, sayalah yang akan tahu dan menerimanya terlebih dahulu. Bukan para petinggi yang saya cintai.”

Mendengar itu para warga kampungpun diam dan merasa malu. Sementara para petingi negara merasa takjub dan terharu.

Cerita diatas hanya kiasan. Intinya kadang cara kita menunjukan kebaikan atau bahkan niat melindungi tidak bisa dimengerti orang lain. Kadang yang terlihat hanya anehnya, hanya jeleknya, hanya khawatirnya, hanya kurangnya, hanya satu sudut pandang. Padahal kebaikan itu ada pada niat yang terwujud dalam satu tindakan. Tindakan bisa ternilai. Bisa salah bisa benar. Tapi niat tidak mungkin salah. Karena Tuhan sendirilah yang menilai.

Tetaplah berniat baik dalam segala hal, walau kadang kita tidak tahu harus bagaimana caranya dan tidak tahu akan seperti apa hasilnya di mata orang lain. Biarlah Tuhan yang menilai dan menentukan apakah niatnya terwujud atau tidak karena Dia Maha Tahu… 🙂

*Cerita ini saya lihat di buku “Kabayan Jadi Sufi” yang sudah lama hilang. Pastinya akan ada perbedaan karena ini hanya berdasar memori belaka. Semoga niatannya sampai. 🙂

Advertisements

Atret, Sang “Legenda” Kota Sukabumi

Mungkin hanya Kota Sukabumi yang memiliki satu legenda seorang sosok manusia yang jiwanya terganggu (sebutan “gila” soalnya agak berlebihan untuk sosok ini) instead of penerima penghargaan Kalpataru atau Adipura atau pemenang kontes Fisika tingkat International.

Adalah Aki Atret (karena sudah aki-aki) yang konon nama aslinya adalah Dadun bin H. Khodir. Sosok tua ini sudah menjadi teman kami sejak kami kecil bahkan “teman” orangtua kami ketika remaja. Dipanggil “Atret” karena kebiasaannya yg ketika berjalan lalu digoda dengan menyimpan batu didepannya, dia akan berheti dan berjalan mundur. Setelah mundur beberapa langkah itu dia maju lagi dan menyingkirkan batu yang menghalangi jalannya itu, begitu terus sampai sekarang.

Akibat kebiasaannya itulah juga yang katanya menjadi inspirasi buat orang yang memang juga agak kurang “sehat” namun jadi selebritis yang juga dari Sukabumi yaitu Syahrini untuk melakukan “maju mundur cantik” hahaha… Kata “Atret” sendiri katanya berasal dari kata “Achteruit” atau mundur dalam bahasa Belanda.

Penampilannya tidak pernah berubah. Bercelana pendek atau celana panjang yang digulung dengan membawa gembolan di tangan kanan kirinya. Saya juga tidak pernah tahu apa itu isi gembolan Aki Atret…

Meskipun jiwannya terganggu dan memang berperilaku selayaknya orang yang “sakit” seperti berpakaian kumal, makan dari tempat sampah walau sering juga warga memberinya makan. Atret tidak pernah mengganggu. Sosoknya cenderung bersahabat, murah senyum dan jujur saja kalau senyum dia manis..hehe. Dia juga memiliki rumah dan setiap malam pulang ke rumah tersebut. Dulu saya pernah punya saudara yang tinggal dekat rumah yang konon rumah keluarga Atret..

Tapi sang legenda itu sekarang sudah tiada. Saya baru dapat kabar dari socmed2 Sukabumi, dia katanya meninggal hari kemarin.

Well, meskipun agak janggal dan mudah2an tidak membuat Sukabumi dikenal sebagai kota orang “tidak sehat”. Kota Sukabumi tetap sudah kehilangan salah satu icon, legend, tokoh, dan apalah sebutannya untuk seorang yang akan selalu dikenang dengan manis…

Wilujeng mangkat Aki Atret… Terimakasih untuk semua kenangan dan senyumanmu untuk Sukabumi… Mugia tenang di alam baka… Aamiin..

#RIPAtret – with SukabumiPeople

View on Path

Belajar dari Bondi…

Bondi namanya. Singkat, padat, dan jelas. Tanpa ada nama panjang, cukup panggil saja “Bondi”. Kalau ditanya, “nama panjangnya apa, Pak?”. “Bondiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…” Katanya sambil tertawa ala Mbah Surip,”Ha ha ha…”.

Bondi adalah salah satu pekerja di kantorku. Jabatannya berlipat-lipat. Ya Driver, OB, Kurir, Kontraktor, IT, bahkan tukang masak kalau perlu.

Dari berbagai pekerjaannya. Bondi sudah cukup layak mendapat gelar “The most valuable asset in the office” hehe. Dia bisa melakukan kerjaan kita, namun kita belum tentu bisa dan mau mengerjakan pekerjaan dia.

Satu yang paling menonjol adalah peran dia sebagai Driver. Pengalamannya sebagai supir taksi dan kendaraan lainnya membuatnya menjadi GPS hidup buat kami semua. Jangan takut nyasar kalau jalan di Jakarta dengan dia. Ke ujung-ujung yang anehpun, dia tau (yang ini memang patut dicurigai asal muasalnya…haha).

Jalan bersama Bondi bisa menjadi tour Jakarta yang menyenangkan. Kita yang hidup lama di Jakartapun belum tentu pernah melihat semua di Jakata. Nah bila anda ingin tau seluk beluk Jakarta, just call Bondi, dia akan menunjukannya dalam minimal 3 route berbeda yang bisa jadi pilihan. Keren bukan?

Bondi tergolong masih muda, namun “keperkasaannya” sangat teruji. Anaknya ada 6 orang! Cocok katanya buat Klub Basket plus satu orang pelatih. Kalau kejar Klub Sepakbola katanya “Udah cape ah. 6 anak cukup.” Busyeeettt..

Bondi juga kreatif. Pokoknya untung lah bisa berteman dengan Mr. Bondi ini. Karya-karya Bondi banyak tersebar di beberapa penjuru kantor ini. Simple-simple namun banyak manfaatnya.

Tapi Bondi bukan selamanya menjadi orang yang menyenangkan. Tahan dulu persepsinya. Maksudnya adalah dia ga selamanya mau diajak kompak. Kalau udah keluar sensinya, ga perduli siapapun dia bisa lawan, bisa ga nurut, bisa kabur dan susah dicari padahal lagi butuhhhhhh banget. Disaat itulah kadang antara marah dan kesel, kita baru tahu kalau kita butuh sekali sekali sosok Bondi.

Menjadi pejuang di keluarga besarnya, membuat dia rajin banting tulang bekerja. Maklum untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang banyak ditambah dengan sebagian sudah bersekolah, tentu banyak sekali yang harus dia keluarkan.

Terlepas dari memang manusia terlahir dengan nasib-nasibnya sendiri yang kita memang kadang tak bisa lepas dari situ kecuali dengan berjuang keras. Bondi adalah salah satu contoh kesederhanaan yang bisa dicontoh.

Sikapnya yang kadang meledak-ledak, emosi, sensitive. Itu tak lebih dari suasana bagaimana saat itu dia sedang berjuang untuk keluarganya. Siapapun akan seperti itu. Apapun akan dilakukan, dibela, diperjuangkan kalau atas nama kebutuhan keluarga.

Disitulah justru ilmunya. Kita yang agak mudaan harus melihat, bahwa perjuangan atas nama keluarga, oleh siapapun juga. Tak perduli manusia terkaya di duniapun, pasti akan melakukan apa saja asalkan keluarganya terus hidup. Dan yakin bahwa Tuhan memberikan jalan untuk itu.

Kalau melihat logika. Penghasilan sosok Driver di Jakarta mungkin tidak sebanding dengan kebutuhan seorang Bondi dengan 6 orang anak. Tapi pada kenyataannya jalan itu selalu ada. Katanya sering dia dapat permintaan bantu ini bantu itu dan dapat penghasilan tambahan yang sebenarnya tidak seberapa tapi selalu pas waktunya. Hmmmm, Tuhan berahasia disini.

Bondi tidak pernah mengeluh. Ya, cerita sih sering tentang bagaimana perjuangannya menghidupi keluarga ya membuatku terus menerus mengucap syukur atas rezeki yang selama ini kuterima yang kadang dengan seenaknya kuhamburkan.

Bondi selalu percaya bahwa masing-masing anaknya membawa jalan rezeki masing-masing, dan darimanapun jalannya, itu adalah hak anak dan istrinya. Seru kalau dia cerita bagaimana keluarganya makan di piring super besar, dan semua makan bareng-bareng. Seru bagaimana dia tidak memotong ayam menjadi potongan-potongan seperti yang kita makan, namun justru disuwir agar semua keluarganya terbagi adil dan lebih menghemat tentunya. Seru dan lucu bagaimana triknya dulu menarik hati sang pujaan hati agar mau menjadi istrinya.

Bondi dan saya berbeda keyakinan, saya Muslim dan dia Nasrani. Namun pendapat kami soal rezeki dari Tuhan adalah sama. Buat kami, semakin banyak memberi kepada orang lain sesuai hak dan yang diluar hak seperti sedekah, akan membuat Tuhan juga baik dan banyak member kepada kita. Beberapa keajaiban rezeki membuktikan itu. Bayangkan, dengan banyak kekurangan saja, seorang Bondi masih mencoba berbagi, karena percaya keajaiban dari memberi itu.

Banyak kita lihat orang kehilangan rezeki, apakah itu ditipu, kecurian, atau hilang begitu saja. Lepas dari itu adalah musibah, bisa juga diartikan sebagai peringatan Tuhan agar senantiasa kita selalu memberi bukan hanya rajin dan mau menerima.

Belajar dari sosok Bondi, yang mungkin andai Tuhan memeberikannya nasib lain, dia akan jadi seorang sosok yang penuh talenta. Tapi dengan adanya dia seperti ini, membuat kita faham bahwa tak sepantasnya kita tak menghargai rezeki kita disaat orang lain sekeping demi sekeping mencarinya. Tak sepantasnya kita mengecilkan arti orang kecil, disaat kita bisa menjadi besar justru dengan bantuan tangan-tangan orang-orang kecil ini. Tak sepatutnya kita memperlakukan semena-mena orang kecil, dimana di hatinya hanya ada niat tulus untuk mencari rezeki demi keluarganya.

Kesederhaan, keikhlasan, usaha keras, dan tetap bersabar. Saya selalu senang belajar dari seorang Bondi… Untuk kekurangannya dan untuk kelebihannya…

(Sebagian fiksi, sebagian nyata…)

Braaaaaakkk….!!!!!

Braaaaakkkk…..!!!

Suara itulah yang pertama kudengar. Dua menit setelah kudengar suara mobil masuk ke pekarangan rumahku.

Ah, ibuku pulang… Ada sekitar 8 hari yang lalu aku bertemu dia. Waktu itupun dia meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!” sebagai tanda dia pergi.

Entah kenapa, dia senang sekali meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!” sebagai penanda dia datang ataupun pergi, bukan salam seperti kebanyakan orang. Dan entah sudah berapa kali pula aku mengganti engsel pintu depan rumahku yang rusak atau bobol. Akhirnya harus kukorbankan uang tabunganku lagi untuk membeli engsel baru.. Waduuhh…

“Daiii……!!“

Nah, itu dia suaranya. Aku bingung, masih mencari alasan untuk apa aku menghampiri Ibuku, karena kangen, karena hormat, karena wajib… Yang jelas aku harus segera keluar dari kamarku, sebelum…

“DAIIIIII… WOII LO DIMANA? GUE PULANG NIH…!!!”

Ya, sebelum teriakan itu keluar..

“Eh, ini dia anak Gue, udah makan Lo? Nih Gue bawain ayam panggang kesukaan Lo.”

Aku melirik box yang dipegangnya di tangan kiri. Ibuku sendiri sedang duduk bersilang kaki di kursi ruang tamu, di tangan kanannya terselip rokok berwarna coklat yang nampaknya masih belum lama dibakar.

“Belum Ma, tadinya Dai mau keluar beli makanan. Dai ga tau Mama mau pulang, Mama dari mana?” Tanyaku sambil mengambil box ayam yang disorongkan ibuku, aku buka sedikit dan harum ayam panggang pelit-pelit keluar dari sela box yang aku buka…lumayan…

“Ah, biasa. Gue seminggu ini ada di luar Jawa, gue kangen ma lo.” Ibuku berkata dan nada bicaranya tidak menyiratkan kebohongan.

“Oh.. Kapan Mama keluar lagi?”

“Tau..gue cape..gue mo tiduran dulu. Kalo besok ga cape, gue subuh udah cabut lagi. Udah lo makan sana, entar lo mati lagi….”

Akupun pergi menuju dapur untuk makan disana, rasa ayam panggang itu sudah duluan mampir ke otakku sehingga itu membuat limpahan air liur di mulutku semakin bertambah.

Ya, itulah Ibuku. Dia memang tipe orangtua yang jarang ada di rumah. Mungkin untuk sebagian orang dengan jenis Ibu yang sama, ceritanya tidak akan jauh dari kesedihan dan hati yang luka. Namun aku tidak. Aku tahu dia begitu untuk aku, dia berjuang sendirian hanya untuk terus menumbu nafas di ragaku ini. Aku tahu dia sangat sayang dan mencintaiku.

Aku memang tidak sekali dua kali merasa jenuh dengan kesendirianku di rumah. Meskipun aku lelaki, aku merasa belum mampu untuk hidup sendiri. Aku juga sebenarnya sangat membenci kegiatan Ibuku, sangat sangat membenci, namun aku bisa apa.

Ibuku sangat pemarah, dia pernah memaki seorang preman saat sang preman menjahili dia. Setelah dimaki, ditampar pulalah preman itu.. Saat ada di rumahpun, suara makiannya sering terdengar. Dia sering marah sendiri, atau juga marah ke orang lewat telepon. Pokoknya dengan sifat emosionalnya itu, Ibuku bisa menjadi manusia yang berbeda, sangat berbeda.

Namun, tidak pernah satu kalipun dia marah kepadaku, tidak pernah..!! Entah kenapa..aku sih santai-santai saja..aku tak pernah mau tahu.

“Dai.. Gue tidur duluan.. Besok kalo lo bangun gue udah ga ada, berarti gue cabut lagi, ok? Gue sayang ke lo.”

Sebuah pernyataan rasa sayang yang aneh. Tanpa ketemu muka, tanpa romantisme, tanpa pelukan atau ciuman di kening. Yang aku tahu, Ibuku tulus mengatakan itu.

“Braaaaakkkk…..!!!” Dan pintu kamarnyapun tertutup.

*****

Braaaaakkkk…..!!!

Aku terperanjat, nyawa belum sepenuhnya terkumpul, aku terbangun dari tidurku ketika suara khas itu terdengar. Kulirik jam, ia menunjukan pukul 04.36. Tiga menit kemudian deru mesin dinyalakan, dan suara gesekan antara aspal dengan ban terdengar menjauh….

*****

Braaaaakkkk…..!!!

12 hari setelah terakhir ibuku pergi kemarin. Terdengar suara dia membahana di ruang tamu dan semakin mendekat ke arahku.

“GUE GA MAU TAU. ITU LO YANG TANGGUNG JAWAB!! GUE YANG CAPE NYARI, GUE YANG KERINGATAN, KOQ DIA YANG AMBIL DUIT GUE…SEMUA GARA-GARA LO!! TAI KUCING LO…!!!!

hening……………….

“KAGAK PERDULI!!!!! GUE MINTA DUIT GUE BALIK. EMANGNYA DIA YANG KASIH MAKAN GUE MA ANAK GUE? LO YANG TANGGUNG. GUE TUNGGU KABAR LO!! GUE OUT…!!”

hening……………….

“DAIIIIII….!!!!”

Ya…akhirnya aku dipanggil.

“Iya, Ma….”

“Hei, pa kabar lo? Gimana sekolah lo? Tabungan lo masih ada? Kalo ga ada entar Gue transferin pake ATM.”

Ucapnya tanpa satu sentimeterpun beranjak dari kursi singgasananya untuk memelukku atau menerima ciuman tanganku…biasa saja..

“Baik Ma, sekolah lancar-lancar aja. Kemarin ada undangan untuk Orangtua murid, Daiva kembali minta bantuan Mang Aswin untk ngaku sebagai Omnya Daiva. Tabungan masih cukup koq, Daiva ga ada keperluan yang berat-berat.”

“Aaah, gapapa, entar Gue tambahin aja, terserah lo mo pake buat apa. Uang listrik ma telepon udah Gue titip ke Aswin, biar dia yang bayar entar.”

“Ya sudah, gimana Mama saja. Mama dari mana?”

Aku kembali mengajukan pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya.

“Ah biasa, gue pergi jauh, sempet ke luar, tapi ga lama.”

Ibuku kembali menjawab dengan kembali tanpa nama yang jelas. Apa susahnya menyebut Jakarta, Bandung, Sukabumi, Singapura, Kutub Utara, atau apalah sebuah nama daerah di dunia ini. Aku tidak tahu apakah memang ibuku tidak tahu nama-nama daerah. Atau juga karena terlalu banyaknya tempat yang dia singgahi.

Ah Ibuku, banyak yang aku tidak tahu darinya. Yang aku tahu, ia sangat sayang padaku, seperti yang selama ini aku katakan, seperti yang selama ini aku rasakan.

“Ma…,” Aku memanggil Ibuku.

Dia menatapku dengan tatapan bermakna “apa?”..

“Daiva kangen Ma…Mama ga usahlah pergi-pergi lagi.”

Dia terpaku, menatapku hampa, lalu tersenyum.

“Lo ga tau, Gue ga bisa diam disini. Gue udah terlanjur masuk ke bisnis gue,”

“Tapi…..,”

“Gue ngerti, Gue ga kayak Ibu yang lain. Diam di rumah, masak buat anaknya, cium kening anaknya saat berjumpa, ngucap kata sayang plus pelukan. Cuma asal lo tahu, kasih sayang Gue ke lo ga bisa diukur dengan itu semua. Gue berani adu…”

Aku masih diam.

diam……

kami berdua………diam…..

“Daiva… Mama minta maaf. Dalam tiap detik Mama, yang ada hanya kamu…”

Haaa… Dia menyebut dirinya “Mama” dan memanggilku “kamu”. Bukan “Gue dan Lo” lagi. Jujur, ini yang pertama setelah kami ditinggal pergi Papa waktu aku masih berumur 11 tahun. Berarti sudah 6 tahun, sudah lama juga.

“Lebih dari apapun, lebih dari pembuktian apapun. Kamu adalah tujuan dari semua apa yang Mama lakukan.”

“Ma….” Panggilku lagi.

“Ahhh.. Udahlah.. Gue cape.. Pengen tidur.. Sori gue ga bawa makanan buat lo…”

Dia bilang begitu dengan satu sunggingan senyum manis di bibirnya. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa ingin sekali mengenang sunggingan senyum itu.

*****

Braaaaakkkk…..!!!

Ah, Ibuku pulang…Tapi jujur, ini rekor terbaru. Dia baru pergi 2 hari lalu, subuh, plus dengan tetap meninggalkan suara “Braaaaakkkk…..!!!-nya” lagi.

Tapi……. kenapa sepi…?

5 menit berlalu, tak ada teriakan memanggil namaku.

sepi…..

Aku penasaran, beranjak dari ranjangku menuju ruang tamu. Tapi tiada siapapun disana.. Mungkin Ibuku dikamar.

Aku menuju kamar Ibuku, tapi tetap sepi. Dimana dia..

Penuh penasaran, aku berkeliling rumah, mencari Ibuku..Tapi tetap, tidak ada siapapun di dalam rumah. Hanya aku…

Braaaaakkkk…..!!!

Suara pintu itu terdengar lagi. Aku kontan berlari ke depan, menuju arah suara yang sangat jelas terdengar. Kali ini kulihat hiasan yang menggantung di dinding pintu bergoyang-goyang, pertanda pintu memang telah dibuka.

Aku buka pintu, aku keluar. Namun kembali, tiada siapapun disana. Tidak mobil Ibuku, tidak juga sosok Ibuku.

Aku tertegun sebentar, mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. Dan teleponpun berdering..

10 menit kemudian aku baru mengetahui bahwa Ibuku telah meninggal kemarin dalam sebuah kecelakaan mobil.

“Ma…….”

*****

Udin.. Oh Udin..

“Si Udin masih ada, stress aku hari ini.”

Itu bunyi SMS yang kuterima dari Ibuku pagi ini. Aku hanya tersenyum membacanya.

Udin, oh Udin…

Udin adalah penghuni baru di rumahku. Keberadaannya tiba-tiba saja ada. Bapakku biasa saja menerimanya, ramai katanya. Sementara Ibuku sama sekali tidak. Aku sih setuju-setuju saja ketika mereka info bahwa rumah punya penghuni baru.

“Udin maen tidur saja di kasurku. Aku pikir ga ada dia. Terkejut sekali aku. Dasar kurang ajar.” SMS terbaru dari ibuku. Benci sekali dia sama si Udin.

Aku tak sabar ingin pulang. Aku mau kenalan sama si Udin ini. Biar bagaimana dia tinggal di di rumahku. Sebagai anak sulung, aku kan punya hak juga untuk membiarkannya tinggal atau pergi.

“Udin makin kurang ajar. Dia sekarang suka masuk kamar mandi tiba-tiba. Ingin kupukul dia dengan gayung.” SMS ibuku baru saja masuk. Kujawab bahwa aku segera pulang, karena ada cuti bersama.

Pulanglah aku. Tak sabar ketemu si Udin ini. Bagaimana rupanya, bagaimana bentuknya. Penasaran sekali.

Sampai dirumah, pikirannku hanya mencari si Udin.

“Mana dia?” Tanyaku pada Ibuku. Ibuku menggeleng.

“Nanti juga ada.” Katanya dengan mimik muka gemas.

Kutunggu… Terus kutunggu.. Mana ini si Udin. Hingga…

“Udin.. Itu dia.. Itu si Udin!” Ibuku berteriak kencang dari dapur. Aku berlari.

Nah, itu dia, penghuni baru di rumahku. Pengganti penghuni-penghuni lama yang berakhir di sapu lidi atau koran yang dipukulkan Bapakku.

Diam di sudut, memakan sisa-sisa makanan, buntut panjangnya diam melihatku. Aku bergerak cepat menyambar sapu lidi.

Ciaaaatttttt…. Bruk.. Bruk.. Bruukkk.. Aku hantam penghuni baru yang sering membuat Ibuku jantungan itu.

Dan demikian, matilah tikus kecil hitam itu ditanganku…

Udin.. Oh Udin.. Dasar tikus..

(Sukabumi, dalam panik mengepung tikus yang dinamakan Udin oleh Ibuku.. hehe.. )

Gelap bagimu, terang bagiku…

Ada hangat menerpa pipi. Membuat mimpiku bertemu sang bidadari terhenti sudah. Selaksa sinar mentari yang datang dari jendela yang telah terbuka menghangatkan badanku.

Aku perlahan membuka mataku. Dari sekerejap gelap, terbuka semuapun gelap. Pagi ini tak ada bedanya dengan pagi kemarin, kemarinnya lagi, kemarin tahun lalu, kemarin 23 tahun lalu saat aku lahir, masih saja sama. Semua untukku gelap.

Tangan kiriku bergerak. Kira2 selurusan bahu agak geser 20 derajat ke arah kiri. Aku mencari jam. Benda yang sejak kubeli tak pernah kutahu bentuknya itu memiliki tombol di tengahnya, kutekan, dan berbunyi: “Sembilan, dua puluh satu.” Kata sang jam. Hampir jam setengah sepuluh pagi. Canggih bukan. Ya, alat yang sangat berguna untuk orang buta sepertiku.

Dulu ada pengusaha dari Jakarta yang datang ke asrama kami, para tunadaksa. Dia membagi-bagikan alat-alat yang dapat mendukung kehidupan kami. Dari tangan dan kaki palsu, kursi roda, komputer Braille, dan ya jam tadi.

Ah, sudah siang. Tadi aku sudah bangun untuk Sholat Subuh namun tertidur lagi karena lelah. Ada 3 orang berbadan besar aku pijat tadi malam. Ya, aku berprofesi sebagai tukang pijat. Orang terakhir kupijat hingga jam 1 malam. Lumayan, ada total 7 orang kemarin yang aku pijat. Cukuplah untukku menabung.

Asramaku sendiri terletak di sebuah pedesaan maju di pinggiran Kota Sukabumi. Aku sudah 4 tahun disini. Karena disini sekalian Pesantren umum juga.

Orangtuaku berpikir bahwa aku akan lebih bermanfaat bagi orang banyak bila belajar dan bekerja disini. Mereka selalu memberiku semangat untuk tetap berguna walau aku buta. Aku dijemput setiap akhir pekan untuk pulang ke rumahku di kota.

Aku bangun dari ranjangku. Sepi. Tampaknya Gandi, teman sekamarku sudah keluar. Dia ahli elektronik. Tangan kirinya hilang, diamputasi ketika bekerja di salah satu perusahaan elektronik International.

Aku bangun di sebelah kanan ranjangku. Kakiku turun mencari sandal. Aku berdiri, berjalan 2 langkah ke muka, balik badan ke kiri, berjalan 8 langkah, balik kanan 4 langkah, dan kutemukan pintu kamar mandi. Aku hapal setiap jengkal kamar ini. Dan memang harus begitu. Kalau tidak bisa banyak tersandung aku.

Selepas mandi, aku berjalan ke ruang Admin. Sekali lagi, aku hapal jarak-jarak langkah kesana. Bahkan hampir seluruh bangunan di Pesantren ini aku hapal. Jarak langkah, berapa jari, sudut, semua diluar kepala. Semua tampak mudah untukku.

“Hai, Hadi. Assalamualaikum.” Satu suara perempuan menyapaku.
“Wa’alaikum salam, Ibu Fatma.” Jawabku.
“Hari ini lumayan padat nih, Di. Nanti kamu akan diantar ke 3 tempat berturut-turut ya. Lalu nanti malam ada 2 lagi yang pesan pijat. Kamu sudah sarapan?” Tanya Ibu Fatma.
“Belum, Bu. Baru saja bangun selepas subuh tadi saya tertidur lagi. Baik bu, nanti saya siap-siap jam berapa?” Tanyaku.
“Jam 11 saja berangkat. Kamu makan diluar ya, nanti uang makannya saya kasih.” Jawab Ibu Fatma.

Ya, begitulah disini. Kami semua, yang normal dan tunadaksa, diberikan pendidikan, ilmu agama, keahlian, dan pekerjaan. Uang pendapatan kami bagi sama rata. Biar bagaimanapun, Pesantren ini membutuhkan dana untuk menjalankan laju operasionalnya. Itulah timbal balik kami. Kami merasa berguna disini. Dan kami wajib memberikan jasa secara profesional dan menjaga nama baik.

Aku bergerak menuju dapur. Perutku minta diisi. Ada rekanku bagian dapur, lebih senior, Kang Atep namanya. Sudah 7 tahun disini.

“Pagi, Hadi. Baru datang kamu.” Nah, itu suaranya.
Aku tersenyum, “Ya, Kang. Kebablasan tidur.” Jawabku.
“Duduk sini, Di.” Ada suara lain. Aku coba ingat-ingat. Suaranya Kang Parta.
“Kang Parta, sarapan Kang?” Tanyaku.
“Ga, lagi iseng saja. Habis pengajian Subuh, kesini ketemu Kang Atep. Eh, malah keterusan ngobrol. Sini, Di.” Jelasnya sambil mengajakku duduk.
“Iya Kang.” Aku bergerak ke arahnya. Kang Atep membawakannku sarapan nasi goreng. Aku makan, kedua temanku diam. Kami memang diajarkan untuk diam ketika makan.

Selepas makan, aku bersiap-siap. Aku akan diantar motor Pesantren. Tujuanku adalah kawasan Bhayangkara, kawasan sekolah Perwira Polisi. Langgananku banyak disini.

Aku menikmati hembusan angin sejuk Sukabumi di wajahku. Menunggu tibanya aku di tempat yang dituju. Yang mengendarai motor adalah Rizal, santri juga. Dia adalah pasanganku dalam bekerja. Sabar dan sangat pendiam. Kami berbagi rezeki dari uang pijat ini.

Tibalah aku di lokasi. Yang akan dipijat bukanlah perwira polisi, namun karyawan admin. Aku dipersilahkan masuk kedalam rumahnya. Sementara Rizal diluar, selalu begitu, walaupun dia diajak masuk.

“Pijat saja atau refleksi juga, Pak?” Tanyaku.
“Pijat saja ya. Kita mulai?” Jawab bapak itu dan sekaligus bertanya.
“Baik, silahkan bapak tidur tengkurap.” Kataku.

Bapak itu nurut, aku keluarkan minyak urut, aku campur sedikit minyak kayu putih, dan mengoleskannya ke telapak tanganku.

“Bismillah…” Dan aku mulai memijat.

Mataku memang buta, semua gelap bagiku, tapi tanganku tidak, kulitku tidak. Bagiku merekalah mataku. Mungkin sedikit aneh bila kukatakan tanganku bisa melihat, bahkan bisa tembus pandang. Tanganku bisa mengirimkan sinyal electric ke dalam otakku yang mengirimkan balik perintah ke tanganku itu. Memang begitu. Kita buktikan sekarang.

Seketika telapak tanganku menyentuh betis Bapak tadi. Seketika ada aliran listrik pelan namun serabutan yang kurasakan. Seperti ribuan kabel listrik yang terpasang acak-acakan. Tugasku adalah merapikan kabel listrik itu. Sederhana bukan.

Sensor yang masuk ke jaringan syaraf otak, dirubah menjadi perintah untuk sedikit merapatkan jemariku. Ibu jari terlipat sedikit, begitupun jemari lain. Seperti mencengkram. Ujung-ujung jari itulah yang kugunakan untuk melakukan gerakan urut di bagian betis. Semua berdasarkan tanda dari si telapak tangan. Benar kan, tanganku bisa melihat.

Itu berlaku untuk semua area pijatan. Dalam hitungan detik, cengkraman bisa berubah jadi cubitan, remasan, atau sekedar dielus pelan. Kadang lima jari digunakan, kadang hanya ibu jari yang ditekan. Semua terang bagiku.

Mengurai urat-urat dan otot-otot yang sembrawut adalah seni bagiku. Rasa panas yang muncul di awal pijatan hingga berubah menjadi hangat adalah hasil karya besarku.

Aku pulang setelah hampir satu setengah jam berkreasi dengan urat dan otot. Dan setelah selesaikan 2 lagi, aku kembali ke Pesantren.

Aku kembali jelang Magrib. Dan setelah pengajian Magrib, aku kembali ke asramaku.

Tapi sebelum sampai, aku dipanggil Bu Fatma.

“Hadi, kamu harus segera ke rumah Kyai Mahfudz. Beliau sakit. Kamu dipanggil ke rumahnya. Kyai mau kamu memijatnya.” Jelas Bu Fatma.

Kyai Mahfudz adalah salah satu sesepuh Pesantren ini. Keluarganyalah yang menjalankan Pesantren ini. Kyai kharismatik yang disegani di seluruh Kota bahkan Provinsi.

“Baik, Bu. Insya Allah.” Aku menjawab dan segera minta dicarikan Rizal.

“Sakit apa ya Kyai.” Pikirku. Dan kenapa harus aku yang kesana.

Aku tiba di rumah Kyai Mahfudz dan disambut istrinya. Nyai Kyai juga sangat kami hormati.

“Kyai di dalam, kamu temui dia ya, Hadi.” Kata Nyai.
“Baik, Nyai.” Jawabku.

Aku berjalan, dipandu Rizal. Aku masuk ke ruangan yang beraroma harum minyak Kesturi.

“Hadi, masuklah.” Suara berat yang kusuka. Suara Kyai Mahfudz.

Aku duduk disebelah ranjangnya.

“Aku sepertinya terkilir. Tangan kiriku diam tak dapat bergerak seharian ini. Sakitnya dari belakang punggung terus menjalar ke seluruh tangan. Aku yakin kamu bisa membantu mengobatiku.” Kyai Mahfudz menerangkan.

Aku terdiam. “Izinkan saya memegang Kyai.” Kataku hormat.
“Silahkan.” Jawabnya.
“Silahkan Kyai duduk.” Kataku.
Kyai Mahfudz duduk.

Aku bergerak menyusuri ranjang, meraba mencari jemari Kyai. Aku mendapatkannya.

Seketika ada aliran aneh yang masuk ke tanganku. Aliran sejuk sekali. Aku termenung. Diam sesaat. Dan detik selanjutnya semua terang.

Mataku seakan diajak menjelajah setiap jengkal tubuh Kyai. Aku bahkan merasakan sakit yang sama di tubuhku. Setiap ada kurasakan masalah di tubuh Kyai. Di bagian yang sama tubuhkupun terasa sakit yang sama.

Terang sekali kulihat. Ada gumpalan aneh tepat di punggung atas kiri Kyai Mahfudz. Jaringan ototnya berkumpul aneh. Membentuk bulatan yang membuat jaringan lainnya tertarik dan mati rasa. Ini penyakitnya.

Jemari kiriku bergerak. Kuambil jari-jari Kyai Mahfudz dulu. Sementara tangan kananku menempel di pundaknya. Memijat satu titik rongga di sambungan bahu ke lengan. Aku tekan itu, lalu kutarik jari-jari Kyai.

“Trek.” Ada bunyi pelan sekali. Bahkan mungkin hanya aku yang mendengar. Satu jaringan berhasil aku rapihkan.

Jari kiriku bergerak naik. Menuju lekuk siku. Kutekan dua titik di siku. Sementara tangan kanan masih di posisi awal. Kedua tangan saling menekan.

“Trek.. Trek..” Jaringan lain selesai.

“Boleh Kyai membuka pakaian sebentar?” Tanyaku hormat.
“Baik.” Jawab Kyai sambil membuka pakaian atasnya.

Sekarang aku bergerak ke punggung. Jemariku bergerak diatas lapisan kulit Kyai, bergerak seperti radar ranjau. Cepat, dalam rangkaian seperti menotok namun tidak menekan, inilah metode pencarianku.

Tubuh Kyai seakan memantulkan aliran ke ujung jemariku. Seperti berkata: “Ini aman.”, “Ini sakit.”. Seperti itu, terang dan jelas sekali.

Di bagian belikatnya aku rasakan hawa panas. Ini pusat sakit Kyai Mahfudz.

“Pijat titik di kakinya.” Suara kecil di kepalaku.

Nah, itulah sensor balik di terangnya pikiranku.

Aku bergerak ke arah kaki Kyai. Meraba sela antara jari telunjuk dan tengah kakinya. Aku tekan bagian bawahnya, pelan saja. Kyai sedikit meronta. Aku teruskan pijat titik itu. Lalu beberapa titik di kaki Kyai.

Aku maju ke betisnya. Lalu memijit titik tengah betisnya. Aku minta Kyai tidur tengkurap.

Seraya ibu jari tangan kananku menekan titik tengah betis Kyai. Ibu jariku yang lain menekan punggung Kyai tepat di lipatan belikatnya. Aku berdoa agar pekerjaanku dilancarkan.

Ibu jari tangan kananku bergerak ke punggung bawah Kyai. Aku gabungkan kedua ibu jariku dari titik itu dan aku urutkan dari bawah keatas.

Sensor-sensor ajaibku bekerja. Seakan bekerja diatas rangkaian kabel yang acak, aku coba luruskan kabel-kabel itu ke arah punggung atas, sampai di lipatan belikat.

“Trektek…” Suara-suara pelan terdengar di telingaku.

Di titik belikat Kyai. Aku kembangkan tanganku. Memijat menyebar dengan gerakan cepat. Meluruhkan kabel-kabel kusut di tubuh Kyai. Sensor-sensor aliran bergerak cepat di pikiranku. Aku buta, tapi aku bisa melihat terang dengan tanganku.

Aku pegang tangan Kyai. Aku pijit titik tengah telapak tangannya. Aku angkat keatas seperti anak kecil mengacungkan tangan menjawab pertanyaan. Sambil aku gunakan jari tengahku menekan titik di belikat Kyai.

“Trek!” Aku goncangkan cepat tangan mengacung itu dalam tarikan cepat.

Kyai mengaduh pelan. Selesai.

“Kyai, boleh coba gerakan tangan Kyai?” Aku bertanya. Sambil menyentuh tangan Kyai pelan. Aku kan harus tahu juga apakah tangannya bergerak atau tidak.

Ada gerakan pelan, jemarinya. Lalu lengan bawahnya, dan lengan atasnya ikut bergerak pelan. Kyai mengangkat tangan kirinya.

“Bisa bergerak, Hadi. Alhamdulillah…” Kyai Mahfudz berkata riang.
“Alhamdulillah.” Kataku juga.

“Terimakasih, anakku. Berkah dunia akherat untukmu, digampangkan rezekimu, dimudahkan semua jalan keinginanmu.” Kyai mendoakan aku yang kujawab Amin berkali-kali.

Dunia ini gelap untukku. Aku tak tahu bentuk dunia ini sama sekali. Tapi dalam beberapa hal. Aku bisa melihat lebih terang dari siapapun di dunia ini.

Gelap bagimu, terang bagiku…

*****
(Bekasi, sambil nunggu tukang pijat)

Lari, Narto…!!!

“Lari, To!”
“Cepat lari!!!”

Teriakan demi teriakan membahana di siang membara itu. Sekelilingku hanya suara keras, berserabutan dengan debu-debu yang muncul di sekelilingku.

Sesak nafasku. Tiba-tiba satu tangan keras menarik kerah bajuku.
“Lari, Narto!!! Jangan bodoh begini!!” Serunya keras tertahan.
“Uhuk uhuk.. ” Aku terbatuk. Pusing kepala ini. Aku tertarik, mencari keseimbangan, dan mengikuti arah tarikan.
“Tunggu sebentar, Nar.” Kataku pada Danar, sosok yang menarikku.
“Tunggu artinya mati. Cepat!” Katanya.
Aku diam, mulai seimbang, dan berlari.

Siang itu, di ujung Pelabuhan di Utara Jakarta. Sekelompok kuli angkut diserang preman Pelabuhan. Para preman dendam karena salah satu anggota secara tidak sengaja tersenggol motor tua salah satu kuli ketika dia tengah lari sehabis mencopet. Preman itu mati setelah senggolan motor itu membuatnya jatuh dan tergilas truk.

*****

Aku terengah-engah. Dadaku naik turun. Mulutku terbuka, dahaga. Disebelahku Danar tak kalah kusut. Dia tertunduk, menghela nafas-nafas berat.

“Mereka ma..masih meng..ngejar?” Tanyaku pada Danar tersenggal-senggal.
Danar diam, menghela nafas panjang, lalu menggeleng.
“Mana kutahu.” Jawabnya.
“Apa yang terjadi, Nar?” Tanyaku lagi.
“Diam!!! Bisakah kau simpan pertanyaanmu nanti, Narto.” Danar emosi. Mukanya merah padam. Tampak bingung sekali. Aku paham. Aku sekarang hanya bernafas.

Kami bersembunyi di salah satu sekat bekas rumah kardus. Atap kami langsung langit, panas sekali. Lari membuat dahaga semakin membara. Sekelilingku hanya sampah. Dimana mencari air?

“Cari terus!!! Habiskan!!!” Satu teriakan mengejutkan kami. Ya Tuhan, mereka datang.

Berpencar dalam jarak agak jauh. Kurang lebih 8 orang, para preman itu hanya 200m dari persembunyian kami. Gerakannya tangkas, semua memandang 8 arah berbeda. Berputar, mencari, garang sekali.

Aku memandang Danar yang juga memandangku. Persembunyian kami hanyalah sekat. Di depan kami lapang luas. Bila kami berlari, maka terlihatlah kami. Perkampungan ada didepan sana. Bila masuk perkampungan, amanlah kami. Pilihannya hanya lari.

Danar menggertakan giginya. Terlihat sudah pikirannya kalut. Akupun juga. Terjebak dalam pertanyaan: Ada apa? Kenapa?

“Kita harus lari, Nar. Mereka makin dekat.” Kataku pelan.
Danar diam. Matanya lurus menatap mataku. Dan tanpa ada komando, Danar bangkit dan berlari meninggalkanku.

“Itu!” Satu suara datang. “Kejar dia!” Suara yang lain.

Danar sudah 15m didepanku. Aku panik, sendirian. Detik-detik yang begitu lama. Aku bingung.

Suara-suara langkah kaki beradu hembusan angis panas dan debu jalanan mendekat.

Aku panik, dan tanpa pikir panjang, aku berdiri, bingung memutar arah, aku berlari. Hanya lari. Tak tahu kemana.

Arah tak lagi aku kenal. Danar kemana, aku tidak tahu. Aku panik sangat. Aku hanya berlari.

Mereka mengejar. Berteriak menyurutkan nyali. Aku yang paling dekat dengan mereka.

Aku lari dan terus berlari. Pikirannku kemana-mana. Pikiranku tiba-tiba tertuju pada satu titik…

“Pak, Bu. Narto takut.” Pikiranku kalut. Muka Bapak dan Ibu jauh disana memenuhi kepalaku.

Aku tak melihat jalan, aku hanya berlari. Lalu aku tersandung. Dan jatuh.

Badanku terbentur kerasnya jalan. Dan mereka semakin dekat. Jarak 70m dibelakangku.

“Bangun, Narto.” Ada suara di otakku.
“Bangun, larilah.” Suara lain yang sangat kukenal.

Aku cari arah suara, didepan sana. Ya didepan sana. Dalam putaran pening kepala, kulihat Bapak dan juga Ibu. Tangan Ibu merentang, sementara Bapak disebalahnya memanggilku.

“Pak, Bu.” Aku berseru pelan.

Aku bangkit, berdiri, dan lanjut berlari.

Aku berlari kearah mereka, tanganku tergapai. Mencoba segera menyentuh mereka.

Namun aku melambat. Ada lemas dikakiku. Ada rasa lain di kepalaku. Kenapa tiba-tiba begini. Aku melemah. Lariku semakin lambat, lambat, lambat, diam, berhenti, lalu tersungkur.

Badanku kembali menyentuh bumi. Coba mencerna apa yang terjadi. Pikiranku hanya berputar. Ada rasa panas menjalar dan lama-lama terasa perih, dan semakin perih.

Tanah membasah. Keringat? Bukan. Ini merah. Mataku yang mengintip melihat kebawah. Ada merah di perut kiriku. Basah. Aku berdarah. Perih sekali.

“Uhuk…” Aku terbatuk. Merah juga. Aku semakin lemah.

Darah itu semakin banyak, tak kuasa aku membendungnya. Rasa perih di perutku berubah rasa panas luar biasa. Jemariku kaku, memutih. Aku sekarat.

“Tidurlah, Narto.” Suara pelan terdengar di telingaku. Aku coba membuka mataku yang berat sekali. Dalam keremangan putih cahaya. Aku melihat Ibuku, aku melihat Bapakku. Dua orang yang sangat kucintai dan sangat kurindukan.

“Pak, Bu. Narto pulang.” Melemahku, seiring jalaran rasa dingin dari jemari kakiku dan bergerak ke arah perutku lalu tenggorokanku.

Aku berhenti berlari. Dan tak akan berlari lagi…